https://nuansaislam.com/Tiga Wasiat Nabi

TIGA WASIAT NABI

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

Ketua Dept. Dakwah PP DMI, Anggota Komisi Dakwah MUI Pusat, Ketua LPPD Khairu Ummah, Trainer Dai, Manajemen Masjid dan Majelis Taklim, Penulis 55 Buku

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

Mendapatkan wasiat atau nasihat dari orang yang baik merupakan sesuatu yang amat berarti dalam perjalanan hidup kita. Nasihat membuat kita menjadi tahu prinsip-prinsip hidup yang baik dan benar. Bahkan membuat kita ingat apa yang sudah kita lupa dan memperoleh motivasi untuk memperbaiki hidup. Bila nasihat dari banyak orang begitu penting, apalagi bila nasihat itu dari Nabi kita Muhammad saw.

Karena itu, para sahabat sering meminta nasihat kepada Rasulullah saw, salah seorang diantaranya adalah Muadz bin Jabal ra. dia berkata:

يَارَسُوْلَ اللهِ, أَوْصِنِى. قَالَ: عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ مَا اسْتَطَعْتَ, وَاذْكُرِ اللهَ عِنْدَ كُلِّ حَجَرٍ وَشَجَرٍ, وَمَا عَمِلْتَ مِنْ سُوْءٍ فَأَحْدِثْ لَهُ تَوْبَةً, اَلسِّرُّ بِالسِّرِّ وَالْعَلَانِيَةُ بِالْعَلَانِيَةِ

Ya Rasullah, berilah wasiat kepadaku. Beliau bersabda: Bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu, berdzikirlah kepada Allah di setiap batu dan pohon, dan jika engkau melakukan suatu perbuatan buruk (dosa), maka perbaruilah untuknya taubatmu (bertaubat lagi). Jika perbuatan buruk dengan sembunyi-sembunyi, maka taubatnya juga dengan cara sembunyi-sembunyi, dan jika perbuatan itu dengan terang-terangan, maka taubatnya juga dengan terang-terangan (HR. Tabrani).

            Dari hadits di atas, Rasulullah saw menekankan tiga hal kepada kita semua. Pertama, taqwa yang optimal. Taqwa disepakati maknanya dalam arti melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Sifat yang mulia ini merupakan sesuatu yang amat penting, karenanya semua Nabi menekankan kepada umatnya untuk bertaqwa kepada Allah swt, sebagaimana firman-Nya:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا

Dan kepunyaan Allahlah apa yang di langit dan di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertaqwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji (QS An Nisa [4]:131).

 Taqwa yang sebenar-benarnya selalu ditunjukkan dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga, bahkan dimanapun seseorang berada, Rasulullah saw bersabda:

إِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَاكُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَاوَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertaqwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, maka ia dapat menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik (HR. Thabrani)

 

Menunjukkan taqwa dimanapun dan dalam situasi serta kondisi yang bagaimanapun memang bukan perkara mudah, begitu banyak kendala dan tantangannya, tapi seorang muslim tidak boleh menyerah dengan keadaan. Karena itu, Rasulullah saw menekankan untuk bertaqwa sesuai dengan kemampuan, dan kemampuan itu memang harus selalu ditingkatan sehingga semakin banyak perintah yang bisa dilaksanakan dan larangan-Nya yang bisa ditinggalkan.

 

Oleh karena itu, setiap kita harus melakukan muhasabah atau evaluasi diri, sudah seberapa besar ketaqwaan kita dalam berbagai aspek kehidupan yang kita jalani. Karena bila kita evaluasi, bisa jadi kondisi kita sebenarnya sanggup untuk menunjukkan ketaqwaan, tapi karena adanya godaan-godaan kehidupan membuat kita merasa tidak sanggup, apalagi begitu banyak manusia yang pandai membuat alasan, bahkan tidak sedikit orang yang dengan mudah menggunakan dalil pembolehan, sesuatu yang tidak boleh dengan alasan terpaksa atau darurat.

Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Kedua yang merupakan nasihat atau wasiat Nabi kepada kita adalah berdzikir dimana Saja. Di dalam Islam ada perintah yang ditentukan waktunya seperti shalat, puasa dan haji. Ada pula perintah yang ditentukan tempatnya seperti haji yang harus ke Makkah. Ada pula perintah yang dibatasi bilangannya seperti shalat yang ditentukan bilangan rekaatnya, puasa yang dibatasi pada bulan Ramadhan saja dan sebagainya. Bahkan ada pula ibadah yang terlarang seperti puasa pada hari raya idul fitri atau idul adha. Hanya ada satu perintah yang tidak dibatasi tempatnya dalam arti dimana saja, tidak dibatasi waktunya yakni kapan saja dan dalam situasi serta kondisi yang bagaimanapun juga, bahkan tidak dibatasi jumlah bilangannya, yakni lakukan sebanyak-banyaknya, yaitu dzikir kepada Allah swt sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا

Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (QS Al Ahzab [33]:41-42).

Manakala dzikir selalu kita laksanakan, maka ketenangan akan kita rasakan. Kesenangan hidup akan kita iringi dengan dzikir hamdalah, musibah yang menimpa akan kita iringi dengan dzikir inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, bahkan kalau kita berdosa kita bisa dzikir dengan istighfar, Inilah maksud firman Allah swt:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram  (QS Ar Ra’du [13]:28).

Jamaah Jumat Yang Berbahagia.

Wasiat Nabi saw kepada kita yang ketiga adalah memperbaharui taubat. Hati dan jiwa bagaikan kertas putih. Dosa yang kita lakukan menyebabkan ada titik hitam yang bila banyak dosanya, banyak pula titik-titik hitam itu, bahkan kertas yang putih itu bisa berubah menjadi hitam.  Karena itu, bersihkan hati kita dari dosa dengan cara bertaubat yang harus dilakukan sesegera mungkin, Allah swt berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa (QS Ali Imran [3]:133).

Taubat yang sudah kita laksanakan dengan sungguh-sungguh dan semurni-murninya akan membuat hati bisa kembali bersih, bahkan banyak orang yang semula bergelimang dalam dosa, berubah menjadi jauh lebih baik, Rasulullah saw bersabda:

التاَّ ئِبُ مِنَ الذَنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ

Orang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak menyandang dosa (HR. Thabrani).

Keharusan bertaubat dengan sungguh-sungguh membuat seorang muslim tidak boleh malu-malu untuk bertaubat, bahkan taubat seharusnya bisa dilakukan sebagaimana dosa itu dilakukan, bila dosa secara tersembunyi, maka taubatnya boleh tanpa diketahui orang lain, tapi bila dosa dilakukan secara terbuka dan diketahui orang banyak, maka taubatnyapun harus terbuka dan diketahui orang banyak, Rasulullah saw bersabda:

إِذَا أَحْدَثَ ذَنْبًا فَاحْدُثْ عِنْدَهُ تَوْبَةً إِنْ سِرًّا فَسِرًّا وَإِنْ عَلاَنِيَةً فَعَلاَنِيَةً

Apabila kamu melakukan dosa, maka lakukanlah pula taubat. Apabila (dosa itu) dirahasiakan maka taubatnya juga dirahasiakan dan apabila dosa itu terang-terangan, maka taubatnyapun terang-terangan pula (HR. Ad Dailami).

Sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan hati sesudah bertaubat, maka taubat itu harus dilakukan secara berulang-ulang, seperti orang yang membersihkan lantai yang harus dilakukan berulang-ulang setiap harinya agar semakin terjamin kebersihannya. Karena itu, Rasulullah saw mengajarkan dan mencontohkan taubat yang diulang-ulang, beliau bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً 

“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” [HR. Bukhari]

 

Bila kita sudah taubat, maka Allah swt amat senang, bahkan kesenangannya melebihi orang yang menemukan kembali kendaraannya yang hilang di tengah hutan saat ia sudah menempuh perjalanan yang begitu jauh dan harus kembali lagi ke rumahnya, Rasulullah saw bersabda:

 اَللهُ أَفرحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيْرِهِ وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضٍ فَلاَةٍ

Sesungguhnya Allah lebih suka menerima taubat seorang hamba-Nya, melebihi dari kesenangan seseorang yang menemukan kembali dengan tiba-tiba untanya yang hilang daripadanya di tengah hutan (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Demikian khutbah Jumat kita yang singkat pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama dan memotivasi untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt, amiin.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيمِ

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut