https://nuansaislam.com/Agama dan Corona

oleh Muhammad Rusli Malik*

(Pengasuh Tetap Rumah Kajian Alquran al-Barru [RKAB])

“Ustadz, dalam menghadapi virus Corona, doa apa yang harus kita baca?”

Tidak hanya di saat pandemi Corona, tapi dalam banyak kasus, pertanyaan semacam ini sering muncul. Salahkah? Tentu saja tidak; sejauh yang dimaksud adalah doa yang mengandung untaian-untaian kata yang bermakna pentingnya jiwa bergantung dan merapat kepada Sumber Tertinggi dari segala bentuk kesembuhan. Terutama di masa-masa turbulensi.

Tapi sungguh salah. Jika yang dimaksud adalah bahwa doa bisa menyembuhkan segala penyakit dan menghilangkan masalah-masalah. Karena kalau doa bisa menyembuhkan (segala) penyakit, tentu saja rumah sakit tak dibutuhkan lagi. Profesi tenaga medis sudah kiamat. Sekolah kedokteran menjadi tak berguna.

Kalau doa bisa menyelesaikan masalah, maka manusia tidak perlu repot-repot berpikir. Dan sia-sialah Tuhan mengaruniai akal. Toh semua bisa diselesaikan dengan menengadahkan tangan ke langit. Yang sakit gigi tidak perlu ke apotek. Cukup ambil segelas air putih. Bacakan doa. Minum. Selesai. Sakit giginya bablas. Dan tak berani balik lagi.

Bila istri kesulitan melahirkan, gak perlu operasi sesar. Ambil saja sajadah. Lalu bersimpuh dan berdoa. Anaknya lahir dengan selamat. Dan tak ada ibu mati melahirkan. Krisis ekonomi melanda? Siapa takut. Dan tak perlu data-data. Kurva permintaan dan penawaran, serta segala macam indeks-indeks, hanya bikin habis tinta dan kertas.

Solusinya gampang. Cukup datangi panti asuhan, bersedekah, lalu minta doa dari mereka. Krisis pun berlalu. Dan negara maju bukanlah negara yang paling banyak sekolah dan laboratoriumnya. Tapi yang paling banyak gedung pantinya.

Bahwa doa itu penting, iya. Tidak seorang beragama manapun yang berani membantahnya. Doa adalah niscaya. Terutama bagi mereka yang ingin merendah dan menghamba kepada Khaliknya. Tetapi bahwa penyakit dan semua jenis masalah bisa diselesaikan dengan doa, tunggu dulu. Masing-masing punya jurusannya. Penyakit dan masalah punya jurusannya. Doa juga punya jurusannya. Tidak boleh, dan tidak akan bisa, saling mengintervensi satu sama lain.

Kita tidak bisa merendah dan menghamba dengan meminum obat medis tiga kali sehari. Andai meminumnya seumur hidup sekalipun. Juga tidak akan bisa kita menghadang laju penularan Corona dengan meramaikan salat berjamaah di masjid-masjid. Karena Corona bukanlah entitas spiritual yang bisa diusir melalui doa bersama.

Corona adalah jenis virus. Dan virus adalah entitas mikroorganisme yang hidup selingkungan dengan tubuh jasmaniah kita, yang bisa berpindah dari satu manusia ke manusia lain. Cuma karena sedemikian kecilnya sehingga hanya bisa dilihat dengan menggunakan kacamata khusus yang bernama mikroskop.

Coba virus itu sebesar nyamuk. Tentu masalahnya jadi lebih gampang. Tidak perlu pake renggang sosial (social distancing) dan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) segala—yang menyengsarakan secara ekonomi itu. Hanya saja karena virus sedemikian kecilnya sehingga tidak bisa ditepuk seperti kita menepuk nyamuk.

Selama ilmuwan belum menemukan obatnya, maka cara paling rasional yang bisa dilakukan adalah dengan menghentikan penyebarannya dengan bersama-sama melakukan renggang sosial. Seperti harimau yang masuk ke pemukiman. Selama belum bisa menaklukkannya, maka cara yang paling masuk akal untuk tidak diterkam, adalah dengan mengunci diri dan keluarga (lockdown) di dalam rumah masing-masing.

Dan ingat, virus Corona atau Covid-19 ini jauh lebih berbahaya dibanding harimau. Kucing besar itu tidak pernah memangsa ribuan orang dalam waktu singkat. Saat tulisan ini dibuat, korban meninggal akibat Corona di seluruh dunia sudah mencapai angka 103.536 orang. Hanya dalam waktu sekitar 4 bulan.

Kesimpulannya, virus Corona tidak bisa disembuhkan dengan doa. Karena doa dan virus punya jurusan atau wilayah yurisdiksi yang berbeda. Nabi Nuh as membuat perahu raksasa terlebih dahulu. Setelah siap ditumpangi baru baca doa. Nabi Muhammad saw mengajarkan, hidangan harus tersedia dulu baru baca doa makan. Sebab doa tak akan mengenyangkan. Yang mengenyangkan adalah makanan. Sementara doa membuat kita bersyukur. Jurusannya berbeda.

Ayat berikut menjelaskan bahwa bukan doa yang menjadi obat terhadap penyakit tapi madu.

“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya. Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.” (QS. An-Nahl 16: 69).

*Penulis adalah rsitek dan Penulis Tafsir al-Barru. Juga menulis beberapa buku seperti PUASA: Maju Sambil Tersenyum

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut