https://nuansaislam.com/Empat Sikap Atas Wabah Penyakit

EMPAT SIKAP ATAS WABAH PENYAKIT

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

Ketua Dept. Dakwah PP DMI, Ketua LPPD Khairu Ummah, HP/WA 0812-9021-953

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Sebagaimana telah sama-sama kita ketahui, bahkan kita rasakan, masyarakat dunia sejak beberapa bulan ini disibukkan dan sangat terganggu dengan wabah virus korona. Enak dan tidak enak dalam hidup ini harus kita posisikan sebagai ujian dari Allah swt, karena saat hidup enak, kita tidak boleh lupa diri dan saat hidup susah, kita tidak tidak boleh putus asa, semua terpulang kepada Allah swt sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

 كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan (QS Al Anbiya [21]:35).

Menghadapi situasi dan kondisi sekarang, melalui khutbah yang singkat ini, setidaknya ada empat hal yang harus kita sikapi. Pertama, Ikhlas dan sabar. Maksudnya adalah jangan berkeluh kesah, namun boleh saja mengemukakan atau menceritakan penyakitnya kepada orang yang berkepentingan, baik kepada keluarga, dokter maupun orang lain agar bisa mengambil tindakan cepat. Berkeluh kesah dalam keadaan sakit merupakan sikap tidak menerima adanya penyakit yang menimpa, apalagi sambil mengatakan hal-hal yang tidak baik dan berperasangka buruk kepada Allah swt. Bila kita sudah menunjukkan kesabaran atas penyakit yang diderita, maka tidak ada alasan bagi Allah untuk tidak mengampuninya, Rasulullah saw bersabda:

مَنْ أُصِيْبَ بِمُصِيْبَةٍ بِمَالِهِ اَوْفىِ نَفْسِهِ فَكَتَمَهَا وَلَمْ يَشْكُهَا إِلىَ النَّاسِ كَانَ حَقًّا عَلىَ اللهِ أَنْ يَغْفِرَلَهُ.

Barangsiapa ditimpa musibah dalam harta atau pada dirinya, lalu dirahasiakannya dan tidak dikeluhkannya kepada siapapun, maka menjadi hak atas Allah untuk mengampuninya (HR. Thabrani).

Salah satu bukti kesabaran seorang muslim dalam menghadapi suatu penyakit meskipun sangat berat dihadapinya adalah tidak meminta atau mengharapkan kematian, namun ia dibolehkan berdo’a dalam kaitan dengan kebaikan, Rasulullah saw bersabda:

لاَيَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ فَاِنْ كَانَ لاَبُدَّ فَاعِلاً فَلْيَقُلْ أَللَّهُمَّ أَحْيِنىِ مَاكَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لىِ  وَتَوَفَّنىِ اِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لىِ

Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian mengharap kematian karena ada kesusahan yang menimpa, tapi jika harus juga berbuat hendaklah ia berdo’a: Ya Allah, panjangkanlah hidupku jika membawa kebaikan untukku dan wafatkanlah aku jika hal itu lebih baik bagiku (HR. Bukhari dan Muslim dari Anas ra).

 

Manakala seorang muslim mampu menunjukkan kesabaran dalam menghadapi musibah, maka hal itu merupakan kegembiraan tersendiri baginya dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat, Allah swt berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْسٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِالصَّابِرِيْنَ اَلَّذِيْنَ اذَاَ اَصَابَتْهُمْ مُصِيْبَةٌ قَالُوْا انَّا لِلَّهِ وَانَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ أُوْلَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ منْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَاُوْلَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang yang shabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa mushibah, mereka mengucapkan: Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji”uun”. (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS Al Baqarah [2]:155-157).

Sidang Jumat Yang Berbahagia.

Kedua, sikap yang harus kita tunjukkan atas wabah penyakit adalah berdoa, hal ini karena Allah-lah yang menyembuhkan penyakit, sedangkan dokter dan obat hanya sebab dari sekian banyak sebab. Karena itu, saat kita sedang dilanda penyakit, seharusnya kita kepada Allah swt agar disembuhkan dari penyakit ini, Allah swt berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِى اَسْتَجِبْ لَكُمْ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo’alah kalian semua kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (tidak mau berdo'a) akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina" (QS Al Mukmin [40]:60).

Ketiga, berobat. Berobat untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang diderita merupakan suatu keharusan bagi manusia, apalagi bagi seorang muslim. Hal ini karena seorang muslim tidak dibenarkan terus menerus berpenyakit dengan membiarkan penyakitnya itu tanpa berusaha mengobatinya, padahal setiap penyakit sudah disediakan oleh Allah swt penyembuh atau obatnya, kecuali bagi orang yang tidak tahu bahwa sebenarnya obatnya telah tersedia, Rasulullah saw bersabda dalam hadits berikut:

مَا اَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ دَاءٍ إِلاَّ وَاَنْزَلَ لَهُ دَوَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ، وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ.

Tiada Allah Azza wa jalla menurunkan suatu penyakit kecuali ia menurunkan pula obatnya, diketahui oleh yang mengetahui dan tidak akan diketahui oleh orang yang tidak mengerti (HR. Bukhari dan Muslim).

Di dalam hadits lain disebutkan:

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيْكٍ قَالَ: كُنْتَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَاءَتِ اْلأَعْرَابُ فَقَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ أَنَتَدَاوَى؟ فَقَالَ: نَعَمْ يَاعِبَادَ اللهِ تَدَوَوْا فَإِنَّ اللهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّوَضَعَ لَهُ شِفَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ. قَالُوْا: مَاهُوَ؟ قَالَ:اَلْهَرَمُ.

Usamah bin Syarik berkata: Sewaktu kami bersama Rasulullah saw, maka datanglah orang Badui, lalu mereka bertanya: “Ya Rasulullah, apakah kami harus berobat?”. Beliau menjawab: “Ya, wahai hamba-hamba Allah, berobatlah kamu, karena Allah tidak menurunkan penyakit melainkan Dia menurunkan pula penyembuhnya, kecuali satu penyakit”. Mereka bertanya: “Apakah itu?”. Beliau menjawab: “Tua” (HR. Ahmad).

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Yang terakhir atau yang keempat, Tidak Keluar Dari Daerah Wabah. Bila penyakit yang diderita merupakan suatu wabah yang cepat tertular dan sangat membahayakan bagi orang lain, maka orang yang sakit tidak boleh keluar dari daerah wabah itu untuk pergi ke daerah lain, kecuali kalau ia sudah diperiksa dan dipastikan tidak terkena wabah tersebut, demikian pula dengan orang yang sehat dari daerah lain tidak boleh mendatangi daerah yang sedang terkena wabah penyakit yang membahayakan, inilah yang sekarang disebut dengan Lockdown atau menutup suatu daerah atau negara. Rasulullah saw bersabda:

إِذَا وَقَعَ الطَّاعُوْنَ بِأَرْضٍ وَاَنْتُمْ بِهَا، فَلاَ تَخْرُجُوْا مِنْهَا وَإِذَا وَقَعَ وَلَسْتُمْ بِهَا فَلاَتَقْدِمُوْا عَلَيْهِمْ.

Apabila terjadi dalam suatu negeri suatu wabah penyakit dan kamu disitu, janganlah kamu ke luar meninggalkan negeri itu. Jika terjadi sedang kamu di luar negeri itu, janganlah kamu memasukinya (HR. Bukhari).

Selain itu, bila penyakit yang diderita bisa menular dan membahayakan orang lain, maka orang yang sakit tapi masih bisa pergi, maka janganlah ia mengunjungi orang yang sehat, Rasulullah saw bersabda:

لاَ يُوْرَدُ مُمْرَضٌ عَلَى مُصِحٍّ.

Janganlah orang yang sakit mengunjungi orang yang sehat (HR. Bukhari dan Muslim).

Jamaah Sekalian Yang Dimuliakan Allah swt.

Dalam konteks wabah korona yang melanda dunia sekarang, maka masing-masing kita harus menjaga dan mendisiplin diri agar tidak sampai terkena virus ini seperti menjaga kebersihan badan, pakaian dan tempat dimana kita berada, ikuti dan taati apa yang diarahkan oleh pemerintah seperti mengurangi aktivitas di luar rumah. Aktivitas shalat berjamaah di masjid tetap kita laksanakan, kecuali kalau sudah ditetapkan sebagai daerah merah yang semua orang harus berada di rumah. Karenanya hal ini sangat tergantung pada situasi dan kondisi setempat. Tidak panik yang sering dikemukakan oleh pemerintah bukan hanya urusan jangan memborong bahan kebutuhan pokok, tapi juga harus tetap menjalankan aktivitas masjid seperti shalat berjamaah dan taklim. Adapun orang yang memang sakit dan mengalami gejala terserang virus, maka ia harus jujur untuk melaporkan diri pada petugas kesehatan di wilayah masing-masing.

Demikian khutbah singkat ini disampaikan, semoga wabah covid-19 ini segera berlalu dan masyarakat dunia bisa mengambil hikmah serta menjadi orang yang taat kepada Allah swt. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut