https://nuansaislam.com/Berdamai dengan Tradisi

Salah satu sangkaan yang—entah benar entah tidak—diarahkan kepada konsep Islam Nusantara adalah pengakuan Islam Nusantara kepada tradisi yang sudah ada sebelum Islam datang. Memang tradisi tersebut sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tidak lagi persis dengan asilnya, namun itu tidak cukup bagi mereka yang tidak setuju kepada konsep Islam Nusantara. Barangkali—sekali lagi, entah benar entah tidak—penentang konsep Islam Nusantara benar-benar hendak menghapus tradisi-tradisi tersebut daripada memodifikasinya.

Saya sendiri tidak tahu secara mendalam mengapa harus ada konsep Islam Nusantara dan mengapa harus ada yang menentangnya. Saya hanya memahami bahwa memang ketika dua tradisi berbeda bertemu, maka pasti terjadi benturan kemudian salah satu tradisi itu mendominasi yang lain atau kedua tradisi melebur hingga lahir tradisi baru yang ciri-cirinya merangkum dua tradisi yang sebelumnya berbenturan. 

Dari pemahaman di atas, saya berkesimpulan bahwa kuat kemungkinan bahwa Islam Nusantara memang mempertahankan tradisi tertentu dan memodifikasinya agar tidak bertentangan dengan ajaran Islam sehingga Islam Nusantara bisa dianggap sedang menjalankan sebuah tradisi. Adapun yang tidak setuju dengan Islam Nusantara juga menawarkan tradisi berbeda yaitu tradisi yang melawan tradisi Islam Nusantara sehingga sehingga terjadilah benturan antara dua tradisi. Sampai kini belum terlihat mana di antara kedua tradisi tersebut yang keluar menjadi dominan karena benturannya pun belum berlangsung cukup lama, sekira baru sedekade. Dan juga belum terlihat ada peleburan antara kedua tradisi yang berbenturan. Sekali lagi karena benturannya belum cukup lama.

Benturan tradisi yang cukup lama sesungguhnya telah terjadi antara Nahdlatul Ulama dengan Muhammadiyah. Jika kita melihat sekarang, maka juga belum terlihat mana tradisi yang menjadi dominan. Dari segi jumlah pelaksana tradisi, Nahdlatul Ulama memang lebih dominan, namun tradisi Muhammadiyah mendominasi juga pada wilayah-wilayah tertentu, misalnya di wilayah perkotaan atau pada masyarakat urban. 

Namun uniknya, pilihan masyarakat tertentu pada sebuah tradisi sering bukan karena kuatnya argumen atau dalil-dalil suci yang dilontarkan tradisi yang dipilih, tetapi lebih karena faktor-faktor pragmatis dan praktis. Hal itu tentu saja bisa dimaklumi karena memahami perdebatan ilmiah, akademis, atau mendalam tentang dalil-dalil yang sedang diperdebatkan diperlukan keahlian tertentu dan tidak banyak yang mampu mengaksesnya. Karena itu, umumnya pilihan orang-orang jatuh kepada tradisi tertentu lebih disebabkan hal-hal praktis, misalnya keluarga besarnya melakukan hal serupa, masyarakat di lingkungannya melakukan hal serupa, pimpinan religius yang dipercayainya melakukan hal serupa, atau bahkan bisa karena aliran politik yang didukungnya melakukan hal serupa. Dan ketika semua itu berubah, maka berubah pula pilihan tradisi orang-orang itu. 

Tapi memang begitulah tradisi. Sebuah tradisi bisa saja dominan dalam kenyataan meskipun dalam benturan dalil-dalil suci tradisi tersebut kalah dominan. Contoh sederhana, hampir semua masyarakat Indonesia percaya pada hantu pocong, meskipun mungkin dalil-dalil yang membuktikan keberadaannya tidak pernah cukup kuat dan kalaupun ada, hanya dialami oleh segelintir orang. Jadilah kepercayaan terhadap adanya pocong tetap mentradisi dalam kehidupan sehari-hari.

Islam Nusantara dengan pembelaannya terhadap tradisi sampai kini masih tetap dominan secara jumlah jika dibandingkan dengan penentangnya. Barangkali itu terjadi karena tradisi yang dibelanya masih dianggap praktis dan tidak terlalu mengganggu perjalanan kehidupan orang-orang secara umum. Atau bahkan dalam ukuran tertentu lebih memudahkan perjalanan kehidupan tersebut. Misalnya, wafatnya seseorang biasanya diikuti oleh acara-acara tertentu yang dianggap tidak Islami oleh para penentangnya, namun acara-acara tersebut tetap berlangsung karena masyarakat Indonesia masih mempunyai waktu yang cukup luang untuk melaksanakannya. Dan dengan cara itu pula, mereka mempererat ikatan solidaritas dengan warga sekitarnya. Mari kita bayagkan jika masyarakat sudah sangat sibuk untuk mengurusi kehidupan pribadinya masing-masing sehingga tidak ada waktu yang cukup untuk melaksanakan acara-acara tertentu yang bisa sangat ribet dan menghabiskan dana, maka dengan sendirinya tradisi itu akan tergerus dan menghilang dan diganti oleh tradisi-tradisi lain. Dengan demikian, sebuah tradisi bisa bertahan bukan karena kuatnya dalil-dalil yang menopangnya tetapi seberapa berguna tradisi itu dipandang oleh masyarakat yang menggunakannya.

Catatan terakhir yang penting di sini adalah sesungguhnya tidak mungkin sebuah tradisi dihilangkan dari muka bumi kecuali jika tradisi tersebut diganti dengan tradisi yang lain karena manusia tidak mungkin hidup tanpa tradisi. Jika para penentang tradisi hendak menghapus sebuah tradisi, maka mereka tidak cukup dengan seperangkat dalil yang kuat, tetapi juga harus menyediakan tradisi pengganti bagi tradisi yang hendak dibuang. Dengan catatan, tradisi baru yang ditawarkan adalah tradisi yang lebih praktis dan berdaya guna bagi kehidupan masyarakat. Jika itu tidak dilakukan, maka tradisi lama akan tetap merajalela dan tetap diamalkan oleh masyarakat.

Memang sebuah tradisi bisa pula menghilang secara tiba-tiba secara revolusioner, tanpa upaya-upaya seperti yang disebutkan di atas, namun itu memerlukan peristiwa yang revolusioner pula. Namun lagi-lagi rumus praktisitas dan tidak memerlukan dalil yang kuat itu tetap berlaku. Misalnya, ketika terjadi pandemi virus Covid-19 seperti sekarang ini. Tanpa perlu mulut berbusa-busa dengan dalil-dalil untuk menentang acara Tahlilan (misalnya), maka tradisi tersebut menghilang dengan sendirinya karena menjadi tradisi yang tidak praktis. Persoalannya, semua berharap pendemi ini lekas berlalu dan jika lekas berlalu, maka orang-orang tidak cukup waktu untuk melupakan tradisi lama mereka dan akan kembali kepada tradisi tersebut jika dianggap masih praktis dan berguna dalam kehidupan bermasyarakat.[]

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut