https://nuansaislam.com/Tathoyyur

Tathoyyur dalam bahasa arab berasal dari kata thaaro-yathiiru (طَـارَ -  يَـطِـيْرُ) yang merupakan fi’il mu’tal ajwaf yai,  mengandung makna dasar terbang, kemudian kata tersebut dimudho’afkan menjadi kata thoyyaro(طَـيَّـرَ) maknanya berubah menjadi menerbangkan, kemudian ditambahkan huruf ta(تَ) menjadi kata tathoyyaro-yatathoyyaru bi (تَـطَـيَّـرَ – يَـتَطَـيَّـُر بِـ ) maka artinya berubah menjadi meramalkan adanya hal-hal buruk. Kata tathoyyur merupakan isim mashdar dari kata tathoyyaro-yatathoyyaru (تَـطَـيَّـرَ – يَـتَطَـيَّـُر ).[1] selain kata tathoyyur(تَـطَـيُّـر) ada juga kata thiyaroh (طِـيَـرَة) perbedaannya adalah, menurut Al-‘Iz Abdissalam berkata: tathoyyur adalah perasangka atau sangkaan seseorang dalam hatinya, sedangkan thiyaroh adalah perbuatan yang dilakukan akibat sangkaan dalam hatinya.[2]

Tathoyyur secara istilah bermakna pengharapan nasib baik dan nasib buruk melalui wasilah hewan yaitu burung. Adapun sebab penamaannya tathoyyur(تَـطَـيُّـر) adalah dahulu orang arab jahiliyah apabila keluar rumah untuk suatu urusan baik pekerjaan dan lainnya, mereka bersandar kepada burung dengan melihat arah terbang burung tersebut, ada juga yang sengaja mengagetkan burung yang ada agar terbang, apabila burung tersebut terbangnya ke arah kanan maka mereka bertabaruk atau mengambil berkahnya dengan melanjutkan bepergian untuk meneruskan urusannya, kemudian mereka menamai burung ini dengan”As-Saanih”(السَّانِح).  Dan sebaliknya apabila burung tersebut terbangnya ke arah kiri, maka mereka merasa akan ditimpa kesialan, kemudian mereka tidak jadi keluar rumah dan meninggalkan urusannya yang akan dikerjakannya,  kemudian mereka menamai burung ini dengan “Al-Barih”(البَارِح).[3]

Ibnulqoyyim berkata: Allah swt tidaklah menceritakan tentang tathoyyur dalam Al-Qur’an melainkan kisahnya musuh-musuh para Rasul utusan Allah swt, diantaranya firman Allah swt,

قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ

Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami".(QS. Yasin[36]: 18)

قَالُوا طَائِرُكُمْ مَعَكُمْ ۚ أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

Utusan-utusan itu berkata: "Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas".(QS. Yasin[36]: 19)

Kisahnya kaum Nabi Musa as. Dalam firman Allah swt:

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَٰذِهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ ۗ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah karena (usaha) kami". Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.(QS. Al-A’raf[7]: 131)

قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَنْ مَعَكَ ۚ قَالَ طَائِرُكُمْ عِنْدَ اللَّهِ ۖ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ

Mereka menjawab: "Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu". Shaleh berkata: "Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji".(QS. An-Naml[27]: 47)

Secara hukum thiyaroh yang merupakan perbuatan dari akibat tathoyyur yaitu meninggalkan atau melakukan suatu perbuatan dengan bersandar kepada terbangnya burung, maka itu termasuk kemusyrikan, sebagaimana Abdullah bin Masud meriwayatkan dari Rasulullah saw bersabda:

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ) وما مِنَّا إلا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ . رواه أحمد ( 3687)

Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan dari Rasulullah saw bersabda: thiyaroh itu adalah syirik, dan tidaklah dari kami kecuali Allah swt menghilangkannya dengan tawakkal(HR. Ahmad. 3687)

Rasulullah saw memperingatkan ummatnya agar tidak terjerumus kepada perbuatan tathoyyur dan thiyaroh dengan sabdanya:

عن عمران بن حصين رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطِيْرُ لَهُ ) رواه البزار (3578) والطبراني 18/132 رقم (355)

Dari Imron bin Husein ra. Berkata: telah bersabda Rasulullah saw: bukan ummat kami barang siapa yang bertathoyyur atau meminta ditathoyyurkan untuknya(HR. Bazzar dan Thabrani, Al-Bani berkata: hadis ini shahih lighoirihi)

Agar kita terhindar dari tathoyyur dan thiyaroh maka baiknya ikuti petunjuk Rasullah saw dalam hadis berikut:

عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: ((لا عَدْوَى وَلا طِيَرَةَ وَلا هَامَّة وَلا صَفَر، وَلا نَوْء وَلا غَوْل، وَيُعْجِبُنِيْ الفَأل)) أخرجه مسلم في كتاب السلام، باب لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر ولا نوء، برقم 2222

“Dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,bahwasanya beliau bersabda:”Tidak ada ‘Adwa (penyakit menular), tidak Thiyaroh (merasa sial), tidak ada Haamah(burung hantu), tidak ada Nau (ramalan bintang/zodiak), tidak ada Ghaul (nama jin), dan aku menyukai al-Fa’l (optimis).”(HR. Muslim, Kitab as-Salam, Bab La ‘Adwa, wa La Thiyaroh, wa La Haamah,wa La Nau)

Kemudian ketika para sahabat Rasulullah saw bertanya tentang makna al-fa’al, maka Rasulullah saw bersabda:

قال ( الكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ ) رواه البخاري ( 5440)

Nabi saw bersabda: kalimat yang baik

Dan sebagai kafaratnya dari tathoyyur dan thiyaroh adalah petunjuk Rasulullah saw berikut:

 

عبد اللَّهِ بن عَمْرٍو رضي الله عنهما قال : قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَن رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ من حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ )

“Barang siapa yang mengurungkan/menghentikan hajatnya/keperluannya karena thiyaroh maka dia telah melakukan kesyirikan

 قالوا : يا رَسُولَ اللَّهِ ما كَفَّارَةُ ذلك ؟ قال ( أن يَقُولَ أَحَدُهُمْ اللهم لاَ خَيْرَ إلا خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إلا طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ) رواه أحمد(7045)

.”Sahabat bertannya:”Ya Rasulullah apa kafaratnya?” Beliau menjawab: “(Dan kafarat/penebusnya) adalah mengucapkan :

“Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan Engkau dan tidak ada kesialan kecuali dari Engkau (yang telah engkau tetapkan) dan tidak ada Ilah yang berhak diibadahi melainkan Engaku.” (HR. Ahmad, dalam musnad dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma )

Juga sabda rasulullah saw berikut:

وعن عُروة بن عامر - رضي الله عنه - قال: ذُكِرَتِ الطِّيَرَةُ عِنْدَ رَسولِ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - فقالَ: «أحْسَنُهَا الفَألُ. وَلاَ تَرُدُّ مُسْلِمًا فإذا رَأى أحَدُكُمْ ما يَكْرَهُ، فَليْقلْ: اللَّهُمَّ لاَ يَأتِي بِالحَسَناتِ إلاَّ أنْتَ، وَلاَ يَدْفَعُ السَّيِّئَاتِ إلاَّ أنْتَ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إلاَّ بِكَ» حديث صحيح رواه أبو داود بإسناد صحيح.

Dari Urwah bin 'Amir r.a., katanya: "Disebut-sebutkanlah persoalan akan timbulnya kemalangan nasib -sebab adanya sesuatu- di sisi Rasulullah s.a.w., lalu beliau s.a.w. bersabda: "Yang terbaik sekali ialah mengucapkan kata-kata yang bagus dan yang sedemikian itu jangan menolak seorang Muslim -yakni jikalau ia bersengaja akan mengerjakan sesuatu yang baik-, janganlah sampai diurungkan karena timbulnya perasaan akan mendapat kemalangan tadi. Jikalau seorang diantara engkau semua melihat sesuatu yang tidak disenangi, hendaklah mengucapkan -yang artinya-: "Ya Allah, tidak ada yang kuasa mendatangkan kebaikan melainkan Engkau, tidak pula dapat menolak keburukan melainkan Engkau dan tiada daya serta tiada kekuatan melainkan dengan pertolonganMu." Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.

Demikian artikel singkat ini, semoga bermanfaat dan semoga Allah swt menghindarkan kita dari tathoyyur dan thiyaroh, dengan senantiasa oftimis dan bertawakkal kepada Allah swt. MS

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir,876
  2. Muhammad Syamsulhaqil’azhim Aabadi, ‘Aunulma’bud, 10/406
  3. Ibnu Hajar Al-‘Asqolani, Fathul Baari, 10/212, Miftah daarissa’adah, 3/268

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

Sign In/Sign out