https://nuansaislam.com/Sanatun, ‘aamun dan haulun

Menjelang pergantian tahun, mari sejenak kita merenungi makna kata tahun yang digunakan dalam bahasa arab, tahun dalam bahasa arab digunakan dengan beberapa kosa kata yaitu: sanatun(سَـنَـةٌ), ‘aamun(عـَامٌ) dan haulun(حَـوْلٌ), mari sejenak kita kupas setiap kata dari tiga kata tersebut yang diartikan dengan tahun. Kata Sanah dalam bahasa arab berasal dari suku kata sanaa-yasnuu-sunuwwan-wa sanaawatan(سـنـا- يـسـنو- سـنـوّا – و سـنـاوة), dimana kata dasar ini mengandung arti yang cukup banyak, makna tersebut sesuai penggunaan dan rangkaian kata setelahnya, bila diungkapkan dengan sanaa as-sahaabu al-Ardha(سـنا السّحَـابُ الأرْضَ) maka arti kata sanaa adalah mengairi, bila diungkapkan dengan sanaa al-Barqu(سَـنا البَـرْقُ) maka artinya bersinar atau bercahaya, bila diungkapkan dengan sanaa al-Baaba(سَـنَا الـبَـابَ) maka artinya membuka pintu, bila diungkapkan dengan sanat an-Naar(سَـنَـت الـنـَّارُ) maka artinya cahaya  api itu terus naik, bila diungkapkan dengan sanatissamaau(سَـنَـت الـسَّـمـَاءُ) artinya langit menghujani, adapun kata sanatun(سَـنَـةٌ) merupakan bentuk kata bendanya yang diartikan dengan tahun.[1]

Sedangkan kata ‘aamun(عَـامٌ) dalam bahasa arab berasal dari suku kata ‘aama-ya’uumu-‘auman(عـَامَ – يـَعـُوْمُ – عَـوْمًا), kata ‘aama(عـَامَ) juga mengandung arti yang cukup banyak tergantung pengungkapannya, bila diungkapkan dengan ‘aama filmaai(عـَامَ فـِيْ الـمـَاءِ) maka artinya berenang atau mengapung, bila diungkapkan dengan ‘aamatissafinatu fil maai(عـَامَـت السّـفِـيْـنـَةُ فـِيْ الـمـَاءِ) maka artinya kapal itu berlayar, ketika berubah menjadi kata benda yaitu kata ‘aamun(عـَامٌ) maka artinya tahun.[2]

Adapun kata haulun(حَـوْلٌ) dalam bahasa arab berasal dari suku kata haala yahuulu haulan(حـال – يـحـول – حـولا),  mengandung arti dasarnya yaitu berubah, berlalu atau lewat dan menghalangi, sedangkan bentuk kata bendanya yaitu haulun(حَـوْلٌ) yang pluralnya huuul(حُـؤُوْل) dan ahwaalun (أحـْوَالٌ)maka artinya tahun.[3]

Setelah kita mengetahui asal dasar setiap kata dari sanatun, ‘aamun dan haul, ketiga kata tersebut merupakan sinonim diantara satu dan lainnya, namun dalam arti secara istilah terjadi perbedaan, untuk kata sanatun(سَـنَـةٌ) itu ada syarat yang harus terpenuhi yaitu: diketahui angka permulaan dan akhirnya misalkan mulai tanggal 1 januari sampai 31 Desember, subjeknya hadir memenuhi makna didalamnya yang kuat, dan sebaliknya bila tidak ada syarat tersebut maka disebut dengan ‘aamun(عـَامٌ), dan bila diketahui hari permulaan dan akhirnya dari setiap bulan dan tahunnya sampai ketemu tahun berikutnya maka disebut dengan haulun(حَـوْلٌ).

Kita akan mendapatkan perbedaan tersebut bila kita lihat bagaimana Allah swt menggunakan tiga kata tersebut dalam Al-Qur’an, diantara perbedaannya adalah:

Pertama, kata sannatun(سَـنَـةٌ) lebih menunjukkan kepada tahun yang penanggalannya berpatokan kepada matahari, sedangkan ‘aamun(عـَامٌ) menunjukkan tahun yang penanggalannya berpatokan kepada bulan, isyarat ini bisa kita lihat dari firman Allah swt,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا ۚ

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. (QS. At-Taubah[9]: 28)

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa ayat ini diturunkan pada tahun sembilan Hijriah. Ketika itu Rasulullah saw, mengutus Ali r.a.untuk menemani Abu Bakar r.a. di tahun itu. Dan Nabi saw. memerintahkan kepadanya untuk menyerukan pengumuman di kalangan orang-orang musyrik, bahwa sesudah tahun ini tidak boleh lagi ada orang musyrik berhaji dan tidak boleh lagi ada orang tawaf di Baitullah dengan telanjang. Ibadah haji berpatokan dengan bulan dan tahun yang merujuk pada peredaran bulan.[4]

Sedangkan isyarat sanatun(سَـنَـةٌ) menunjukkan tahun yang berpatokan kepada peredaran matahari, bisa dilihat dari firman Allah swt,

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).(QS. Al-Kahfi[18]: 25)

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa ayat ini menurut berita yang ada di tangan orang-orang Ahli Kitab, ashabul kahfi tinggal selama tiga ratus tahun tanpa tambah­an sembilan tahun, menurut perhitungan tahun syamsiyyah atau peredaran matahari.[5]

Kedua, secara umum penempatan kata sanatun(سَـنَـةٌ) pada ayat-ayat Al-Qur’an lebih dominan menunjukkan makna kondisi susah dan keburukan, sedangkan kata ‘aamun(عـَامٌ) ditempatkan pada ayat-ayat bermakna kondisi kebaikan. Hal ini bisa kita pahami pada satu ayat yaitu,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.(QS. Al-Ankabut[29]: 14)

Pada ayat diatas terdapat dua kata bersamaan yaitu kata sanatin (سَنَة) dan ‘aaman(عـَامًا), para ulama tafsir berbeda pendapat dalam memaknai dua lafazh sanatin dan ‘aaman, diantaranya imam Zamakhsyari berkata: perbedaan diantara keduanya hanya dari sisi balaghah Al-Qur’an saja,[6],  adapun Ar-Raghib Al-Ashfahani berkata: penggunaan kata sanatin untuk menunjukkan arti sangat atau keras(شِـدّة), kelaparan(جـدب), jahat(شَـر), kekeringan (قحـط), sedangkan kata ‘Aamun lebih menunjukkan makna yang sebaliknya yaitu kemakmuran(رخـاء), kenyamanan(راحة), kebaikan(خـيـر) dan kesejahteraan(رفـاهـية).[7]

Ketiga, orang arab dahulu menggunakan kata ‘aamun (عـَامٌ) untuk tahun suatu kejadian besar yang terjadi pada masa rentang tahun tertentu, maka mereka mengatakan tahun gajah, sedangkan sanatun(سَـنَـةٌ) lebih digunakan pada tahun angka.

Keempat, untuk kata haulun(حَـوْلٌ) para ulama sepakat memaknai tahun dengan jumlah 12 bulan, hal demikian ditegaskan karena adanya ayat yang dipahami bahwa haul itu satu tahun dengan jumlah bulannya 10 bulan setengah, mereka berdalil dengan firman Allah swt,

وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ

Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan(QS. Al-Ahqaf[46]: 15)

Dan firman Allah swt,

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh(QS. Al-Baqarah[2]: 233)

Mereka memahami bahwa 30 bulan dalam surat Al-Ahqaf itu waktu hamil dan menyusui sampai menyapih, sedangkan menyapih itu waktunya 2 tahun dalam surat Al-Baqarah, pada umumnya wanita hamil itu 9 bulan, sehingga 30 bulan itu bila dikurangin 9 sisanya 21 bulan, maka masa menyusui dua tahun itu pertahunnya yang disebut haul adalah 10,5 bulan.

Pendapat ini dibantah oleh para ulama, karena tidak ada dalil pasti dari Al-Quran dan sunnah kalau waktu hamil itu 9 bulan, waktu hamil wanita itu bisa 6 bulan, 7 bulan, 8 bulan dan 9 bulan, sebagaimana dalam tafsir ibnu katsir disebutkan bahwa:

Masa mengandung yang paling pendek ialah enam bulan. Ini merupakan kesimpulan yang kuat lagi benar dan disetujui oleh Usman r.a. dan sejumlah sahabat lainnya.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar telah meriwayatkan dari Yazid ibnu Abdullah ibnu Qasit dari Ma'mar ibnu Abdullah Al-Juhani yang menceritakan bahwa seorang lelaki dari kalangan kami pernah menikahi seorang wanita dari Bani Juhainah. Dan ternyata wanita itu melahirkan bayi dalam usia kandungan genap enam bulan. Lalu suaminya menghadap kepada Usman r.a. dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Maka Usman memanggil wanita tersebut. Setelah wanita itu berdiri hendak memakai pakaiannya, saudara perempuan wanita itu menangis. Lalu wanita itu berkata, "Apakah yang menyebabkan engkau menangis? Demi Allah, tiada seorang lelaki pun yang mencampuriku dari kalangan makhluk Allah selain dia (suaminya), maka Allah-lah Yang akan memutuskan menurut apa yang dikehendaki-Nya terhadap diriku."

Ketika wanita itu telah dihadapkan kepada Khalifah Usman r.a., maka Usman r.a. memerintahkan agar wanita itu dihukum rajam. Dan manakala berita tersebut sampai kepada sahabat Ali r.a., maka dengan segera Ali mendatangi Usman, lalu berkata kepadanya, "Apakah yang telah dilakukan oleh wanita ini?" Usman menjawab, "Dia melahirkan bayi dalam enam bulan penuh, dan apakah hal itu bisa terjadi?" Maka Ali r.a. bertanya kepada Usman, "Tidakkah engkau telah membaca Al-Qur'an?" Usman menjawab, "Benar." Ali r.a. mengatakan bahwa tidakkah engkau pernah membaca firman-Nya: Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15) Dan firman Allah Swt.: selama dua tahun penuh. (Al-Baqarah: 233) Maka kami tidak menjumpai sisanya selain dari enam bulan, Usman r a berkata, "Demi Allah, aku tidak mengetahui hal ini, sekarang kemarikanlah ke hadapanku wanita itu." Ketika mereka menyusulnya, ternyata jenazah wanita itu telah dimakamkan.

Abdullah ibnu Qasit mengatakan bahwa Ma'mar berkata "Demi Allah, tiadalah seorang anak itu melainkan lebih mirip dengan rupa orang tuanya. Ketika ayahnya melihat bayinya, lalu si ayah berkata, ini benar anakku, demi Allah, aku tidak meragukannya lagi'."

Ma'mar mengatakan bahwa lalu ayah si bayi itu terkena cobaan muka yang bernanah di wajahnya sehabis peristiwa tersebut, yang mana luka itu terus-menerus menggerogoti wajahnya hingga ia mati.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan atsar ini yang telah kami kemukakan dari jalur lain dalam tafsir firman-Nya: maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu). (Az-Zukhruf: 81); Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Farwah ibnu Abul Migra telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Misar, dari Daud ibnu Abu Hindun dan Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa apabila seorang wanita melahirkan bayi setelah sembilan bulan, maka cukuplah baginya menyusui bayinya selama dua puluh satu bulan. Apabila dia melahirkan bayinya setelah tujuh bulan, maka cukup baginya dua puluh tiga bulan menyusui anaknya. Dan apabila ia melahirkan bayinya setelah enam bulan maka masa menyusui bayinya adalah genap dua tahun, karena Allah Swt. telah berfirman: Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. (Al-Ahqaf: 15)[8]

 Demikianlah artikel singkat tentang tahun dalam bahasa arab dengan penggunaan kata sanah, ‘amun dan haul, dan bagaimana penggunaannya dalam Al-Qur’an, semoga bermanfaat untuk kita semua. MS

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir,670
  2. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir,987
  3. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir,310
  4. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anil’azhim, 2/455
  5. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anil’azhim, 3/109
  6. Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyaaf, At-Tahrir wa At-Tanwir, 20/146
  7. Ar-Raghib Al-Ashfahani, Mufradat Al-Fazh Al-Qur’an, 2/140
  8. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anil’azhim, 4/198

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut