https://nuansaislam.com/Uswah

Uswah dalam bahasa arab bersumber dari kata asaa-ya’suu-aswan(أَسَـا – يَـأْسُـوْ – أَسْـوًا) mengandung arti mengobati, mendamaikan, menghibur orang yang sedang bersedih dan menjadikannya teladan.[1] Ibnu Manzhur berkata: uswah bermakna qudwah[2]

Uswah secara istilah adalah keadaan seseorang yang diikuti oleh orang lain baik dalam hal kebaikan ataupun keburukan,[3]

Kata uswah di dalam Al-Qur’an salah satunya terdapat dalam surat al-Ahzab ayat 21, Allah swt berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS. Al-Ahzab[33]: 21)

Dalam ayat diatas Allah swt memberikan penegasan bahwa pada diri Rasulullah saw yang diutusnya memiliki suriteladan yang baik, untuk diikuti oleh ummat manusia sampai akhir jaman, karena setelahnya tidak ada lagi nabi dan rasul. Keteladanan yang ada pada diri Rasulullah saw adalah keteladanan dalam beragama dan mengamalkannya juga dalam berbagai aspek kehidupan lainnya seperti muamalah dengan sesame dengan akhlak mulia, baik akhlak kepada sang pencipta kita yaitu Allah swt, juga akhlak kita kepada Rasulullah saw, yang telah membimbing ummat ini dari alam kejahiliahan, gelap gulita kepada alam yang terang benderang dengan dihiasi ilmu pengetahuan yang terus berkembang yang salah satu sumbernya utamanya adalah risalah Rasulullah saw yaitu Al-Quran.

Keteladanan dalam beragama dan mengamalkannya merupakan bersifat wajib bagi ummatnya, adapun keteladanan yang bersifat hal-hal duniawi maka bersifat sunnah, sebagaimana Imam Qurthubi berkata: wajib beruswah kepada Rasulullah saw dalam hal urusan agama, dan sunnah dalam urusan dunia.[4]

Semoga dengan artikel yang singkat ini dan bertepatan dengan bulan rabiulawwal ini kita bisa mengenal lagi sifat-sifat keteladanan yang ada pada diri Rasulullah saw dan kita bisa meneladaninya dengan baik.

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, 25
  2. Nadhrotunna’iim fi makaarimi akhlak ar-Rasulilkarim, 349, Ibnu Manzhur, Lisanul’arab, 35/14
  3. At-tauqif, 51, Al-Kafawi, Al-Kulliyat, 114
  4. Imam Qurthubi, Al-Jaami’ Liahkamilqur’an, 155-156

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

Sign In/Sign out