https://nuansaislam.com/Apa itu Kenyataan?

Pertanyaan tentang kenyataan adalah pertanyaan lama yang masih menjadi pertanyaan hingga sekarang. Apa arti sesungguhnya dari sesuatu yang disebut nyata? Dan bagaimana sesuatu bisa disebut nyata? Apa yang paling fundamental dari kenyataan? [1]

Ada kisah seorang perempuan yang mengangankan memiliki kekasih yang tampan, kaya, menarik, dan pandai. Di sisi lain, ada seorang yang sangat mencintai sang perempuan namun tidak tampan, tidak kaya, tidak menarik, dan tidak pandai. Satu-satunya yang diandalkan oleh laki-laki itu adalah bahwa dia “nyata”, sedangkan kekasih impian sang perempuan dianggapnya “tidak nyata”.

Mari kita lihat kedua “kenyataan” tersebut. Sesungguhnya tidak satupun di antara dua kenyataan tersebut yang bisa mengklaim diri lebih “nyata” dibandingkan yang lain karena “kenyataan” bukanlah properti bendawi seperti “hijau” atau “berat”. Maksudnya, sesuatu disebut nyata tidak semata karena sesuatu itu adalah benda atau memiliki properti bendawi. Karena itu, baik laki-laki impian sang perempuan maupun laki-laki “nyata” yang mencintai sang perempuan tidak bisa dibandingkan mana yang lebih nyata daripada yang lain hanya dengan alasan salah satunya memiliki properti bendawi dan yang lain tidak. Karena itu pula, laki-laki yang mencintai sang perempuan bisa saja mengklaim diri “nyata” tetapi tidak bisa menganggap kekasih impian sang perempuan “tidak nyata”.

Kesimpulan sementaranya, semua yang memiliki properti bendawi (exist) adalah nyata (real), tetapi apakah semua yang nyata (real) memiliki properti bendawi (exist)? Beberapa pemikir menjawab tidak untuk pertanyaan ini: Tidak semua yang nyata (harus) memiliki properti bendawi. Contohnya, mayoritas tokoh-tokoh di dalam novel Tenggelamnja Kapal van der Wijck (1938), karya HAMKA, tidak memiliki properti bendawi (exist), misalnya Zainuddin dan Hayati, tetapi mereka tetap “nyata” (real).

Sesuatu disebut memiliki properti bendawi (existent things) berarti memilik bentuk di dalam ruang dan waktu, misalnya adalah laki-laki yang mencintai sang perempuan, dalam kisah yang disebutkan di awal. Sedangkan sesuatu yang disebut tidak memiliki properti bendawi berari tidak memiliki bentuk dalam ruang dan waktu, misalnya laki-laki impian sang perempuan. Namun sesuatu yang tidak memiliki bentuk di dalam ruang dan waktu bukan berarti tidak nyata (real). Itu hanya berarti bahwa segala yang nyata (real), ada yang memiliki bentuk dalam ruang dan waktu dan ada yang tidak memiliki bentuk di dalam ruang dan waktu. Itu sama saja dengan mengatakan bahwa beberapa yang nyata itu berwarna hijau dan beberapa yang nyata yang lain tidak berwarna hijau.

Kembali kepada tentang Zainuddin dan Hayati, dua tokoh di dalam novel Tenggelamnja Kapal van der Wijck. Keduanya tidak memiliki properti bendawi (exist) atau tidak ada bukti kuat kehadiran Zainuddin dan Hayadi di dalam ruang dan waktu, tetapi ide tentang Zainuddin dan Hayati adalah nyata, meski tidak memiliki bentuk di dalam ruang dan waktu. Para pembaca novel Tenggelamnja Kapal van der Wijck pasti bisa membicarakan dan mendiskusikan dan bahkan tersedu sedan akibat kisah tragis Zainuddin dan Hayati tanpa pernah dibingungkan apakah Zanuddin dan Hayati itu memiliki properti bendawi atau tidak.

Demikian pula pembicaraan tentang apakah Tuhan “nyata” atau “tidak nyata”. Pembicaraan itu berarti tentang apakah Tuhan memiliki properti bendawi (exist) dan apakah Tuhan nyata (real) tanpa properti bendawi. Jelas, pertanyaan tentang apakah Tuhan ada dan pertanyaan tentang apakah ide tentang Tuhan itu ada bukanlah hal yang membingungkan karena Tuhan bisa saja ada tanpa harus memiliki properti bendawi. Ide tentang keberadaan/ketidakberadaan Tuhan berbeda dengan ide bahwa keberadaan/ketidakberadaan Tuhan harus dibuktikan lewat bentuk-Nya di dalam ruang dan waktu.

Setelah membahas secara singkat apa itu nyata, maka kita sampai pada kesimpulan bahwa yang nyata itu ada dan yang ada itu nyata. Dan sesungguhnya tidak ada yang tidak ada; semuanya ada. Kekasih impian sang perempuan itu nyata dan ada meski tidak memiliki properti bendawi. Laki-laki yang mencintai sang perempuan itu juga ada dan dia memiliki properti bendawi. Zainuddin dan Hayati pun ada mekti tidak memiliki properti bendawi. Disebutkan bahwa sesungguhnya semuanya ada karena kita tidak mungkin membicarakan yang tidak ada karena yang tidak ada tidak akan mungkin dibicarakan dan karena itu, yang kita bicarakan pasti ada.

----------

Lalu kita lanjut kepada problem selanjutnya, yaitu: di antara semua yang ada dan nyata, adakah yang lebih fundamental atau lebih mendasar daripada yang lain?

Setiap sesuatu bisa dibedakan antara dirinya dengan atribut yang menempel pada dirinya. Misalnya, kita bisa membedakan antara seseorang dengan beratnya, tingginya, warna rambutnya, dan seterusnya. Boleh disebut orang itu adalah “diri” nya; sedangkan berat, tinggi, dan warna rambutnya adalah “aribut” nya. Mana yang lebih fundamental? Dirinya? Atributnya? Atau ada yang lain? Ada yang berpendapat[2] bahwa yang lebih fundamental bukan dirinya dan bukan atributnya tetapi sesuatu yang lain, yaitu: “bentuk” nya. “Bentuk” adalah: sesuatu yang ideal, abadi, dan tidak berubah yang berada di luar dunia pengalaman. Menurut pendapat ini, segala ada dan nyata yang dialami sehari-hari yang nampak sebagai “diri” dan “atribut” adalah kenyataan yang lebih rendah dibanding “bentuk” karena ada dan nyata yang paling fundamental adalah “bentuk”.

Salah satu bukti bahwa “bentuk” lah yang paling fundamental adalah: “diri” setiap orang berbeda. Atributnya pun berbeda. Berat badannya berbeda, tinggi badannya berbeda, warna kulitnya berbeda, warna rambutnya berbeda, dan seterusnya. Namun karena “bentuk” nya satu, maka kita masih bisa mengenali setiap orang itu sebagai “orang”. Jadi, ada sesuatu pada orang itu yang ideal, abadi, dan tidak berubah sehingga kita bisa mengenalinya. Itulah yang disebut “bentuk”.

Ada juga pendapat berbeda[3] yang menyatakan bahwa yang paling fundamental adalah bukan “bentuk”, bukan “atribut”, tetapi “diri” sesuatu itu. Jika pendapat sebelumnya menganggap “bentuk” orang lah yang lebih fundamental, maka pendapat belakangan ini menyebutkan bahwa “diri” orang lah yang lebih fundamental. Menurut pendapat ini, bukan “diri” yang bergantung pada “atribut”, tetapi “atribut” lah yang bergantung kepada “diri”. Karena itu, warna, ukuran, dan format tidak bisa berdiri sendiri tanpa “diri”. Contoh lain, warna kulit seseorang tidak akan bisa berdiri sendiri terpisah dari “diri” nya.

---------

Problem selanjutnya setelah problem mana yang lebih fundamental: Apakah yang fundamental itu hanya satu atau lebih? Ada yang mengatakan bahwa yang fundamental itu hanya satu. Mereka disebut monis dan pendapatnya disebut monisme. Ada pula yang mengatakan bahwa yang fundamental itu ada dua. Mereka disebut dualis dan pendapatnya disebut dualisme. Ada juga yag mengatakan bahwa yang fundamental itu lebih dari dua. Mereka disebut pluralis dan pendapatnya disebut pluralisme.

Para monis juga terbelah dua meski mereka mengatakan bahwa yang fundamental hanya satu. Ada monis yang berpendapat bahwa yang fundamental itu bersifat material atau terbuat dari materi. Makanya mereka disebut materialis. Dan ada pula yang berpendapat bahwa yang fundamental itu bersifat mental. Mereka disebut idealis. Adapun para dualis, mereka berpendapat bahwa bahwa yang fundamental itu salah satunya material dan salah satunya mental. Di masa kini, yang lebih dominan adalah pandangan bahwa yang fundamental adalah yang material.

----------

Lalu bagaimana dengan “atribut” (kadang juga disebut properti)? Memang sepertinya tidak ada yang mengatakan bahwa “atribut” itu adalah sesuatu yang fundamental. Namun apa sesungguhnya “atribut” itu? Ketika kita menyebutkan sesuatu itu berat atau tinggi, maka apa yang sesungguhnya kita maksud dengan itu? Ada dua jawaban untuk pertanyaan ini. Pertama, “atribut” bukanlah sesuatu yang benar-benar ada tetapi lebih merupakan klasifikasi orang terhadap suatu hal. Misalnya, sesuatu disebut memiliki berat karena dibandingkan dengan yang lebih ringan darinya atau jika diberi ukuran lewat timbangan. Lalu lahirlah pemahaman bahwa sesuatu lebih ringan dari sesuatu yang lain atau lebih berat. Kedua, “atribut” adalah sesuatu yang benar-benar ada dan karena itulah kita bisa mengklasifikasi sesuatu. Misalnya, kita mengelompokkan benda-benda yang berat pada suatu tempat dan benda-benda yang ringat pada tempat lain, maka berat dan ringat itu benar-benar ada pada benda tersebut, bukan karena gara-gara kita mengklasifikasinya seenak kita.

----------

Kesimpulannya, kenyataan adalah segala yang bisa dijangkau oleh indera, rasio, rasa, intuisi, imajinasi, emosi, dan sebagainya serta bisa dalam bentuk pengetahuan, perasaan, dan keyakinan. Karena itu, kenyataan bisa memiliki properti bendawi dan bisa pula tidak memilikinya. Ada yang mengatakan bahwa kenyataan yang paling fundamental hanya satu dan ada yang mengatakan dua dan ada pula yang mengatakan lebih dari dua. Berapapun itu, yang paling fundamental dari kenyataan ada kemungkinan bersifat material dan mungkin pula bersifat mental.

Duren Tiga, 20 Juli 2020

(Artikel ini pernah dimuat di lamuide.wordpress.com)

 

[1] Dirangkai dari beberapa sumber sebagai bahan diskusi pada Kajian Islam Kaffah yang diadakan oleh Nasaruddin Umar Office (NUO) pada Selasa, 21 Juli 2020, jam 09.00-11.00 lewat aplikasi Zoom dan YouTube.

[2] Plato dan dia menyebutnya “form”.

[3] Aristoteles dan dia menyebutnya “substance”.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut