https://nuansaislam.com/Bugarkan Umurmu

Usia yang termakmurkan dengan pengabdian dan penghambaan yang benar, akan lebih panjang umurnya, lebih panjang masanya, tidak hanya di dunia saja namum keindahannya kan tetap ternikmati sampai mati bahkan sampai hidup lagi…

Adalah Rasulullah saw ketika istrinya, Aisyah melihat beliau senantiasa menjalankan Qiyamullail bahkan sampai telapak kaki beliau pecah-pecah, Maka ia pun bertanya, “Kenapa engkau melakukan ini sampai sedemikian rupa padahal Allah sudah megampuni dosa-dosamu baik yang lalu ataupun yang akan datang ? Maka beliau menjawab ,”Afala Akuunu `abdan syakuura“-Tidakkah aku ini (pantas) menjadi hamba yang banyak bersyukur ?? 

Demikianlah cara Rasulullah saw bersyukur.. bersyukur atas anugerah yang besar termasuk di dalamnya adalah mensyukuri umur ini. Bersyukur dengan amal…

Seorang kakek yang hidup di masa pemerintahan Abasiyyah, ditanya oleh salah seorang pejabat di masa itu.  

“Kek, berapakah umur kakek ?” tanya sang pejabat

“Sepuluh tahun, ” jawab sang kakek.

“Jangan bercanda, ” sahut sang pejabat. 

“Benar tuan, umurku baru sepuluh tahun. Enam puluh tahun dari usiaku, telah kuhabiskan dan kulalui dalam dosa dan pelanggaran. Baru sepuluh tahun terahir ini aku mengisi hidupku dengan hal-hal yang memakmurkannya,” demikian jawaban sang kakek.

Ternyata sang kakek hanya menilai umurnya yang diisi dengan ketaatan.  

Di belahan bumi yang lain, Sebut saja namanya “Bejo” seorang kakek yang tinggal di salah satu kampung di Jawa Tengah. Ia tinggal berdua bersama istrinya, membuka warung kelontong yang tidak terlalu besar namun cukup banyak pelanggannya.

Kakek ini bagaimanapun keadannya ketika mendengar seruan adzan berkumandang dari masjid yang ada di kampungnya, lansung bergegas dan mengayuh sepeda ontelnya yang juga sudah termakan usia itu,  memburu sholat jama`ah dimasjid, seakan tak mau sekali pun ketinggalan sholat jama`ah di masjid.  

Sampai seringkali istrinya ngomel, “Piye tho pakne…warunge kok ditinggal wae… ora ditutup ora dilayani wong seng dho tuku” ( gimana si pak… kok warungnya ditinggal begitu aja, ngggak ditutut, para pembeli juga tidak dilayani..) brebet, begitu cepat sang kakek melesat tanpa memperdulikan omelan istrinya…. 

Demikian hal ini terus berulang sekian lama, sampai ketika salah satu cucunya yang tinggal di jakarta pulang dan melihat pemandangan tersebut. Ia pun juga merasa aneh dengan tingkah kakeknya tersebut, sampai akhirnya ia bertanya kepada kakeknya, 

“Mbah … sebenernya ada apa, kok simbah jadi begini?” tanya sang cucu.

“Ngene lho Nduk”(begini lho nak), simbah ini sejak masuk usia baligh, nggak pernah sholat. Nah, sekian tahun lamanya mbahmu iki ora tahu sholat, koe ngerti kan berarti hutang sholatku ookeh tenan (banyak banget). 

Udah mbah itung seluruh hutang sholat mbah selama ini, yaa… jumlah semua hari di kali lima lah… gitu kan ngetungnya nduk ?” “inggeh mbah” sahut cucunya.

“Mbahmu ini dah ngetung dan ketemu jumlah hutang sholate simbah, nah kan sekarang mbahmu ini sudah mau sholat, makanya di sisa umur simbah yang mungkin nggak lama lagi ini, mbah nggak mau ketingalan sholat jamaah di masjid, kan kata pak kyai sholat di masjid itu 27x nilainya dari pada sholat deweaan(sendirian). 

“Insya Allah ketutup hutang sholat simbah”, “Insya Allah ketutup Nduk” berkali-kali sambil melihat ke arah langit, simbah mengulang kata-kata itu dengan penuh keyakinan, bahwa dia akan bisa membayar hutang sholatnya sekian tahun lamanya.

“Wes…Insya Allah ketutup Nduk”, insya Allah ketutup”,  demikian kata-kata itu terekam kuat di benak cucunya, kata-kata yang membahasakan semangat mengisi akhir-akhir umurnya dengan penuh makna. 

Innalillahi wa inna ilaihi raaji`un…. beberapa tahun yang lalu, simbah ini telah berpulang kepada Allah, Ia ditemukan telah wafat di dekat sepeda ontelnya, di jalan menuju masjid tempat biasa ia bergegas menunaikan sholat jama`ah.  

Selamat jalan Mbah Bejo, selamat menikmati khusnul khotimah.

Terimakasih karena engkau telah menjadi guru walau belum pernah bersua.Terimakasih juga kepada sang cucu yang mau membagi pelajaran berharga ini, sekali lagi terima kasih.

Begitulah usia pantas disebut umur, yang dalam bahasa arab kata umur seakar kata dengan ma’mur, jika waktu yang dilalui terisi dengan kebaikan, ketaatan dan keberguanaan. Rasulullah ketika menyebut manusia terbaik, maka beliau sampaikan yang panjang umurnya baik amalnya. Sebaliknya yang manusia terburuk adalah yang panjang usianya namum buruk perangai amalnya. Jadi umur itu tidah hanya bicara berapa lama di bumi namun sebaik apa seorang manusia berlaku baik dalam mewujudkan ibadahnya kepada Allah yang telah menciptakannya.

Allah Subhanahu wa ta’ala ketika menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan demi menguji manusia, maka yang sanjung dalam melewati kehidupan ini, menjalani usia di muka bumi ini adalah yang paling baik amalnya –Ayyukum ahsanu amalaa- bukan hanya yang terlama dan terbanyak. Rasulullah saw juga berpesan bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi daya guna kepada manusia lain.

Semoga usia yang kita jalani termakmurkan dangan kebaikan. Waktu yang sedang dilalui penuh keberkahan; yang baik dipertahankan bahkan bertambah, yang salah dihentikan dan berganti hasanah fiddunya, dan hari-hari kedepan dirahmati sampai kelak mendapat rahmat menggapai kebahagian di syurga. Aamin....

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

Sign In/Sign out