https://nuansaislam.com/Musyahin

Musyahin dalam bahasa arab berasal dari suku kata syahana-yasyhanu-syahnan, arti dasarnya mengisi, mengirim, menjauhkan, mengusir, mendendam dan mendengki, kata musyahin terbentuk dari kata syahana dengan ditambahkan huruf alif setelah huruf syin menjadi suku kata syaahana-yusyahinu, yang mengandung arti dasarnya saling membenci.[1]

Kata musyahin yang akan kita bahas maknanya berasal dari sebuah hadis, dari sahabat Mu’adz bin Jabal, beliau meriwayatkan dari Rasulullah saw,

عن معاذ بن جبل -رضي الله عنه- أنّ رسول الله -صلى الله عليه وسلّم- قال: "يطَّلِعُ اللهُ إلى خَلقِه في ليلةِ النِّصفِ مِن شعبانَ فيغفِرُ لجميعِ خَلْقِه إلَّا لِمُشركٍ أو مُشاحِنٍ"،( رواه ابن حبان، في صحيح ابن حبان، عن معاذ بن جبل، الصفحة أو الرقم:5665،)

Dari Mu’ad bin Jaba ra, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda: Allah melihat makhluk-Nya pada malam pertengahan Sya'ban, hingga Ia mengampuni seluruh makhluknya selain orang yang menyekutukan Allah dan musyahin."(HR. Ibnu Hibban, no. 5665, menurut Al-Bani Hadis ini hasan)

Hadis diatas merupakan salah satu hadis tentang keutamaan malam nisfu sya’ban, dimana Allah swt akan mengampuni dosa seluruh makhluknya kecuali orang-orang musyrik dan musyahin, lalu siapakah musyahin itu?

Mari kita lihat bagaimana para ulama memaknai kata musyahin, diantaranya:

Imam Al-Auzaiy berkata: musyahin adalah mereka para pelaku bid’ah.[2] beliau juga menambahkan bahwa makna musyahin adalah permusuhan, yaitu orang yang melakukan suatu perbuatan yang menghasilkan  permusuhan dengan orang lain.[3] Termasuk musyahin adalah orang yang ada kebencian dalam hatinya kepada para sahabat nabi saw. Sedangkan Ibnu Tsauban berkata: musyahin adalah mereka yang suka meninggalkan amalan sunnah Rasulullah saw, mencela umat Rasulullah saw dan menumpahkan darah mereka[4]

Yang harus diperhatikan juga adalah penyebab terjadinya permusuhan yang disebut musyahin adalah hal-hal yang bersifat dunia, seperti harta, kesenangan, kemewahan yang menjadikan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mendapatkannya, dengan cara menipu, menzhalimi dan hal buruk lainnya, sehingga memunculkan permusuhan. Termasuk musyahin adalah seseorang mengumbar lisannya dengan berbicara yang mengandung kebencian, kedengkian, permusuhan dan pemutusan silaturahim. [5] dan juga termasuk menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari, sebagaimana hadis Rasulullah saw,

لا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أنْ يَهْجُرَ أخاهُ فَوْقَ ثَلاثٍ، يَلْتَقِيانِ: فَيَصُدُّ هذا ويَصُدُّ هذا، وخَيْرُهُما الذي يَبْدَأُ بالسَّلامِ"( رواه البخاري: 6237)

Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Tidak halal bagi seorang Muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari; keduanya saling bertemu, yang ini berpaling dan yang ini pun berpaling. Yang paling baik di antara mereka berdua adalah yang memulai salam." (HR. Bukhari, 6237)

Adapun tidak mendapatkannya ampunan dari Allah swt untuk musyahin pada malam nisfu sya’ban adalah ampunan untuk dosa yang menyebabkan permusuhan, kebencian, kedengkian dengan saudaranya, adapun dosa selain itu maka Allah swt akan mengampuninya dengan bertaubat.

Semoga dengan artikel sederhana ini, kita dihindarkan oleh Allah swt dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan permusuhan, kebencian dan kedengkian dari saudara kita sendiri. Dan pada malam nisfu sya’ban nanti kita bisa mengamalkan sunah-sunah rasulullah saw dan mendapatkan ampunan dari Allah swt atas dosa-dosa yang telah kita kerjakan. Sehingga jiwa raga kita bersih dan bertemu dengan bulan Ramadhan bisa melaksanakan ibadah secara maksimal. Ms

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, 699
  2. Az-Zubaidi, Tajul’arus, 267
  3. Thayyibi, Syarhulmisykah lithayyibi al-Kasyif ‘an Haqaiq sunan, 1238
  4. Az-Zubaidi, Tajul’arus, 267, At-Targhib wa Tarhib, 2/397
  5. Al-Mala Ali Al-Qari, Mirqatul Mafatih Syarhulmisykatil Mashabih, 975

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

Sign In/Sign out