https://nuansaislam.com/Tarwiyah

Tarwiyah berasal dari kata rawiya-yarwa yang artinya meminum air sampai hilang rasa hausnya, kata tarwiyah sendiri merupakan mashdar dari kata rawiya ketika ditambahkan tasydid pada huruf wawu sehingga kata dasarnya berubah dari rawiya-yarwa menjadi rawwa-yurawwi, yang artinya dasarnya adalah merenung atau berfikir.[1]

Secara istilah tarwiyah digunakan untuk hari ke 8 pada bulan zulhijjah, tarwiyah juga disebut dengan istilah lainnya yaitu yaumunnaqlah(hari berpindah), dinamakan hari tarwiyah karena jamaah haji menyiapkan bekalnya khususnya air minum yang akan mereka bawa dari Makkah menuju Arafah untuk menunaikan wukuf. Sedangkan disebut yaumunnaqlah karena jamaah haji berpindah dari Makkah menuju Mina.[2]

Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menambahkan bahwa dinamakan hari tarwiyah karena pada hari itu manusia meminum air dengan cukup sampai tidak haus dan membekali diri mereka juga tunggangan mereka seperti unta dengan air yang cukup karena mereka akan berpindah ke tempat yang tidak ada sumber air.[3]

Adapun keutamaan hari tarwiyah adalah karena hari tarwiyah merupakan salah satu hari dari sepuluh hari yang diutamakan oleh Allah swt, dimana amal ibadaha pada hari sepuluh hari pertama bulan zulhijjah lebih utama dan dicintai oleh Allah swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw,

ما من أيَّامٍ العملُ الصَّالحُ فيهنَّ أحبُّ إلى اللهِ من هذه الأيَّامِ العشرِ . قالوا : يا رسولَ اللهِ ولا الجهادُ في سبيلِ اللهِ ؟ فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : ولا الجهادُ في سبيلِ اللهِ إلَّا رجلًا خرج بنفسِه ومالِه فلم يرجِعْ من ذلك بشيءٍ (البخاري)

Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 awal Dzulhijjah –pen).” Para sahabat bertanya: “Apakah lebih baik daripada jihad fi sabilillah ?” Beliau bersabda, “Iya. Lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid –pen).” (HR. Al Bukhari)

Begitupula Allah swt bersumpah dengan sepuluh malam pada surat Al-Fajr, dimana para ulama tafsir banyak menafsirkannya dengan sepuluh hari di bulan zulhijjah,

وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Dan malam yang sepuluh,(QS. Al-Fajr[89]: 2)

Para ulama berbeda pendapat antara keutamaan 10 hari di bulan zulhijjah dengan 10 hari di bulan ramadhan, dan kesimpulannya adalah malam hari di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan lebih mulia karena ada lailatul qadar, dan siang hari di sepuluh hari pertama di bulan zulhijjah itu lebih utama karena amal perbuatan pada hari-hari tersebut lebih Allah swt cintai, sebagaimana hadis riwayat Bukhari diatas.

Adapun puasa yang dihususkan pada hari tarwiyah dengan dalail hadis berikut,

صوم يوم التروية كفارة سنة وصوم يوم عرفة كفارة سنتين (أبو الشيخ ، وابن النجار عن ابن عباس)

Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu. Sedangkan puasa hari Arafah (9 Dzulhijjah) akan mengampuni dosa dua tahun.”( Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan Ibnu An Najjar dari Ibnu ‘Abbas.)

Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih.[4] Asy Syaukani mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih dan dalam riwayatnya ada perowi yang pendusta.[5] Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah).[6]

Sehingga berpuasa khusus pada hari tarwiyah dengan berdalil hadis tersebut tidak dibenarkan, akan tetapi dibolehkan berpuasa pada hari tarwiyah dengan dalil keumuman hadis keutamaan amal pada sepuluh hari pertama di bulan zulhijjah yaitu hadi riwayat Bukhari sebelumnya.

Demikian artikel sederhana ini semoga menambah wawasan kepada kita semua, dan bisa mempersiapkan diri kita untuk memaksimalkan amal ibadah pada sepuluh hari pertama di bulan zulhijah yang didalamnya ada hari tarwiyah. MS

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir,551
  2. Majmuatulmualifin, Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 2/216
  3. Majmuatulmuallifin, Kitab Majaltulbuhuts Al-Islamiyah, 69/336
  4. Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, terbitan Dar ‘Alamil Kutub, cetakan tahun 1432 H.
  5. Latho-itul Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, terbitan Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, tahun 1428 H.
  6. Majmu’atul Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, terbitan Darul Wafa’ dan Dar Ibni Hazm, cetakan keempat, tahun 1432 H.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

Sign In/Sign out