https://nuansaislam.com/Dakwah dan Honor

DAKWAH DAN HONOR

Oleh: Ahmad Yani, Penulis Buku Belajar Karakter Dari Para Nabi, Rp 100.000. WA 0812-9021-953 & 0812-9930-6180

Meluruskan niat agar tetap dalam keikhlasan amat penting. Tugas dakwah yang berat hanya bisa diemban oleh orang-orang yang ikhlas, yakni bersih dan murni karena Allah swt. Keikhlasan membuat tugas berat akan dijalankan dengan perasaan yang ringan, dan tanpa keikhlasan, yang ringanpun akan terasa menjadi berat. Nabi Nuh menunjukkan keihlasannya dalam berdakwah dengan terus berdakwah meskipun tidak banyak orang yang mengikuti dan memujinya, bahkan hingga berabad-abad lamanya. Beliaupun menegaskan tidak meminta upah dari dakwah yang dilakukannya, Allah swt menceritakan dalam firman-Nya: Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah Sedikit pun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya (QS Yunus [10]:72. Lihat juga QS Hud [11]:25).

Sebagaimana Nabi Nuh as, Nabi Hud as juga tidak meminta sesuatu dalam dakwah yang dilakukannya, ia sama sekali tidak minta upah dalam dakwahnya, Allah swt menyebutkan dalam firman-Nya: Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini, Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan (nya)?" (QS Hud [11]:51, lihat pula QS Asy Syuara [26]:127).

Dalam konteks kehidupan sekarang, dakwah para Nabi harus dilanjutkan dan para dai tidak selayaknya meminta upah, imbalan atau bayaran, apalagi sampai menentukan tarif. Namun, bila ada orang memberikannya, boleh saja ia terima karena sifatnya pemberian, bukan permintaan. Seorang dai seperti petani yang pergi ke sawah untuk menggarap sawah agar bisa ditanami padi. Saat mencangkul didapati ada belut, maka belut itu boleh diambil, bawa pulang, goreng dan makan. Tapi, besok pergi ke sawah jangan niat mencari belut, karena belutnya belum tentu ada, sementara  sawah malah acak-acakan, akhirnya belut tidak dapat, padi tidak bisa ditanam. Karena itu, bila ada dai yang bertarif dan sering mempersoalkan bayaran, maka citra dakwah menjadi rusak. Uang tidak seberapa yang diperoleh, tapi citra dakwah menjadi rusak dan kesan yang terbentuk adalah dakwah itu hanya hiburan dan tontonan. Para dai harus mengevaluasi diri dan alhamdulillah tetap saja ada dai yang meneladani Nabi Nuh yang ikhlas dalam dakwahnya.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

Sign In/Sign out