Orang yang pertama kali mengikuti kajian sering tersandung bukan pada gagasannya, melainkan pada kata-katanya. Pengajar menyebut tafsir, fikih, mazhab, atau khilafiyah dengan lancar, karena kata-kata itu sudah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari di majelis. Bagi pendengar baru, setiap istilah yang tidak dipahami menjadi celah kecil, dan beberapa celah dalam satu jam kajian cukup untuk membuat seluruh penjelasan terasa kabur.
Glosarium ini memuat dua puluh istilah dalam kajian Islam yang lazim terdengar di majelis dan pengajian berbahasa Indonesia. Istilah-istilah itu dikelompokkan menjadi empat bagian menurut fungsinya: kata-kata seputar membaca Al-Qur’an, kata-kata seputar memahami sumber, kata-kata seputar hukum dan perbedaan pendapat, serta kata-kata tentang keyakinan, sikap, dan ruang belajar. Setiap penjelasan dibuat ringkas, dan sebagian disertai contoh pemakaian atau catatan tentang batasnya.
Cara memakai glosarium ini

Daftar ini tidak perlu dihafal dari atas sampai bawah. Lebih berguna bila dibuka ketika sebuah istilah muncul di kajian atau di buku yang sedang dibaca. Setelah menemukan penjelasannya, kembalilah ke kalimat tempat istilah itu muncul dan periksa apakah maknanya cocok. Bila tidak cocok, kemungkinan besar istilah itu dipakai dalam arti yang lebih khusus, dan itulah saat yang tepat untuk bertanya.
Sebagian besar istilah di bawah ini berasal dari bahasa Arab dan sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan ejaan yang beragam. Ejaan yang dipakai di sini mengikuti bentuk yang umum dalam tulisan berbahasa Indonesia, sedangkan variasi ejaannya dibahas di bagian tersendiri. Urutan istilah dalam setiap kelompok mengikuti alur belajar, misalnya dari mushaf sebagai benda yang dibaca menuju kegiatan membaca bersama, bukan menurut abjad.
Glosarium ini juga dapat dipakai bersama buku catatan. Ketika sebuah istilah dijelaskan pengajar dengan cara yang sedikit berbeda dari penjelasan di sini, catat keduanya. Perbedaan kecil itu sering menunjukkan bahwa pengajar sedang memakai istilah dalam arti yang lebih khusus untuk bab yang dibahas. Dengan membandingkan keduanya, pemahaman menjadi lebih tajam daripada bila hanya mengandalkan satu sumber.
Kelompok pertama: seputar membaca Al-Qur’an
Lima istilah pertama biasanya muncul di kelas mengaji, di kegiatan masjid, dan di pengumuman kegiatan Ramadan. Kelimanya berkaitan dengan kegiatan membaca, tetapi masing-masing menunjuk sisi yang berbeda.
- Mushaf
-
Kata ini menunjuk Al-Qur’an dalam bentuk tertulis atau tercetak yang dapat dibaca dan dipegang. Istilah tersebut dipakai untuk membedakan wujud fisik kitab dari Al-Qur’an sebagai firman Allah. Di Indonesia dikenal Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama menerbitkan buku tanya jawab tentang sejarah, ciri-ciri, dan layanan pentashihan mushaf tersebut. Pentashihan adalah pemeriksaan dan pengesahan kesesuaian teks mushaf sebelum diterbitkan.
- Tilawah
-
Artinya membaca Al-Qur’an, biasanya dengan tartil atau tempo yang tenang. Dalam percakapan sehari-hari, orang berkata “tilawah harian” untuk menyebut porsi bacaan yang dilakukan secara rutin. Istilah ini juga dipakai untuk lomba membaca Al-Qur’an dengan lagu, sehingga konteks kalimat perlu diperhatikan.
- Tajwid
-
Dalam ilmu tajwid dipelajari cara melafalkan huruf-huruf Al-Qur’an dengan benar, termasuk tempat keluarnya huruf, panjang pendek bacaan, dengung, dan cara berhenti. Ketika pengajar berkata “bacaanmu belum sesuai tajwid”, maksudnya ada aturan pelafalan yang belum terpenuhi, bukan bahwa bacaan itu tidak bernilai. Tajwid lebih mudah dikuasai dengan mendengar dan dikoreksi langsung oleh guru.
- Tahsin
-
Asal katanya berarti memperbaiki atau memperindah. Dalam contoh pemberitaan Kanwil Kemenag Aceh tahun 2022, Kepala Kantor Kementerian Agama Aceh Selatan menjelaskan tahsin sebagai tuntutan agar bacaan Al-Qur’an benar dan tepat sesuai contohnya. Kelas tahsin biasanya ditujukan bagi orang yang sudah dapat membaca tetapi ingin memperbaiki ketepatan bacaannya.
- Tadarus
-
Secara bahasa, istilah ini berarti belajar atau saling belajar. Dalam berita yang sama, tadarus dijelaskan sebagai membaca Al-Qur’an bersama-sama sambil membetulkan lafal dan mengungkapkan maknanya. Di banyak tempat, tadarus dikenal sebagai kegiatan membaca bergiliran di masjid pada malam-malam Ramadan. Pada praktik semacam itu, pembahasan makna tidak selalu dilakukan, sehingga pengertian dalam berita tadi menggambarkan bentuk tadarus yang lebih lengkap.
Kelompok kedua: seputar memahami sumber
Kelompok kedua berisi istilah yang muncul ketika pengajar berpindah dari cara membaca ke cara memahami. Istilah-istilah ini sering dipertukarkan dalam percakapan, padahal perbedaannya cukup penting.
- Terjemahan
-
Yang dimaksud ialah pemindahan arti ayat ke dalam bahasa sasaran dengan kalimat yang padat. Terjemahan Al-Qur’an berbahasa Indonesia yang diterbitkan Kementerian Agama telah mengalami beberapa kali penyempurnaan. Katalog Pustaka Lajnah, misalnya, memuat Al-Qur’an dan Terjemahannya Edisi Penyempurnaan 2019 yang disusun oleh Tim Penyempurnaan Terjemahan Al-Qur’an. Karena ada beberapa edisi, sebutkan sumber dan tanggal ketika mengutip terjemahan.
- Tafsir
-
Penjelasan tentang makna ayat, termasuk konteks turunnya, hubungan dengan ayat lain, dan uraian bahasanya, disebut tafsir. Kata ini juga dipakai untuk menyebut karya yang berisi penjelasan tersebut. Untuk setiap ayat, portal Qur’an Kementerian Agama menampilkan dua jenis tafsir, yaitu Tafsir Wajiz yang ringkas dan Tafsir Tahlili yang menguraikan ayat lebih rinci. Katalog Pustaka Lajnah juga memuat kategori Tafsir Ilmi dan Tafsir Tematik.
- Tadabur
-
Merenungkan ayat untuk memetik pelajaran adalah inti tadabur. Dalam berita Kanwil Kemenag Aceh, tadabur dijelaskan sebagai memahami makna lafaz Al-Qur’an, memikirkan kandungannya, patuh terhadap perintahnya, dan mengambil pelajaran darinya. Bentuk kata kerjanya muncul dalam terjemahan Kementerian Agama untuk QS An-Nisā’/4: 82: “Tidakkah mereka menadaburi Al-Qur’an?” Tadabur tidak sama dengan tafsir. Contoh penerapannya, termasuk catatan yang memisahkan renungan dari tafsir, ada di cara membuat catatan tadabur.
- Hadis
-
Riwayat tentang perkataan, perbuatan, atau persetujuan Nabi Muhammad dinamakan hadis. Kedudukannya sebagai sumber ajaran Islam berada setelah Al-Qur’an. Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 29 Tahun 2019, yaitu peraturan Kementerian Agama mengenai majelis taklim, misalnya menyebut Al-Qur’an dan hadis sebagai sumber materi ajar. Tidak semua riwayat yang beredar mempunyai kedudukan yang sama, sehingga ulama hadis menilai kekuatan setiap riwayat. Karena itu, kutipan hadis sebaiknya disertai keterangan kitab sumber dan penilaian para ahli. Di kajian, pemula mungkin mendengar kata sahih, hasan, atau daif. Ketiganya adalah sebutan untuk tingkatan kekuatan riwayat, dan cara menilainya dipelajari dalam ilmu hadis.
- Sanad
-
Rangkaian orang yang meriwayatkan sebuah hadis, dari perawi terakhir sampai kepada Nabi Muhammad, disebut sanad. Kualitasnya menjadi salah satu dasar penilaian kekuatan hadis. Dalam percakapan di lingkungan pesantren, kata sanad juga dipakai lebih luas untuk menyebut rantai guru yang menyambungkan ilmu seseorang, misalnya sanad bacaan Al-Qur’an.
Kelompok ketiga: seputar hukum dan perbedaan pendapat
Istilah dalam kelompok ini mudah disalahpahami, karena menyangkut boleh atau tidaknya sesuatu. Kesalahan kecil dalam memahami istilah ini dapat berujung pada kesimpulan yang terlalu cepat.
- Syariah
-
Dalam pemakaian luas, kata ini berarti jalan atau tuntunan ajaran Islam. Dalam pembagian materi yang umum di Indonesia, syariah sering disebut bersama akidah dan akhlak. Pasal 16 PMA 29/2019 memasukkan ketiganya ke dalam cakupan materi majelis taklim. Dalam percakapan ekonomi, kata syariah juga dipakai untuk menyebut produk yang mengikuti prinsip Islam, misalnya bank syariah.
- Fikih
-
Ketentuan praktik keagamaan yang rinci dan berdasarkan dalil, misalnya tata cara bersuci, salat, puasa, zakat, jual beli, dan pernikahan, dibahas dalam ilmu fikih. Bila syariah dipahami sebagai tuntunan, fikih adalah hasil pemahaman ulama terhadap tuntunan itu. Salah satu pembahasan dalam fikih adalah rukhsah, yaitu keringanan dalam keadaan tertentu. Keringanan bagi orang yang bepergian termasuk contoh yang kerap ditanyakan, dan tulisan keringanan ibadah saat safar berangkat dari pertanyaan itu.
- Mazhab
-
Kata mazhab menunjuk aliran pemikiran dalam fikih yang mengikuti metode dan pendapat seorang imam besar beserta murid-muridnya. Empat mazhab fikih Sunni yang banyak dikenal adalah Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Di Indonesia, pengajar mungkin berkata “menurut mazhab Syafi’i” ketika menjelaskan praktik yang dikenal di lingkungannya. Penyebutan mazhab bukan tanda perpecahan, melainkan penjelasan tentang jalur pemahaman yang dipakai.
- Fatwa
-
Sebuah fatwa berisi pendapat keagamaan yang diberikan oleh orang atau lembaga yang berwenang sebagai jawaban atas pertanyaan tertentu. Di Indonesia, sejumlah organisasi dan lembaga keagamaan mempunyai komisi atau majelis yang mengeluarkan fatwa atau keputusan keagamaan. Artikel, ceramah, dan unggahan media sosial, termasuk tulisan di situs ini, tidak otomatis berstatus fatwa. Fatwa biasanya menjawab pertanyaan dalam keadaan tertentu, sehingga membaca kesimpulannya tanpa memahami pertanyaan dan pertimbangannya dapat menimbulkan salah paham.
- Khilafiyah
-
Persoalan yang dijawab berlainan oleh para ulama, karena cara membaca dalil atau menimbang keadaan tidak sama, dikelompokkan sebagai khilafiyah. Ketika pengajar berkata “ini masalah khilafiyah”, biasanya ia sedang mengajak pendengar untuk tidak saling menyalahkan dalam masalah tersebut. Mengapa perbedaan itu wajar, dan di mana batasnya, menjadi isi tulisan adab menyikapi khilafiyah.
Kelompok keempat: keyakinan, sikap, dan ruang belajar
Kelompok terakhir berisi istilah tentang isi keyakinan, watak yang ingin dibentuk, serta tempat dan cara belajar. Beberapa di antaranya sudah menjadi kata sehari-hari, tetapi tetap perlu dipahami dalam konteks kajian.
- Akidah
-
Wilayah ini mencakup keyakinan dasar dalam Islam, seperti iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, dan takdir. Peraturan Menteri Agama tentang Majelis Taklim menuliskannya dengan ejaan “aqidah”. Pembahasan akidah menuntut kehati-hatian, sehingga pertanyaan tentang wilayah ini sebaiknya diajukan kepada pengajar yang menguasainya. Diskusi akidah di media sosial yang berlangsung cepat dan saling sindir jarang membantu pemula memahami pokok-pokoknya.
- Akhlak
-
Watak atau budi pekerti yang tampak dalam perilaku, seperti kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang, menjadi pokok bahasan akhlak. Kajian akhlak membahas cara membentuk watak yang baik dan menghindari yang buruk. Istilah ini sering disebut bersama adab, tetapi keduanya tidak persis sama.
- Adab
-
Dalam frasa seperti adab kepada guru, adab di masjid, atau adab bertamu, kata ini berarti tata krama dan sikap yang pantas dalam suatu keadaan atau hubungan. Bila akhlak menunjuk watak, adab lebih sering menunjuk cara bersikap dalam situasi tertentu. Dalam sebuah amanat di MTsN 5 Barito Kuala yang diberitakan Kanwil Kemenag Kalimantan Selatan pada 2019, pembina upacara menyebut bahwa adab kedudukannya di atas ilmu. Ungkapan itu adalah contoh pesan pendidikan dalam pemberitaan, bukan dalil atau ketetapan, dan dipakai untuk menekankan pentingnya sikap dalam belajar.
- Majelis taklim
-
Pasal 1 PMA 29/2019 mendefinisikan majelis taklim sebagai lembaga atau kelompok masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam nonformal sebagai sarana dakwah Islam. Peraturan yang sama menyebut ustaz atau ustazah sebagai tenaga pendidik pada majelis taklim. Dalam bahasa sehari-hari, kata “pengajian” sering dipakai untuk kegiatan yang serupa. Pasal 6 peraturan itu juga mewajibkan pendaftaran majelis taklim ke kantor Kemenag kabupaten atau kota, sehingga calon peserta dapat menanyakan pembina dan status majelis yang akan diikutinya.
- Tabayun
-
Sebelum mempercayai atau menyebarkan sebuah kabar, kebenarannya perlu diteliti lebih dulu, dan kegiatan meneliti itulah yang disebut tabayun. Istilah ini sering dikaitkan dengan QS Al-Ḥujurāt/49: 6, yang dalam terjemahan Kementerian Agama memuat perintah “maka telitilah kebenarannya” ketika seorang fasik datang membawa berita penting. Di era media sosial, istilah ini sering dipakai untuk mengajak orang memeriksa kabar sebelum meneruskannya. Penerapannya dalam kebiasaan sehari-hari di ponsel dapat dipelajari di tabayun informasi di media sosial.
Pasangan istilah yang sering tertukar
Beberapa istilah di atas sering dipakai bergantian seolah-olah bermakna sama. Membedakannya membantu pemula memahami apa yang sebenarnya sedang dibicarakan pengajar.
- Terjemahan dan tafsir sama-sama menjelaskan makna ayat, tetapi terjemahan bersifat ringkas dan berusaha setia pada susunan kalimat, sedangkan tafsir menguraikan konteks dan penjelasan yang lebih luas. Mengutip terjemahan lalu menyebutnya tafsir dapat menyesatkan pembaca.
- Tadarus dan tadabur terdengar mirip dan sama-sama berhubungan dengan Al-Qur’an. Tadarus menekankan kegiatan membaca dan belajar bersama, sedangkan tadabur menekankan perenungan makna.
- Syariah dan fikih sering dianggap sinonim. Dalam banyak penjelasan, syariah menunjuk tuntunan ajaran, sedangkan fikih menunjuk ilmu dan hasil pemahaman ulama atas tuntunan itu. Karena fikih adalah hasil pemahaman, di dalamnya dapat muncul perbedaan pendapat.
- Akhlak dan adab berkaitan erat. Akhlak lebih menunjuk watak yang tertanam, sedangkan adab lebih menunjuk tata krama dalam situasi tertentu. Seseorang dapat mempelajari adab bertanya dalam satu sore, tetapi membentuk akhlak sabar memerlukan waktu yang jauh lebih panjang.
- Fatwa dan pendapat pengajar juga berbeda. Jawaban seorang ustaz dalam sesi tanya jawab adalah nasihat atau penjelasan, sedangkan fatwa biasanya dikeluarkan oleh pihak yang memang diberi kewenangan untuk itu dan melalui proses tertentu.
Salah kaprah saat memakai istilah
Memahami arti sebuah istilah baru separuh jalan. Separuh lainnya adalah memakainya dengan tepat, terutama ketika berbicara dengan orang lain atau menulis di grup percakapan. Beberapa kebiasaan berikut kerap memicu salah paham.
- Menyebut setiap potongan ceramah yang diteruskan di grup WhatsApp keluarga sebagai fatwa. Ceramah, tanya jawab, dan unggahan pengajar adalah penjelasan atau nasihat, dan lebih jujur disebut demikian.
- Menulis “ini hadis” untuk kalimat bijak yang tidak jelas asalnya. Bila kitab sumbernya tidak diketahui, sampaikan sebagai kalimat yang belum jelas sumbernya, lalu tanyakan kepada pengajar.
- Menyebut renungan pribadi atas sebuah ayat sebagai tafsir. Renungan semacam itu lebih tepat disebut tadabur atau catatan pribadi, agar pembaca tidak mengira sedang membaca penjelasan ahli.
- Memakai kata syariah sebagai label tanpa menjelaskan maksudnya. Bila menemukan label seperti itu pada produk atau kegiatan, tanyakan apa dasar penyebutannya.
- Mengubah istilah teknis menjadi julukan. Istilah yang dipakai di majelis untuk membahas masalah tidak sepatutnya dipakai untuk menilai tetangga atau rekan kerja di depan umum.
Kebiasaan-kebiasaan itu jarang lahir dari niat buruk. Kebanyakan muncul karena istilah dipakai lebih cepat daripada dipahami. Memberi jeda sebelum menulis, lalu memeriksa kembali glosarium atau catatan, membantu mencegah banyak salah paham.
Membaca istilah pada judul kajian
Istilah-istilah dalam glosarium ini juga membantu memilih kajian. Poster atau pengumuman di masjid biasanya memuat judul seperti “Kajian Tafsir”, “Kajian Fikih Ibadah”, atau “Kelas Tahsin Dewasa”. Dari judul itu, calon peserta dapat menebak jenis kegiatannya sebelum datang.
Kajian tafsir biasanya membahas ayat demi ayat atau tema tertentu dalam Al-Qur’an, sehingga cocok bagi yang sudah terbiasa membaca terjemahan. Kajian fikih ibadah membahas tata cara ibadah, dan sering menjadi pilihan pertama bagi pemula yang ingin memperbaiki salat atau bersuci. Kelas tahsin berfokus pada ketepatan bacaan dan biasanya meminta peserta membaca langsung di hadapan guru. Kajian akhlak atau tasawuf membahas pembentukan watak dan kehidupan batin. Tasawuf adalah bidang ilmu yang membahas penyucian jiwa dan hubungan batin dengan Allah.
Bila judul kajian menyebut nama kitab, misalnya kitab fikih atau kitab hadis tertentu, tanyakan kepada pengurus apakah kajian itu cocok untuk pemula. Sebagian kajian kitab mengasumsikan peserta sudah mengikuti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Pemula yang masih menimbang kajian mana yang diikuti lebih dulu dapat mencocokkannya dengan tahap-tahap dalam cara belajar Islam untuk pemula.
Pengumuman kajian kini banyak beredar sebagai poster digital di grup warga perumahan atau grup kantor. Sebelum mendaftar, perhatikan apakah poster menyebut nama pengajar, tempat, sasaran peserta, dan kontak panitia. Bila poster hanya memuat judul dengan istilah asing tanpa keterangan lain, kirim pesan singkat kepada panitia untuk menanyakan apakah kajian itu cocok bagi peserta yang baru mulai. Pertanyaan seperti ini wajar diajukan dan membantu panitia mengetahui siapa saja yang akan hadir.
Mengapa ejaannya berbeda-beda
Pemula sering bingung ketika menemukan satu istilah ditulis dengan beberapa cara. Dalam sumber-sumber yang dipakai untuk tulisan ini saja, variasi itu sudah terlihat. Berita Kanwil Kemenag Aceh menulis “Tadabbur” dengan dua huruf b, sedangkan terjemahan Kementerian Agama memakai bentuk kata kerja “menadaburi”. Peraturan Menteri Agama tentang Majelis Taklim menulis “Ustadz”, “aqidah”, dan “akhlaq”, sementara banyak tulisan berbahasa Indonesia menulis ustaz, akidah, dan akhlak. Dalam tulisan populer, bentuk “Alquran” dan “Al-Qur’an” juga sama-sama sering dijumpai.
Variasi ini muncul karena istilah Arab dapat ditulis dengan dua pendekatan. Pendekatan pertama adalah transliterasi, yaitu penulisan huruf Arab dengan huruf Latin secara sistematis, sehingga bunyi aslinya tetap dapat dikenali. Pendekatan kedua adalah penyerapan, yaitu penyesuaian kata ke dalam ejaan bahasa Indonesia sehingga kata itu menjadi bagian dari kosakata sehari-hari. Keduanya sah untuk tujuan masing-masing.
Bagi pemula, yang penting adalah mengenali bahwa ejaan berbeda tidak selalu berarti makna berbeda. Ketika mencatat, pilih satu ejaan dan gunakan secara konsisten. Bila mengutip sumber, pertahankan ejaan sumber tersebut agar kutipannya tetap setia.
Perbedaan ejaan kadang menjadi bahan perdebatan kecil, misalnya di kolom komentar ketika seseorang menegur penulisan “Alquran” yang dianggapnya kurang tepat. Teguran semacam itu jarang membantu bila disampaikan di depan umum. Dalam percakapan, cukup pakai ejaan yang biasa dipakai tanpa menyinggung pilihan orang lain. Untuk bahan yang diterbitkan, seperti pengumuman kajian atau buletin masjid, pengurus dapat menyepakati satu daftar ejaan agar semua bahan tampak seragam dan mudah dicari kembali.
Variasi ejaan juga berpengaruh ketika mencari bahan di internet atau katalog perpustakaan. Pencarian dengan kata “tadabur” dapat melewatkan tulisan yang memakai “tadabbur”, dan sebaliknya. Cobalah beberapa bentuk ejaan ketika mencari, terutama untuk istilah yang mengandung huruf rangkap atau huruf Arab yang tidak mempunyai padanan langsung dalam abjad Latin.
Mencatat istilah baru dari kajian
Dua puluh istilah di atas hanyalah permulaan. Setiap bidang kajian mempunyai kosakatanya sendiri, dan pengajar yang berbeda kadang memakai istilah yang sama dengan penekanan berbeda. Karena itu, kebiasaan mencatat istilah baru lebih berguna daripada menghafal daftar yang panjang.
Siapkan satu halaman khusus di buku catatan untuk istilah. Setiap kali mendengar istilah yang asing, tulis lima hal: istilahnya dengan ejaan yang dipakai pengajar atau buku, kalimat tempat istilah itu muncul, penjelasan yang diberikan pengajar, sumber serta tanggal kajian, dan pertanyaan yang masih tersisa. Kalimat konteks adalah bagian yang mudah terlupa, padahal tanpa kalimat itu penjelasan mudah disalahartikan ketika dibaca ulang.
Sebagai contoh rekaan, seorang peserta mendengar kata “rukhsah” dalam kajian tentang puasa. Ia mencatat kalimat pengajar, “Bagi musafir ada rukhsah untuk tidak berpuasa”, lalu mencatat penjelasan bahwa rukhsah berarti keringanan. Di kolom pertanyaan, ia menulis, “Apakah ada syarat jarak atau lama perjalanan?” Catatan seperti ini jauh lebih berguna daripada satu kata dengan satu arti.
Halaman istilah itu sebaiknya dibaca ulang sesekali. Setelah beberapa bulan, sebagian istilah akan terasa akrab dan dapat diberi tanda, sementara istilah lain mungkin baru dipahami setelah mendengar penjelasan dari pengajar yang berbeda. Tambahkan penjelasan baru di samping catatan lama, jangan menimpanya, agar perkembangan pemahaman tetap terlihat.
Hindari memakai terjemahan mesin sebagai rujukan utama untuk istilah keagamaan. Mesin penerjemah dapat membantu menebak arti umum sebuah kata, tetapi sering keliru ketika kata itu mempunyai makna teknis dalam ilmu tertentu. Periksa penjelasannya pada buku pegangan atau tanyakan kepada pengajar.
Cara mencatat dapat disesuaikan dengan keadaan. Mualaf biasanya bertemu banyak istilah sekaligus pada pekan-pekan pertama. Ia dapat mendahulukan istilah yang berkaitan dengan ibadah harian, seperti yang muncul dalam penjelasan tentang bersuci dan salat, lalu menyimpan istilah lain untuk ditanyakan kepada pembimbingnya secara bertahap. Peserta lansia yang kesulitan menulis cepat dapat meminta izin pengajar untuk merekam kajian, kemudian mencatat istilahnya di rumah dengan tulisan besar. Pekerja shift yang lebih sering mengikuti kajian melalui rekaman dapat mencatat menit tempat istilah itu muncul, sehingga penjelasannya mudah diputar ulang ketika istilah yang sama terdengar lagi di kajian berikutnya.
Sering ditanyakan soal istilah
Mengapa glosarium ini hanya memuat dua puluh istilah?
Dua puluh istilah ini dipilih karena lazim terdengar di kajian umum dan mewakili empat kegiatan pokok: membaca, memahami sumber, membahas hukum, dan bersikap. Daftar ini dimaksudkan sebagai titik awal, dan istilah lain dapat dicatat sendiri sesuai kajian yang diikuti.
Apakah penjelasan di sini berlaku untuk semua kitab?
Tidak selalu. Sebuah istilah dapat bermakna lebih khusus dalam bidang ilmu atau kitab tertentu. Periksa pengantar kitab yang dibaca dan tanyakan kepada pengajar bila ragu.
Bolehkah memakai terjemahan otomatis untuk memahami istilah Arab?
Terjemahan otomatis hanya cocok sebagai petunjuk awal. Untuk istilah keagamaan, gunakan buku pegangan, sumber resmi, dan penjelasan orang yang memahami bahasa serta bidangnya.
Ejaan mana yang benar, akidah atau aqidah?
Keduanya dipakai. Akidah adalah bentuk yang disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia, sedangkan aqidah lebih dekat dengan bunyi aslinya. Pilih satu untuk catatan sendiri dan pertahankan ejaan sumber ketika mengutip.
Dalam keadaan apa arti sebuah istilah perlu ditanyakan?
Istilah perlu ditanyakan ketika dipakai untuk menentukan cara beribadah, menilai halal atau haramnya sesuatu, membahas akidah, atau menilai orang lain. Dalam keadaan seperti itu, salah paham tentang satu kata dapat berakibat besar.
Asal penjelasan dan kutipan
- Kanwil Kemenag Aceh, berita tentang tadarus, tahsin, dan tadabbur di Kankemenag Aceh Selatan. Penjelasan istilah tahsin, tadarus, dan tadabur. Dikutip sebagai contoh pemberitaan, bukan dalil atau ketetapan. Diakses 25 September 2026.
- Peraturan Menteri Agama Nomor 29 Tahun 2019 tentang Majelis Taklim, JDIH BPK. Definisi majelis taklim dan ustaz, sumber materi ajar, serta cakupan akidah, syariah, dan akhlak. Diakses 25 September 2026.
- Qur’an Kemenag, QS An-Nisā’/4: 82. Terjemahan yang memakai kata “menadaburi”. Diakses 25 September 2026.
- Qur’an Kemenag, QS Al-Ḥujurāt/49: 6. Terjemahan perintah meneliti kebenaran berita yang dikaitkan dengan istilah tabayun. Diakses 25 September 2026.
- Pustaka Lajnah, Al-Qur’an dan Terjemahannya Edisi Penyempurnaan 2019. Data katalog terjemahan edisi penyempurnaan dan tim penyusunnya. Diakses 25 September 2026.
- Pustaka Lajnah, Tanya Jawab tentang Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia dan Layanan Pentashihan. Rujukan tentang Mushaf Standar Indonesia dan layanan pentashihan. Diakses 25 September 2026.
- Kanwil Kemenag Kalimantan Selatan, “Pembina: Adab Kepada Guru Membawa Keberkahan Ilmu”. Contoh pemakaian ungkapan tentang kedudukan adab dalam amanat upacara madrasah. Diakses 25 September 2026.
