https://nuansaislam.com/Kedudukan Pengurus Masjid

 

 

 

KEDUDUKAN PENGURUS MASJID

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

Ketua Departemen Dakwah PP DMI (Dewan Masjid Indonesia)

 Di masjid-masjid, biasanya ada pengurusnya, yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana kedudukan pengurus  dan bagaimana cara mengaktifkannya?.

Jawaban :     

            Kedudukan pengurus masjid sangat penting, mereka adalah tenaga penggerak bagi jamaahnya dalam upaya memakmurkan masjid. Ini berarti, pengurus menjadi salah satu faktor penentu dalam upaya mencapai pemakmuran masjid. Meskipun potensi jamaah masjid sangat besar seperti pendidikan yang tinggi, wawasan yang luas, ketrampilan yang banyak, dana yang cukup dan sarana atau fasilitas hidup yang memadai, tetap saja tidak membuat masjid menjadi makmur bila mereka tidak digerakkan. Kalau boleh kita ibaratkan, bila ada gelas diisi dengan teh, gula dan air yang panas, tentu tidak secara otomatis hal itu menjadi segelas teh manis, karenanya harus diaduk atau digerakkan. Disinilah pengurus harus mampu menjadi penggerak, yang seharusnya dinamis dan aktif, jangan berdiam diri saja menunggu partisipasi jamaah. Pengurus juga harus kreatif dan tidak boleh bersikap putus asa serta masa bodoh bila jamaahnya kurang aktif. Ketika seseorang telah menyatakan kesediannya menjadi pengurus masjid, semestinya dia merasa bertanggungjawab terhadap kemakmuran masjid.

            Kalau pengurus masjid tidak aktif, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya Pertama, bangkitkan kembali motivasi bahwa menjadi pengurus masjid merupakan tugas yang amat mulia. Kesediaan kita menjadi pengurus masjid merupakan amanah yang tidak boleh kita sia-siakan, karenanya secara formal perlu juga para pengurus itu dimintai kesediaannya menjadi pengurus secara tertulis. Kedua, di awal priode kepengurusan perlu dilakukan pelatihan pengurus untuk menyamakan persepsi dan langkah kerja, karenanya kadangkala ketidak-aktifan seseorang disebabkan perbedaan persepsi dan teknis pelaksanaan tugas. Ketiga, secara rutin dilakukan rapat-rapat pengurus untuk mengevaluasi hasil pekerjaan dan mencanangkan kerja yang lebih baik pada masa-masa mendatang. Keempat, melakukan studi banding ke masjid lain yang lebih maju meskipun hambatan mereka juga banyak. Kelima, pembinaan keimanan dan keislaman pengurus perlu diperkokoh secara khusus karena semakin besar beban seseorang semestinya semakin besar pula bekal yang harus disiapkannya. Untuk menghemat waktu, pembekalan ini bisa juga dilakukan pada waktu rapat pengurus. Keenam, menjalin komunikasi personal atau hubungan yang sifatnya pribadi sehingga mengapa seseorang tidak aktif dalam kepengurusan masjid tidak selalu harus ditanyakan di dalam rapat, tapi melalui pendekatan secara pribadi, baik antara ketua dengan stafnya maupun antara staf dengan staf pengurus lainnya, sehingga ada pendekatan nonformal yang dilakukan, bahkan mungkin saja hal ini bisa lebih efektif.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut