https://nuansaislam.com/Isra Miraj

Dalam pendekatan kosa kata bahasa arab, maka akan kita dapati asal kata isra’ itu dari kata sara-yasrii-sirayatan, mengandung arti berjalan di malam hari, beredar, merayap di bawah tanah, mengalir, ketika ditambahhkan huruf hamzah pada kata asalnya menjadi asra-yusri, maka artinya memperjalankan di malam hari, untuk orang yang suka banyak melakukan perjalanan di malam hari disebut as-sarraa’(السراء), adapun bila rombongan yang berjalan di malam hari disebut as-saariyatu(السرية).[1]

Isra’ merupakan mashdar dari kata asra’ yang artinya berjalan di malam hari, kebanyakan pakar bahasa arab berkata bahwa antara sara’ dan asra’ mengandung makna yang sama, akan tetapi sebagian ahli bahasa arab berkata bahwa terdapat perbedaan antara sara’ dan asra’, mereka berkata jika asra’ itu bermakna barang siapa yang berjalan dipermulaan malam, sedangkan sara’ maknanya barang siapa yang berjalan diakhir malam.[2]

Secara istilah isra’ adalah perjalanan nabi Muhammad saw dengan mengendarai hewan yang bernama Buroq, bersama Jibril as dari masjidilharam di Makkah menuju masjidilaqsha di al-Quds Palestina pada malam hari dan kembali ke Makkah pada malam tersebut.[3]

Adapun mi’raj berasal dari kata ‘araja-ya’ruju-‘uruujan, mengandung arti naik, mendaki, [4]adapun mi’raj diartikan tangga yang dipergunakan untuk naik ke langit, dikatakan juga bahwa mi’raj adalah tangga untuk naiknya ruh setelah dicabut dari tubuh.[5]

Secara istilah mi’raj adalah naiknya nabi Muhammad saw kelangit ketujuh dan kembalinya ke bumi pada malam tersebut.[6]

Isra’ dan mi’raj merupakan mu’jizat yang diberikan oleh Allah swt kepada nabi Muhammad saw, adapun waktu kejadiannya adalah terjadi pada malam tanggal 27 bulan Rajab pada tahun ke 12 dari kenabian.[7]kemudian diabadikan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an surat Al_isra’ ayat pertama,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Isra’[17]: 1))

Dalam perjalanan isra dan mi’rajnya, nabi Muhammad saw manaiki kendaraan berupa buroq yaitu hewan yang telah Allah swt berikan kepada nabi saw, sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat muslim,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ، وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ، وَدُونَ الْبَغْلِ، يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ» ، قَالَ: «فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ» ، قَالَ: «فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ»

Dari Anas bin Malik : bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaIhi wasallam bersabda: Didatangkan kepadaku Buraq, seekor tunggangan putih, lebih tinggi dari keledai dan lebih rendah dari baghal, ia berupaya meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya. Setelah menungganginya, maka Buraq itu berjalan membawaku hingga sampai ke Baitul Maqdis. Aku ikat (tambat) tunggangan itu di tempat para Nabi biasa menambatkan tunggangan mereka.(HR. Muslim)

setelah nabi Muhammad saw sampai di masjidilaqsha, nabi saw shalat di masjidilaqsha, mengimami para nabi, setelah itu nabi saw mi’raj kelangit, disetiap lapisan langit nabi saw bertemu dengan para nabi diantaranya, dilangit pertama beliau bertemu dengan nabi Adam as dan ruh yang mati syahid disebelah kanan dan ruh yang yang sengsara berada disebelah kiri nabi Adam as, kemudian naik lagi ke langit kedua, disana bertemu dengan nabi Yahya bin Zakaria dan nabi Isa bin Maryam, kemudian naik lagi kelangit ketiga, disana bertemu dengan nabi Yusuf as, kemudian naik lagi ke langit keempat, disana bertemu dengan nabi Idris as, kemudian naik lagi ke langit kelima, disana bertemu dengan nabi Harun as, kemudian naik lagi ke langit keenam, disana bertemu dengan nabi Musa as, kemudian naik lagi ke angit ketujuh, disana bertemu dengan nabi Ibrahim as, kemudian naik lagi ke Sidratulmuntaha, disanalah nabi saw mendapatkan perintah shalat lima waktu.[8]

Semoga dengan artikel sederhana ini, kita mendapatkan pelajaran dari isra dan mi’rajnya nabi Muhammad saw, dimana yang melatar belakangi Rasulullah saw di isra dan dimi’rajkan oleh Allah swt, adalah kesedihan yang menimpa beliau pada tahun itu dengan wafat istrinya tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib, maka Allah swt memberikan penghiburan kepada Rasulullah saw dengan Isra’ dan mi’raj sebagai wasilah komunikasi beliau dengan Allah swt,  dan untuk kita ummatnya mari kita jadikan ibadah shalat khusunya lima waktu yang merupakan oleh-oleh dari peristiwa isra’ dan mi’raj, sebagai alat komunikasi langsung seorang hamba dengan Rabnya.

Referensi

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, 629
  2. Muhammad Abu Syuhbah, As-Sirah ‘Ala Dhaui Al-Qur’an wa Sunnah,1/408
  3. Ahmad ghalusy, As-Sirah An-Nabawiyah wa Ad-Dakwah fil’ahdilmakki, 385  
  4. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, 913
  5. Ismail Al-Ashbahani, Al-Hujjah fi Bayanilmahjah wa Syarh Aqidah Ahli Sunnah, 1/553
  6. Sa’ad Al-Marshafi, Al-Jaami’ Ash-Shahih li As-Sirah An-Nabawiyah, 4/1483
  7. Muhammad Ath-Thib An-Najar, Al-Qaululmubin fi Sirati Sayyidilmursalin, 153
  8. Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiqulmakhtum, 86

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

Sign In/Sign out