https://nuansaislam.com/Ghulam

Gulam dalam bahasa arab berasal dari kata ghalima-yaghlamu-ghalaman wa ghulaman, mengandung arti dasar berkobar-kobar, kata ghulam secara etimologi mengandung arti anak muda atau pemuda.[1] Ghulam juga bermakna anak usia dari mulai dilahirkan sampai masuk masa usia pemuda.[2]

Ada kata yang semakna dengan ghulam yaitu walad, dimana dalam bahasa arab berasal dari kata walada-yalidu, arti dasarnya melahirkan.[3] kata walad secara etimologi artinya anak yang dilahirkan. Lalu apakah perbedaan antara ghulam dan walad? Kata walad lebih umum karena artinya bisa anak laki-laki dan juga anak perempuan, sementara ghulam lebih khusus untuk anak laki-laki. Walad juga diistilahkan untuk anak yang dilahirkan sebagaimana asli katanya walada yang artinya melahirkan, untuk lebih jelas perbendaannya kita bisa melihat Al-Qur’an.

Penggunaan kata ghulam dan walad terutama dalam surat Ali Imran ayat 40,

قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ ۖ قَالَ كَذَٰلِكَ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Zakariya berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?". Berfirman Allah: "Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya".(QS. Ali-Imran[3]: 40)

ketika nabi Zakaria yang sudah tua tetapi terus berdoa kepada Allah swt agar diberikan keturunan sebagai penerusnya, padahal ketika itu isterinya dalam kondisi mandul, tetapi nabi Zakaria tidak putus asa dengan terus berdoa kepada Allah swt agar diberikan keturunan, maka Allah swt mengutus malaikatnya untuk memberikan kabar, bahwa Allah swt akan memberikan keturunan kepada nabi Zakaria, maka nabi Zakaria bertanya kepada malaikat utusan Allah swt tersebut bagaimanakah aku akan mendapatkan keturunan anak laki-laki, sedangkan istriku sudah tua dan mandul? Dalam pertanyaan nabi Zakaria tersebut, beliau mengungkapkan dengan kata ghulam. Nabi Zakaria menggunakan kata ghulam karena permintaannya yang jelas yaitu keturunan sebagai penerusnya, dan penerus disebut juga khalifah, sedangkan khalifah itu adalah seorang laki-laki, dan Allah swt pun memberikan kepadanya keturunan anak laki-laki yaitu Yahya. Ungkapan ghulam oleh nabi Zakaria juga sesuai karena yang melahirkan bukan nabi Zakaria melainkan istrinya.

Sedangkan kata walad bisa kita lihat dalam surat Ali Imran ayat 47,

قَالَتْ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ ۖ قَالَ كَذَٰلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun". Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia.(QS. Ali-Imran[3]: 47)

ketika Maryam berkata: Ya Tuhanku bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang lelakipun. Dalam ayat ini kata yang diungkapkan oleh Maryam adalah walad, maka itulah I’jaz Al-Qur’an karena kata walad yang artinya anak laki-laki, dan berasal dari kata walada-yalidu artinya melahirkan, diungkapkan oleh Maryam karena beliaulah yang akan melahirkan anak laki-laki tersebut yaitu Isa bin Maryam.  

Semoga artikel sederhana ini, memberikan tambahan ilmu. Dan semoga Allah swt senantiasa memberikan semangat kepada kita untuk terus mempelajari Al-Qur’an dari berbagai sisinya, baik dari segi bahasanya juga penafsirannya.

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir,1015
  2. Al-Mu’jam Al-Wasith
  3. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir,1580

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

Sign In/Sign out