https://nuansaislam.com/Takjil

Takjil dalam kamus besar bahasa Indonesia memiliki dua makna yaitu sebagai kata kerja yang artinya mempercepat berbuka puasa, dan sebagai kata benda yang artinya makanan untuk berbuka puasa.[1]  Kata takjil diserap dari bahasa Arab, berasal dari kata ‘ajjala-yu’ajilu-ta’jiilan (عَـجَّـلَ – يُـعَـجِّـلُ – تَـعْـجِـيْـلاً)yang artinya mempercepat atau menyegerakan,[2]  secara bahasa dalam kamus bahasa arab kata ta’jiil mengandung beberapa makna diantaranya: pertama, melakukan sesuatu sebelum waktunya,[3] hal ini biasanya didasari atas hawa nafsu, maka perbuatan ta’jil dalam kategori ini adalah sifatnya tercela, diantara contohnya, firman Allah swt,

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan".(QS. Thaha[20]:114)

Makna kedua adalah meminta atau memerintahkan suatu perbuatan untuk dilakukan dengan segera,[4] diantara contohnya firman Allah swt,

وَقَالُوا رَبَّنَا عَجِّلْ لَنَا قِطَّنَا قَبْلَ يَوْمِ الْحِسَابِ

Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan bagi kami sebelum hari berhisab".(QS. Shad[38]: 16)

Makna ketiga adalah bersegera dan berlomba-lomba,[5] diantara contohnya adalah firman Allah swt,

أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ

Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? (QS. Al-A’raf[7]: 150)

Dan makna yang keempat adalah mendahulukan,[6] biasanya digunakan dalam jual beli yaitu dengan mendahulukan pembayarannya.

Adapun secara istilah takjil dibahas secara panjang lebar oleh para ulama ahli usul fikih dan ahli fikih, dimana pembahasan mereka bisa kita simpulkan bahwa, istilah takjil itu mengandung dua makna, yang pertama bahwa istilah takjil dimaknai dengan pelaksanaan suatu kewajiban sebelum waktu yang telah ditentukan oleh syariat, mereka mencontohkan seperti dibolehkannya menunaikan zakat fitrah dari awwal ramadhan.[7] Makna kedua adalah pelaksanaan suatu kewajiban pada awal waktunya dengan segera tanpa ada jeda. Pelaksanaan suatu kewajiban pada awwal waktunya ini lebih mengarah kepada sunnah dan keutamaan, mereka mencontohkan seperti menyegerakan berbuka puasa di bulan ramadhan ketika tiba waktunya berbuka.[8]

Semoga dengan artikel yang sederhana ini menambah wawasan kepada kita semua, dan semoga Allah swt senantiasa memberikan kesempatan kepada kita untuk terus belajar dan dimudahkan untuk mengamalkan ilmu yang telah kita fahami. MS  

Referensi

  1. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/takjil
  2. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, 900
  3. Ibnu Mandzur, Lisanul’arab, 11:425
  4. Al-Farahidi, Al-‘Ain, 1:227
  5. Ibnu Faris, Maqayis Al-Lughah, 6:193
  6. Ar-Razi, Mukhtarusshihaah, 1:175
  7. Abdurrahman, Ghayatulwushul ila daqaiq ilmilusul, 270
  8. Al-Ghazali, Al-Mustashfa fi usulilfikh, 1/135

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

Sign In/Sign out