https://nuansaislam.com/Tiga Tanggungjawab Kita

.....

TIGA TANGGUNGJAWAB KITA

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

Ketua Departemen Dakwah PP DMI (Dewan Masjid Indonesia), Ketua Lembaga Dakwah Khairu Ummah, Penulis 50 Judul Buku Manajemen Masjid, Dakwah dan Keislaman,  Trainer Dai, Manajemen Masjid & Menulis

HP/WA 0812-9021-953

Channel Youtube: Khairu Ummah tv

 

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

 

 

Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu.

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Semua kita bersyukur kepada Allah swt, pagi ini masih berkesempatan melaksanakan shalat Idul Fitri meskipun tidak semua bisa melaksanakan di masjid atau tanah lapang, tapi di rumah kita masing-masing bersama keluarga. Wabah Corona membuat kita tetap harus beribadah Ramadhan dan lebaran dalam suasana yang lain. Orang yang memiliki ikatan batin dengan masjid merasakan ibadah Ramadhan yang sangat berbeda, tapi bagi yang tidak biasa ke masjid. bisa jadi biasa-biasa saja. Pada kesempatan ini, mari kita doakan keluarga kita, guru kita, sahabat kita, tenaga medis kita yang telah wafat, baik terkait dengan covid-19 maupun dengan sebab lain, semoga Allah ampuni, rahmati, diluaskan kubur mereka dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. 

Bagi kita, bagaimanapun situasi  dan kondisi Ramadhan, selalu dapat kita ambil hikmah atau pelajaran, setidaknya dari sisi tanggung jawab kita masing-masing dihadapan Allah swt., hal ini karena Allah swt menciptakan kita untuk beribadah atau mengabdi kepada-Nya, bukan untuk main-main, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS Al Mukminun [23]:115)

Pada kesempatan ini akan kita bahas tiga tanggungjawab dihadapan Allah swt. Pertama, tanggungjawab pribadi. Apa yang kita lakukan ada tanggungjawabnya dihadapan Alah swt, karena itu ibadah puasa dan ibadah lain mendidik kita untuk bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan, karena itu laksanakan sesuatu sesuai ketentuan yang benar, jangan ikut-ikutan (Taqlid). Allah swt berfirman:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya. (QS Al Isra [17]:36)

            Harus kita akui bahwa kita tidak bisa tegas kepada diri sendiri, akibatnya kita mudah terpengaruh oleh orang lain. Orang melanggar ketentuan, kitapun ikut melanggar, yang mengkhawatirkan justeru orang yang harus mengambil kebijakan tegas, tapi sering berubah-ubah dan membingungkan. Kematangan berpikir dan kekuatan jiwa memang sangat diperlukan, apalagi bagi para pemimpin.     

Ada banyak yang harus kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah swt, diantaranya disebutkan dalam hadits Rasulullah saw:

لاَتَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ فِى يَوْمِ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَا فَعَلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ

Tidak beranjak seorang hamba dari tempat berdirinya pada hari kiamat sehingga ia ditanya tentang empat perkara: umur untuk apa dihabiskan, ilmu untuk apa diamalkan, harta dari mana ia peroleh dan untuk apa dibelanjakan, jasmani untuk apa dipergunakan (HR. Thabrani).

Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu.

Jamaah Shalat Id Yang Dimuliakan Allah.

Kedua, tanggungjawab keluarga. Selama masa pandemi Corona, kita diserukan untuk tetap berada di rumah, belajar dari rumah, bekerja dari rumah, bahkan beribadah di rumah. Ini mestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi diri seberapa bagus kualitas kita untuk menjadi pendidik dan pembina keluarga. Kadangkala, menafkahi keluarga dengan rizki yang halal saja tidak bisa, apalagi mendidik, padahal tanggungjawab terhadap keluarga sangat jelas, ini ditegaskan Allah swt dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS At Tahrim [66]:6).

            Dalam situasi apapun, keluarga harus memiliki ketahanan, yaitu Pertama, ketahanan nilai sehingga selalu komitmen pada nilai-nilai kebenaran. Kedua, ketahanan ekonomi sehingga memiliki kemandirian ekonomi dengan usaha apa saja yang halal dan tidak gengsi, dalam situasi sekarang ini lebih penting lagi, termasuk sedikit lahan meskipun cuma pot harus kita tanam untuk kelangsungan hidup. Ketiga, ketahanan dalam menghadapi goncangan keluarga, sehingga problematika dihadapi dan ditemukan solusinya. Konsolidasi suami isteri, orang tua dan anak menjadi sangat mendasar, bukan masalah menyebabkan konflik hingga terjadi kehancuran keluarga. Dan Keempat, ketangguhan dalam memainkan peran sosial, sehingga keberadaan keluarga kita dirasakan banyak manfaatnya dalam kehidupan masyarakat, keluarga kita menjadi bagian dari solusi atas masalah, bukan malah penyumbang masalah.

Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu.

Saudaraku kaum Muslimin Yang Mulia.

Ketiga, tanggungjawab mengemban amanah. Pada diri kita tersandang banyak sebutan, dari sebutan yang paling tinggi mulai Presiden sampai Ketua RT, disebut juga tokoh, karyawan, pimpinan, guru, ulama hingga disebut bapak dan ibu, bahkan pribadi biasa. Dibalik semua sebutan itu ada tanggungjawab amanah yang harus dilaksanakan. ketidakteraturan, problematika yang semakin banyak dan besar hingga kekacauan, diantara sebabnya adalah yang mengemban amanah tidak menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya. Karena itu, Rasulullah saw bersabda:

لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ، وَلاَدِيْنَ لِمَنْ لاَعَهْدَلَهُ.

Tidak (sempurna) iman seseorang yang tidak amanah, dan tidak (sempurna) agama seseorang yang tidak menunaikan janji (HR. Ahmad).

            Bila amanah tidak kita tunaikan sebagaimana mestinya, maka kita harus bersiap-siap menanggung akibatnya dalam kehidupan di akhirat nanti, meskipun kematian kita termasuk mati syahid yang sebenarnya sangat mulia, Rasulullah saw bersabda:

اَلْقَتْلُ فِى سَبِيْلِ اللهِ يُكَفِّرُ الذُّنُوْبَ كُلَّهَا إِلاَّ اْلأَمَانَةَ. قَالَ: يُؤْتَ بِالْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ –وَإِنْ قَتَلَ فِى سَبِيْلِ اللهِ- فَيُقَالُ: أَدِّ أَمَانَتَكَ, فَيَقُوْلُ: أَيْ رَبِّ, كَيْفَ وَقَدْ ذَهَبَتِ الدُّنْيَا؟. قَالَ: فَيُقَالُ: اِنْطَلِقُوْا بِهِ إِلَى الْهَاوِيَةِ, فَيُنْطَلَقُ بِهِ إِلَى الْهَاوِيَةِ, وَتُمَثِّلُ لَهُ أَمَانَتُهُ كَهَيْئَتِهَا يَوْمَ دُفِعَتْ إِلَيْهِ, فَيَرَاهَا فَيَعْرِفُهَا, فَيَهْوِيْ فِى أَثَرِهَا حَتَّى يُدْرِكَهَا, فَيَحْمِلَهَا عَلَى مَنْكِبَيْهِ, حَتَّى إِذَا نَظَرَ, ظَنَّ اَنَّهُ خَارِجٌ زَلَّتْ عَنْ مَنْكِبَيْهِ, فَهُوَ يَهْوِيْ فِى أَثَرِهَا أَبَدَ اْلآبِدِيْنَ, ثُمَّ قَالَ: الصَّلاَةُ أَمَانَةٌ, وَالْوُضُوْءُ أَمَانَةٌ, وَالْوَزْنُ أَمَانَةٌ, وَالْكَيْلُ أَمَانَةٌ, وَأَشْيَاءُ عَدَّدَهَا وَأَشَدُّ ذَلِكَ الْوَدَائِعُ

Terbunuh di jalan Allah itu menghapus semua dosa, kecuali amanah. Ia berkata: “Akan didatangkan seorang hamba pada hari kiamat kelak, meskipun ia terbunuh di jalan Allah, lalu dikatakan kepadanya “laksanakan amanahmu”. Ia menjawab: “Ya Rabbi, bagaimana, sedangkan dunia telah sirna?.” Ibnu Mas’ud berkata: “Lalu dikatakan bahwa ia ke neraka hawiyah, iapun dibawa ke neraka hawiyah, lalu amanahnya mewujudkan diri seperti bentuknya ketika diserahkan kepadanya. Kemudian orang itu melihatnya dan mengenalnya, lalu ia turun mengikuti jejak amanah itu hingga ia berhasil mendapatinya, lalu memikulnya di atas kedua pundaknya hingga apabila ia melihat, ia mengira kalau ia sudah keluar, maka amanat itu terlepas dari kedua pundaknya, dan ia kemudian mengejarnya dari belakang selama-lamanya”. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata: “shalat adalah amanah, wudhu adalah amanah, timbangan adalah amanah, takaran adalah amanah, kemudian Ibnu Mas’ud menyebutkan beberapa hal lagi dan yang paling berat adalah barang titipan.” (HR. Baihaki)

            Dengan demikian, kehidupan ini akan berjalanan dengan baik, manakala masing-masing orang menunjukkan tanggungjawabnya masing-masing. Bila tidak, akan terjadi kerusakan pada diri, keluarga, masyarakat hingga bangsa dan negara, bahkan kerusakan secara global. Marilah kita berdoa:

اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ

Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَباَءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

“Ya Allah, hindarkanlah dari kami kekurangan pangan, cobaan hidup, penyakit-penyakit, wabah, perbuatan-perbuatan keji dan munkar, ancaman-ancaman yang beraneka ragam, paceklik-paceklik dan segala ujian, yang lahir maupun batin dari negeri kami ini pada khususnya dan dari seluruh negeri kaum muslimin pada umumnya, karena sesungguhnya engkau atas segala sesuatu adalah kuasa.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

 رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

            Demikian khutbah Id kita hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, Taqabbalallahu Minna Wa Minkum. 

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut