https://nuansaislam.com/Ghibthoh

Ghibhoh dalam bahasa arab berasal dari kata ghabatho-yaghbuthu(غَـبَـطَ – يَـغْتبُـطُ), makna dasarnya adalah menginginkan keadaan seperti seseorang,[1] Ibnu Manzhur berkata: Al-Ghibthu adalah seseorang melihat saudaranya dalam kondisi penuh kebaikan, kemudian ia menginginkan keadaan yang sama tanpa menginginkan hilangnya kebaikan tersebut dari saudaranya, tetapi bila menginginkan kebaikan yang dimiliki saudaranya dan juga menginginkan hilangnya kebaikan tersebut dari saudaranya maka hal tersebut disebut hasad atau dengki.[2]

Ar-Razi berkata: apabila Allah swt memberikan nikmat kebaikan kepada saudaramu dan engkau menginginkan hilangnya kebaikan tersebut dari saudaramu maka itu adalah hasad, dan sebaliknya jika engkau juga menginginkan hal yang sama tanpa menginginkan hilangnya kebaikan tersebut dari saudaramu maka itu adalah ghibthah.[3]

Dalam sebuah hadis ghibthoh diungkapkan dengan kata hasad, yaitu hadis dari ibnu Masud berikut:

 حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.”[HR. Bukhari dan Muslim]

Imam Nawawi mensyarah hadis ini dengan mengatakan: hasad pada hadis ini adalah seseorang menginginkan kebaikan seperti kebaikan yang ada pada saudaranya tanpa menginginkan hilangnya kebaikan pada saudaranya.[4]

Hukum Ghibthoh

Pertama, Ghibthoh dalam perkara dunia, hukum asalnya adalah mubah (boleh) seperti ingin memiliki kendaraan yang bagus serupa dengan milik saudaranya, atau keinginan yang semisal. Namun yang perlu kami sampaikan, bahwa sesuatu yang mubah akan menjadi tercela apabila berlebih-lebihan. Demikian pula ghibthoh dalam perkara dunia akan menjadi tercela apabila berlebihan.

Allah swt menceritakan tentang Qorun yang keluar kepada kaumnya dengan perhiasan yang sangat indah, bersama para pembantu dan pengawalnya. Kemudian kaumnya pun melihatnya dengan segenap kemewahan dunianya. Di saat itu orang yang hatinya dibuat mabuk dan condong kepada perhiasan dunia, berangan-angan dan berharap memiliki kekayaan dan kemewahan seperti yang dimiliki Qorun. Allah Ta’ala berfirman:

 

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Maka keluarlah Qorun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Qashash: 79).

Lalu perhatikanlah bagaimana sikap ahli ilmu ketika mendengar ucapan ini.

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

“Dan berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu. Pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholih, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar.” (QS. Al-Qashash: 80).

Ghibthoh dalam perkara dunia hukum asalnya adalah boleh, namun akan menjadi tercela ketika berlebihan, sehingga menjadikannya terlalu berharap, berangan-angan apalagi sampai berlomba-lomba dalam perkara dunia. Ghibthoh seperti ini tidak ada nilai kebaikannya. Dan sebagaimana dalam ayat di atas, ghibthoh yang seperti ini dicela oleh para ahli ilmu (ulama).

Kedua, Ghibthoh dalam perkara akherat, hukumnya mustahab (dianjurkan)  Imam an Nawawi ra berkta: Ghibthoh dalam perkara dunia hukumnya mubah (boleh). Adapun ghibthoh dalam perkara akherat, maka hukumnya adalah mustahab (dianjurkan).[5] 

 Ghibthoh dalam perkara akherat adalah perkara yang terpuji, karena akan menjadikan kita bersemangat dalam beramal.

Abu Dzar al-Ghifari ra menceritakan bahwa sebagian sahabat Rasulullah saw berkata kepada Beliau saw, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya itu telah pergi membawa pahala yang banyak. Mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bershadaqah dengan kelebihan harta mereka (sementara kami tidak bisa melakukannya).” Rasulullah saw bersabda:

 

أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُوْنَ؟ إِنَّ لَكُمْ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً،

وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً، وَنَهْيٍ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةً، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً

“Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu untuk bershadaqah? Sesungguhnya setiap tasbih (subhanallah) adalah shadaqah, setiap takbir (Allahu akbar) adalah shadaqah, setiap tahmid (alhamdulillah) adalah shadaqah, setiap tahlil (laa ilaha illallah) adalah shadaqah, menyeru kepada kebaikan adalah shadaqah, mencegah dari yang munkar adalah shadaqah, dan persetubuhan salah seorang dari kalian (dengan istrinya) juga shadaqah.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jika di antara kami menyalurkan syahwatnya (kepada istrinya) juga mendapatkan pahala?” Beliau saw bersabda:

 

أَرَأَيْتَ لَوْ وَضَعَهَا فِيْ حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ، كَانَ لَهُ أَجْرٌ

“Bagaimana pendapat kalian, seandainya ia menyalurkannya pada yang haram, bukanlah itu berdosa? Maka demikian pula apabila ia menyalurkan pada yang halal, dia juga akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Semoga dengan artikel sederhana ini kita dijauhkan oleh Allah swt dari sifat hasad, dan dimudahkan segala urusan kita dalam hal-hal kebaikan. SM

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, 995
  2. Ibnu Manzhur, Lisanul’arab, 7/359
  3. Ar-Razi, Mafatihulghaib, 3/646
  4. Imam Nawawi, Syarh Muslim, 6/97
  5. Imam Nawawi, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim, 6/97

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

Sign In/Sign out