Adab dan Ibadah

Adab Bertanya kepada Guru agar Ilmu Lebih Mudah Dipahami

Pertanyaan yang jelas, diajukan pada waktu dan jalur yang tepat, memudahkan guru menjawab. Tersedia contoh kalimat untuk majelis, pesan tertulis, dan kelas daring.

Ilustrasi AI: Suasana majelis di ruang berpustaka: seorang laki-laki berpeci hitam mengangkat tangan dari barisan duduk, pengajar berpeci duduk di depan rak buku, dan jamaah perempuan berkerudung duduk di sisi kanan.
Ilustrasi AI: Mengangkat tangan lalu menunggu dipersilakan adalah cara sederhana menjaga giliran di majelis.

Banyak murid menyimpan pertanyaan sampai pertanyaan itu hilang sendiri. Ada yang takut dianggap bodoh, ada yang khawatir menyinggung guru, ada pula yang tidak tahu cara merumuskan kebingungannya. Di sisi lain, sebagian orang bertanya dengan sangat mudah, tetapi pertanyaannya panjang, melebar, atau diajukan pada saat yang kurang tepat, sehingga jawabannya tidak membantu siapa pun.

Adab bertanya kepada guru berada di antara dua keadaan itu. Adab di sini berarti tata krama dan sikap batin yang pantas dalam suatu hubungan, dalam hal ini hubungan antara murid dan guru. Tulisan ini membahasnya dalam urutan yang dialami seorang murid: menyiapkan pertanyaan, menyampaikannya di majelis atau melalui pesan, bertanya secara kritis tanpa merendahkan, lalu menindaklanjuti jawaban. Di beberapa bagian disertakan contoh kalimat yang dapat disesuaikan.

Pertanyaan yang baik dimulai sebelum diucapkan

Ilustrasi AI: Dua lembar kertas melengkung berwarna hijau tua dan krem berdiri berhadapan hampir bersentuhan di atas meja kayu, dengan selembar kartu kosong, pensil, dan buku bersampul hijau di depannya.
Ilustrasi AI: Dua lembar yang saling mendekat dan satu kartu kosong: pertanyaan yang baik biasanya ditulis dan disiapkan sebelum percakapan dimulai.

Sebagian besar kualitas pertanyaan ditentukan sebelum murid membuka mulut. Persiapan tidak harus lama. Lima menit untuk menuliskan kebingungan di kertas sering sudah cukup untuk mengubah pertanyaan yang kabur menjadi pertanyaan yang dapat dijawab.

Mulailah dengan memeriksa apa yang sebenarnya sudah Anda pahami. Bila pertanyaan muncul dari kajian, baca ulang catatan atau bagian buku yang dibahas. Kadang jawaban ternyata sudah disampaikan dan hanya terlewat. Bila belum, tandai kalimat yang membuat bingung. Setelah itu, rumuskan titik kebingungan dalam satu kalimat. Tambahkan konteks hanya bila konteks itu dapat mengubah jawaban, misalnya keadaan sakit, perjalanan, atau mazhab yang biasa diikuti di lingkungan Anda.

Perbedaan antara pertanyaan yang kabur dan pertanyaan yang jelas terlihat dalam beberapa contoh berikut.

  • Pertanyaan “Ustaz, bagaimana soal salat?” terlalu luas. Versi yang lebih jelas: “Tadi Ustaz menjelaskan bahwa gerakan tertentu termasuk rukun salat. Apakah yang dimaksud rukun adalah bagian yang tidak boleh ditinggalkan?”
  • Pertanyaan “Kenapa pendapat Ustaz beda dengan video yang saya tonton?” terdengar menantang. Versi yang lebih jernih: “Saya pernah mendengar penjelasan lain tentang masalah ini. Apakah perbedaan itu termasuk perbedaan pendapat di antara ulama?”
  • Pertanyaan yang berisi cerita panjang tentang keluarga sebaiknya dipadatkan menjadi pokok masalahnya, lalu disampaikan secara pribadi bila menyangkut orang lain.

Kebiasaan sederhana yang membantu adalah menyiapkan kartu pertanyaan. Di satu sisi kartu, tulis pertanyaan dalam satu kalimat. Di sisi lain, tulis sumber kebingungan, misalnya judul buku dan halaman atau tanggal kajian, serta apa yang sudah Anda coba pahami sendiri. Kartu itu dibawa ke majelis. Bila kesempatan bertanya datang, Anda tidak perlu mengarang kalimat di tempat. Bila kesempatan tidak datang, kartu itu tetap tersimpan untuk pertemuan berikutnya.

Pisahkan pula rasa ingin tahu dari kebutuhan mendesak. Pertanyaan yang lahir dari rasa ingin tahu dapat menunggu sesi tanya jawab berikutnya. Pertanyaan yang menyangkut ibadah yang akan segera dilakukan, misalnya cara bersuci dalam keadaan tertentu, layak diajukan lebih cepat melalui jalur yang disediakan pengajar.

Al-Qur’an tentang bertanya dan batas penafsirannya

Salah satu ayat yang lazim dikutip dalam pembahasan tentang bertanya adalah QS An-Naḥl/16: 43. Bagian akhir ayat itu berbunyi sebagai berikut dalam terjemahan Kementerian Agama:

“Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

QS An-Naḥl/16: 43, terjemahan Kementerian Agama.

Terjemahan tersebut memberi catatan kaki bahwa yang dimaksud adalah orang yang mempunyai pengetahuan tentang nabi dan kitab-kitab. Tafsir Wajiz Kementerian Agama menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada orang yang meragukan keesaan Allah dan tidak mengetahui tuntunan-Nya, agar bertanya kepada orang yang mempunyai pengetahuan tentang nabi dan kitab-kitab Allah. Jadi, konteks langsung ayat ini berkaitan dengan keraguan terhadap para rasul. Pelajaran umum bahwa orang yang tidak tahu sebaiknya bertanya kepada orang yang berpengetahuan sering diambil dari ayat ini, tetapi konteks aslinya tetap perlu disebutkan.

QS Al-Mā’idah/5: 101 memberi sisi lain. Terjemahan Kementerian Agama bagian awalnya berbunyi, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu (niscaya) menyusahkan kamu.” Tafsir Tahlili Kementerian Agama menjelaskan bahwa larangan itu terkait pertanyaan yang jawabannya akan memberatkan si penanya sendiri, apalagi bila pertanyaan dimaksudkan untuk menguji Nabi. Tafsir yang sama juga menyebut bahwa pertanyaan tentang sesuatu yang belum jelas dan memang perlu dijawab untuk memahami isi ayat dibolehkan, bahkan kita disuruh bertanya jika ada hal yang belum dipahami, lalu mengutip QS An-Naḥl/16: 43.

Kedua ayat ini tidak dimaksudkan sebagai aturan tata tertib kelas. Namun, penjelasan para penafsir membantu memahami arah adab bertanya: bertanya untuk memahami adalah hal yang baik, sedangkan bertanya untuk menguji, mengejek, atau mencari-cari beban yang tidak perlu adalah hal yang dihindari.

Di majelis: menunggu giliran dan membaca suasana

Majelis ilmu mempunyai suasana dan aturannya sendiri. QS Al-Mujādalah/58: 11 berisi perintah memberi kelapangan di dalam majelis. Tafsir Tahlili Kementerian Agama pada ayat itu mencatat pendapat ulama bahwa orang yang hadir dalam suatu majelis hendaklah mematuhi ketentuan yang berlaku di majelis tersebut atau mematuhi orang yang mengaturnya. Bagi penanya, ketentuan itu biasanya berupa waktu tanya jawab, cara mengajukan pertanyaan, dan batas jumlah pertanyaan.

Tanya jawab dan diskusi juga tercantum di antara metode pengajaran dalam Pasal 17 PMA 29/2019, yaitu peraturan menteri agama yang mengatur majelis taklim. Artinya, bertanya adalah bagian yang wajar dari kajian, bukan gangguan. Yang perlu diperhatikan adalah cara dan waktunya.

Sebuah berita Kanwil Kemenag Kalimantan Selatan dari Februari 2025 memuat amanat pembina apel di MIN 19 Hulu Sungai Utara tentang adab belajar yang dikaitkan dengan ajaran Imam al-Ghazali. Beberapa butir yang disebut dalam berita itu berkaitan langsung dengan bertanya: meminta izin sebelum bertanya, tidak mendahului guru dalam menjawab, tidak memotong pembicaraan guru, dan tidak terlalu banyak bertanya bila guru enggan menjawab. Berita itu adalah contoh pesan pendidikan untuk murid madrasah, bukan dalil atau ketetapan, tetapi butir-butirnya mudah diterjemahkan ke majelis orang dewasa.

  • Tunggu sampai pengajar membuka sesi tanya jawab, atau angkat tangan dan tunggu dipersilakan.
  • Bila ada kertas pertanyaan, tulis dengan tulisan yang terbaca dan satu pertanyaan saja. Pertanyaan yang ringkas lebih mungkin terbaca dan terjawab.
  • Sampaikan pertanyaan tanpa pembukaan yang terlalu panjang. Salam dan satu kalimat pengantar sudah cukup.
  • Bila waktu hampir habis, relakan pertanyaan Anda untuk disampaikan pada kesempatan lain atau secara pribadi sesudah kajian.

Di banyak majelis, jamaah laki-laki dan perempuan duduk di bagian yang terpisah, dan sebagian peserta berada jauh dari pengajar. Peserta yang duduk di belakang atau di balik pembatas tidak perlu merasa kehilangan hak bertanya. Kertas pertanyaan yang diteruskan melalui pengurus, atau pengeras suara yang disediakan panitia, adalah jalan yang sama sahnya dengan mengangkat tangan di barisan depan.

Membaca suasana juga termasuk adab. Pengajar yang tampak lelah setelah kajian panjang mungkin lebih nyaman menjawab pada pertemuan berikutnya. Pertanyaan yang tampaknya hanya relevan bagi Anda seorang dapat disampaikan setelah majelis selesai, agar waktu bersama dipakai untuk hal yang bermanfaat bagi lebih banyak orang.

Lewat pesan tertulis

Banyak pengajar kini dapat dihubungi melalui aplikasi pesan. Kemudahan ini membawa tanggung jawab baru. Pesan pribadi bukan layanan konsultasi yang selalu siap, dan pengajar berhak menentukan kapan serta bagaimana ia menjawab. Bila pengajar menyediakan jalur khusus, seperti grup tanya jawab atau formulir, gunakan jalur itu lebih dahulu.

Pesan yang baik biasanya memuat empat hal: perkenalan singkat bila pengajar belum mengenal Anda, sumber pertanyaan, pertanyaan itu sendiri, dan ucapan terima kasih tanpa mendesak. Contoh berikut dapat disesuaikan.

“Assalamu’alaikum, Ustazah. Saya peserta kajian Sabtu pagi di masjid kompleks. Pada kajian kemarin dibahas bab tentang wudu. Saya belum paham apakah mengusap kepala cukup sebagian atau harus seluruhnya menurut buku yang kita pakai. Bila Ustazah berkenan, mohon penjelasannya kapan pun sempat. Terima kasih.”

Contoh pesan rekaan.

Tulis pesan dengan ejaan yang wajar dan tanda baca yang cukup. Singkatan yang biasa dipakai di antara teman sebaya dapat terasa kurang sopan bagi sebagian pengajar, dan pesan tanpa tanda baca lebih sulit dipahami. Bila pertanyaan menyangkut halaman buku, sebutkan judul dan nomor halamannya, atau lampirkan foto halaman tersebut, agar pengajar tidak perlu menebak bagian yang Anda maksud.

Hindari mengirim beberapa pesan beruntun dalam waktu singkat, pesan suara yang panjang tanpa izin, atau pesan pada larut malam kecuali untuk hal yang benar-benar mendesak. Bila jawaban belum datang, tunggulah beberapa hari sebelum mengirim pengingat yang santun. Bila tetap tidak dijawab, carilah kesempatan bertanya secara langsung atau kepada pengajar lain tanpa menyimpulkan bahwa Anda diabaikan.

Bertanya di grup percakapan majelis

Banyak majelis di kompleks perumahan atau di kantor mempunyai grup percakapan yang beranggotakan pengajar, pengurus, dan jamaah. Grup semacam itu memudahkan pengumuman, tetapi pertanyaan di dalamnya dibaca oleh puluhan orang sekaligus. Sebelum bertanya, gulir dulu percakapan beberapa hari terakhir. Bisa jadi pertanyaan yang sama sudah diajukan dan dijawab.

Bila pertanyaan belum pernah muncul, tulis dalam satu pesan yang utuh dan sebutkan kajian yang menjadi sumbernya. Menandai nama pengajar berulang kali tidak membuat jawaban datang lebih cepat. Hindari pula meneruskan pesan berantai dari grup lain lalu meminta pengajar menilai kebenarannya tanpa menyebut asal pesan itu. Pertanyaan yang menyangkut keadaan keluarga atau kesehatan sebaiknya tetap dikirim melalui jalur pribadi, sebagaimana dibahas pada bagian tentang keadaan pribadi di bawah.

Kelas daring dan siaran langsung

Kajian yang disiarkan langsung membawa bentuk bertanya yang lain: kolom komentar, fitur angkat tangan, atau formulir yang dibaca moderator. Di ruang seperti itu, pertanyaan dibaca oleh ratusan orang yang tidak saling mengenal, dan tulisan yang singkat mudah disalahpahami.

Ikuti aturan yang diumumkan penyelenggara. Bila ada moderator, biarkan moderator memilih dan membacakan pertanyaan. Menulis pertanyaan yang sama berulang kali di kolom komentar tidak mempercepat jawaban dan justru menenggelamkan pertanyaan peserta lain. Tulis dengan kalimat lengkap dan hindari singkatan yang hanya dipahami kelompok tertentu.

Ingat pula bahwa kolom komentar pada siaran terbuka bersifat publik dan sering tersimpan. Jangan menulis nama orang lain, detail keluarga, atau keadaan kesehatan yang dapat membuat seseorang dikenali. Untuk pertanyaan semacam itu, gunakan jalur pribadi bila penyelenggara menyediakannya. Pada kelas rekaman yang tidak memungkinkan tanya jawab langsung, simpan pertanyaan di catatan dan bawa ke majelis tatap muka atau kepada pengajar yang dapat dihubungi.

Ketika pengajar berkata “saya belum tahu”

Sebagian murid kecewa ketika pengajar tidak langsung menjawab dan justru berkata perlu memeriksa lebih dahulu. Padahal, jawaban seperti itu adalah tanda kehati-hatian. QS Al-Isrā’/17: 36 dalam terjemahan Kementerian Agama berbunyi, “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” Salah satu penjelasan dalam Tafsir Wajiz Kementerian Agama untuk bagian itu adalah larangan mengatakan sesuatu yang tidak diketahui.

Pengajar yang menunda jawaban sedang menjaga agar ia tidak berbicara tanpa pengetahuan. Murid dapat menghargainya dengan tidak mendesak jawaban instan, apalagi untuk persoalan yang rumit. Kesediaan menunggu juga melindungi murid dari jawaban tergesa-gesa yang mungkin harus diralat kemudian.

Sikap yang sama berlaku bagi murid. Ketika teman bertanya kepada Anda tentang hal yang belum Anda pahami betul, lebih jujur berkata “saya belum tahu, nanti saya tanyakan” daripada menjawab berdasarkan dugaan.

Menanyakan keadaan pribadi

Sebagian pertanyaan tidak dapat dilepaskan dari cerita pribadi: masalah rumah tangga, utang, penyakit, atau konflik dengan orang tua. Pertanyaan seperti itu sebaiknya tidak diajukan di depan umum, apalagi bila cerita itu memungkinkan orang lain dikenali. Menceritakan kesalahan anggota keluarga di hadapan jamaah dapat membuka aib yang semestinya dijaga.

Mintalah waktu berbicara secara pribadi, atau sampaikan pokok masalahnya tanpa menyebut nama dan detail yang tidak diperlukan. Bila pengajar merasa masalahnya di luar keahliannya, misalnya menyangkut hukum negara, kesehatan jiwa, atau kekerasan dalam rumah tangga, ia mungkin akan menyarankan Anda menemui pihak lain. Saran semacam itu adalah bentuk tanggung jawab, bukan penolakan.

Pengajar kadang balik bertanya untuk memahami keadaan Anda sebelum menjawab. Jawablah dengan jujur dan secukupnya. Menyembunyikan fakta penting agar mendapat jawaban yang diharapkan hanya akan menghasilkan nasihat yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Prinsip yang sama berlaku ketika Anda meneruskan cerita orang lain untuk ditanyakan. Mintalah izin orang yang bersangkutan, atau ubah ceritanya sehingga tidak dapat dikenali. Batas antara bercerita dan membuka aib, terutama ketika cerita itu diketik lalu dikirim, menjadi pokok tulisan tentang privasi dan aib di ruang digital.

Bertanya kritis tanpa merendahkan

Di antara adab belajar yang disebut dalam berita Kanwil Kemenag Kalimantan Selatan tadi terdapat butir tidak menyangkal perkataan guru. Butir ini sering disalahpahami seolah-olah murid tidak boleh meminta penjelasan atau dasar dari suatu pendapat. Meminta penjelasan berbeda dengan menyangkal. Murid yang bertanya “Apa dasar dari penjelasan tadi?” sedang berusaha memahami, sedangkan murid yang berkata “Itu salah” di tengah kajian sedang membantah.

Pertanyaan kritis dapat disampaikan dengan cara yang menjaga kehormatan kedua pihak. Fokuskan pada gagasan, bukan pada orangnya. Sampaikan apa yang Anda ketahui sebagai bahan, bukan sebagai senjata. Beberapa rumusan berikut dapat dipakai.

  • “Saya ingin memahami lebih jauh. Apakah ada ayat atau kitab yang bisa saya baca tentang hal ini?”
  • “Saya pernah membaca penjelasan yang agak berbeda di buku lain. Bagaimana sebaiknya saya memahami perbedaan itu?”
  • “Apakah penjelasan tadi berlaku untuk semua keadaan, atau ada keadaan tertentu yang dikecualikan?”

Hindari pertanyaan yang sebenarnya bertujuan mempermalukan pengajar di depan jamaah atau menguji apakah ia tahu jawabannya. Penjelasan Tafsir Tahlili tentang QS Al-Mā’idah/5: 101 di atas mengingatkan bahwa pertanyaan yang bersifat menguji termasuk yang dihindari. Bila Anda benar-benar yakin ada kekeliruan, sampaikan secara pribadi dengan santun dan sertakan rujukannya.

Ketika jawaban berbeda dari yang pernah Anda dengar

Murid yang belajar dari lebih dari satu sumber cepat atau lambat akan menemukan jawaban yang berbeda untuk pertanyaan yang sama. Sebagian perbedaan muncul karena pertanyaan yang diajukan sebenarnya tidak sama. Sebagian lagi merupakan perbedaan pendapat di antara ulama yang sudah lama dikenal.

Langkah pertama adalah memeriksa apakah kedua jawaban memang menjawab pertanyaan yang sama dalam keadaan yang sama. Langkah kedua adalah meminta guru yang paling sering membimbing Anda menjelaskan asal perbedaan tersebut, tanpa mengadu satu pengajar dengan pengajar lain. Kalimat seperti “Ustaz A bilang begini, bagaimana menurut Ustaz?” mudah terdengar seperti upaya mencari pertentangan. Lebih baik menyampaikan pendapat lain itu sebagai bahan yang ingin dipahami. Pembaca yang ingin memahami mengapa ulama dapat berbeda pendapat bisa melanjutkan ke adab menyikapi khilafiyah.

Bila perbedaan itu datang dari potongan video atau tangkapan layar yang beredar, periksa lebih dahulu apakah potongan itu utuh dan sumbernya jelas. Pertanyaan yang dibangun di atas kutipan yang terpotong akan menghasilkan diskusi yang keliru sejak awal. Kebiasaan memeriksa kabar sebelum mempercayainya menjadi pokok tulisan tabayun informasi di media sosial.

Mengajari anak berani bertanya

Kebiasaan bertanya dengan santun sering terbentuk sejak kecil, di taman pendidikan Al-Qur’an atau di kelas madrasah. Anak yang terbiasa dimarahi ketika bertanya cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang menyimpan kebingungannya. Sebaliknya, anak yang dibiarkan menyela kapan saja belum belajar menghargai giliran dan waktu orang lain.

Orang tua dapat membantu dari rumah. Ajak anak menceritakan apa yang dipelajarinya hari itu, lalu tanyakan bagian mana yang belum ia pahami. Latih cara menyampaikannya: mengangkat tangan, menunggu dipersilakan, lalu bertanya dengan kalimat pendek. Bila anak malu, ia dapat menulis pertanyaannya di kertas kecil untuk diberikan kepada guru setelah kelas.

Pertanyaan anak kadang terdengar polos atau aneh, misalnya tentang hal-hal gaib atau tentang alasan sebuah perintah. Tanggapi dengan tenang. Bila orang tua tidak tahu jawabannya, akui hal itu dan ajak anak bertanya bersama kepada guru. Anak belajar dua hal sekaligus: bahwa bertanya itu wajar, dan bahwa orang dewasa pun perlu bertanya kepada yang lebih tahu.

Bertanya dalam keadaan yang berbeda-beda

Adab bertanya yang sama dapat dijalankan dengan cara yang berbeda menurut keadaan penanya. Beberapa contoh berikut dapat menjadi bahan pertimbangan.

Mualaf yang merasa pertanyaannya terlalu dasar

Orang yang baru memeluk Islam sering menyimpan pertanyaan tentang hal-hal yang dianggap semua orang sudah tahu, misalnya urutan wudu atau arti bacaan dalam salat. Rasa sungkan ini dapat diatasi dengan meminta satu pendamping tetap, lalu menyampaikan bahwa Anda masih belajar dari awal. Pengajar yang mengetahui latar belakang penanya dapat memilih penjelasan yang sesuai tanpa membuatnya merasa dihakimi. Pendamping itu juga dapat membantu memilah pertanyaan yang mendesak dari pertanyaan yang dapat menunggu.

Jamaah lanjut usia dan penyandang disabilitas

Jamaah lanjut usia yang pendengarannya mulai berkurang dapat meminta tempat duduk di dekat pengajar atau pengeras suara. Bila jawaban belum terdengar jelas, tidak ada salahnya meminta pengajar mengulang bagian penting dengan sopan. Jamaah tuli atau yang sulit berbicara dapat mengajukan pertanyaan tertulis dan menanyakan kepada pengurus bantuan apa yang dapat disediakan. Pertanyaan tertulis semacam itu sama berharganya dengan pertanyaan lisan.

Pekerja shift dan kajian di kantor

Pekerja yang jadwalnya berganti-ganti sering tidak dapat hadir pada sesi tanya jawab. Pertanyaan dapat dititipkan kepada teman yang hadir, asalkan ditulis dengan jelas dan tidak memuat urusan pribadi orang lain. Bila pengurus mengizinkan rekaman kajian, dengarkan dulu rekaman itu untuk memastikan pertanyaan tersebut belum dijawab. Pada kajian singkat di kantor sesudah zuhur, waktunya biasanya dibatasi jam kerja. Pilih satu pertanyaan yang paling penting, dan simpan sisanya untuk disampaikan lewat jalur yang disediakan pengajar.

Sesudah pertanyaan dijawab

Adab bertanya tidak berakhir ketika jawaban diterima. Ucapkan terima kasih, baik secara langsung maupun melalui pesan singkat. Catat jawabannya dengan menyebut nama pengajar, tanggal, dan konteks pertanyaan. Catatan itu berguna untuk diri sendiri dan mencegah Anda mengingat jawaban secara keliru.

Berhati-hatilah ketika meneruskan jawaban kepada orang lain. Jawaban yang diberikan untuk keadaan Anda belum tentu cocok untuk keadaan orang lain. Bila ingin membagikan, sebutkan konteks pertanyaannya dengan jelas. Bila ingin merekam penjelasan pengajar, mintalah izin lebih dahulu dan jelaskan untuk apa rekaman itu dipakai.

Bila jawaban membuka pertanyaan lanjutan, simpan dulu dan ajukan pada kesempatan berikutnya setelah Anda mencoba memahaminya sendiri. Rangkaian pertanyaan yang diajukan bertahap selama beberapa pekan sering menghasilkan pemahaman yang lebih utuh daripada sepuluh pertanyaan yang ditumpahkan dalam satu kesempatan. Pengajar juga dapat melihat perkembangan Anda dari pertanyaan-pertanyaan itu.

Bagian terpenting adalah mengamalkan apa yang sudah dipahami. Sebagai contoh pemberitaan tentang pesan pendidikan, sebuah berita Kanwil Kemenag Kalimantan Selatan dari 2019 memuat amanat pembina upacara di MTsN 5 Barito Kuala yang meminta murid mendengarkan dengan saksama ketika guru menjelaskan. Mendengarkan dengan saksama dan mengamalkan jawaban adalah cara paling sederhana untuk menghargai waktu yang telah diberikan guru. Murid yang baru mulai dan belum mempunyai majelis tetap dapat memakai rencana dua belas pekan dalam cara belajar Islam untuk pemula.

Keraguan seputar bertanya

Apakah bertanya kritis berarti kurang beradab?

Tidak. Pertanyaan kritis yang disampaikan dengan santun, berfokus pada gagasan, dan bertujuan memahami termasuk bagian dari belajar. Yang perlu dihindari adalah niat menguji atau merendahkan.

Pesan pribadi kepada pengajar: pantas atau tidak?

Pantas, selama pengajar tidak keberatan, tetapi utamakan jalur yang ia sediakan. Pesan pribadi sebaiknya ringkas, sopan, dan tidak mendesak.

Pertanyaan saya tidak kunjung dijawab. Apa langkah berikutnya?

Tunggu beberapa hari, lalu kirim pengingat yang santun atau tanyakan pada pertemuan berikutnya. Anda juga dapat bertanya kepada pengajar lain yang kompeten tanpa menuduh pengajar pertama mengabaikan Anda.

Bolehkah merekam jawaban pengajar?

Mintalah izin lebih dahulu dan jelaskan tujuan rekaman. Bila pengajar atau pengurus majelis menolak, hormati keputusan itu dan cukup buat catatan tertulis.

Saya malu karena pertanyaan saya terlalu dasar. Bagaimana sebaiknya?

Pertanyaan dasar sering juga dimiliki peserta lain yang tidak berani bertanya. Bila tetap merasa malu, tulis pertanyaan di kertas atau sampaikan secara pribadi setelah kajian.

Saya meragukan jawaban yang diberikan. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Catat jawaban beserta alasannya, pelajari rujukan yang disebutkan, lalu tanyakan kembali secara pribadi dengan santun. Bila keraguan menyangkut keputusan penting, mintalah pertimbangan dari ulama lain yang kompeten.

Rujukan untuk bagian-bagian di atas