https://nuansaislam.com/Jabal

Jabal secara bahasa dalam bahasa arab berasal dari suku kata jabala-yajbulu-jablan(جَـبـلَ-يَـجْـبُـلُ-جَـبْـلًا), mengandung arti menciptakan dan membentuk, ketika huruf ba(ب) nya diberikan tasydid menjadi kata jabbala (جَـبَّـلَ)maka artinya memotong-motong, ketika ditambahkan huruf alif  (ا)didepannya menjadi kata ajbala(اَجْـبَـلَ) maka artinya adalah gagal, ketika ditambahkan huruf ta(ت) didepannya dan huruf ba (ب)nya di tasydidkan menjadi kata tajabbala(تَـجَـبَّـلَ) maka artinya berdiam atau tinggal di gunung, kemudian terbentuk dari kata jabala beberapa kata diantaranya al-Jablu(الجَـبْـلُ) yang artinya hal yang bisa diremas seperti plastik juga bermakna yang banyak. Kata bentukkan lainnya adalah al-Jublu(الجُـبْـلُ) artinya pohon yang kering, kata bentukan lainnya al-Jabilu(الجَـبِـلُ) artinya yang kasar, kata bentukan lainnya adalah al-Jibillah(الجِـبِـلَّـة) artinya tabiat atau perangai dan kata bentukan lainnya adalah al-Jabal(الجَـبَـلُ)  artinya gunung yang pluralnya jibaal(جِـبال) dan ajbaal(اجْـبَال).[1]

Kata jabal dalam Al-Quran terulang sebanyak 39 kali, dengan rinciannya dalam bentuk tunggal dengan kata jabal terulang sebanyak 6 kali yaitu dalam surat Al-Baqarah ayat 260, 2 kali dalam surat Al-A’raf ayat 143, dan ayat 171, surat Hud ayat 43 dan surat Al-Hasyr ayat 21,  dalam bentuk plural dengan kata jibal terulang sebanyak 33 kali, yaitu dalam surat Al-A’raf ayat 74, surat Hud ayat 42, surat Ar-Ra’d ayat 31, surat Ibrahim ayat 46, surat Al-Hijr ayat 82, surat An-Nahl ayat 68 dan 81, surat Al-Isra ayat 37, surat Al-Kahfi ayat 47, surat Maryam ayat 90, surat Thaha ayat 105, surat Al-Anbiya’ ayat 79, surat Al-Hajj ayat 18, surat An-Nur ayat 43, surat Asy-Syura ayat 149, surat An-Naml ayat 88, surat Al-Ahzab ayat 72, surat Saba ayat 10, surat Fathir ayat 27, surat Shad ayat 18, surat Ath-Thur ayat 10, surat Al-Waqi’ah ayat 5, surat Al-Haqqah ayat 14, surat Al-Ma’arij ayat 9, surat Al-Muzzammil ayat 14, surat Al-Mursalat ayat 10, surat An-Naba’ ayat 7 dan 20, surat An-Nazi’at ayat 32, surat At-Takwir ayat 3, surat Al-Ghasyiyah ayat 19 dan surat Al-Qari’ah ayat 5.

Jabal dengan arti gunung, merupakan ayat dari ayat Allah swt di bumi, hal tersebut bisa kita amati di dalam Al-Qur’an dimana penyebutan kata jabal sering beriringan dengan kata Al-Ardhu(الأرض) yang artinya bumi, hal demikian karena bumi membutuhkannya sebagai keseimbangan dimana gunung sebagai pasaknya, sebagaimana firman Allah swt,

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا(6) وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا(7)

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?,(QS. An-Naba’[78]: 6-7)

Gunung juga diiringi dengan kata sungai, karena bagaimanapun ketika hujan maka air akan mengalir dari dataran tinggi seperti gunung kedataran rendah, maka aliran airnya itulah disebut dengan sungai, sebagaimana firman Allah swt,

وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا

Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya.(QS. Ar-Ra’d[13]: 3)

Namun curah hujan yang berbeda-beda disetiap pegunungan maka setelah turun hujan akan tumbuhlah tumbuhan yang hijau tetapi di pegunungan yang berada diwilayah yang sangan tandus seperti gurun pasir atau bahkan di wilayah yang terlalu dingin sehingga salju turun sepanjang tahun maka gunung-gunung tersebut akan berbeda warnanya, sebagaimana firman Allah swt,

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا ۚ وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ

Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.(QS. Fathir[35]: 27)

Allah swt menciptakan gunung sebagai pasak di bumi, dimana Allah swt menurunkan manusia ke bumi dan menjadikannya sebagai tempat tinggal untuk waktu sementara sampai ajalnya tiba, maka manusia menjadikan bumi itu beragam manfaat, diantaranya gunung sebagai benteng untuk berlindung dari musibah dan lainya, juga sebagai tempat tinggal, sebagaimana firman Allah swt,

قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ

Anaknya(Nuh as) menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!(QS. Hud[11]: 43)

وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ

Dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman.(QS. Al-Hijr[15]: 82)

Gunung yang mempunya nilai pisik yang kuat, penciptaannya memberikan pelajaran keimanan kepada manusia, dari mulai mengenal Allah swt, mentauhidkanNya, menyembahNya dengan bersujud kepadaNya, diiringi juga dengan dzikir dan penuh rasa takut akan amanah ketika ditawarkan kepada mereka, hal demikian tercermin dari beberapa firman Allah swt,

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".(QS. Al-A’raf[7]: 143)

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا . لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا . تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا

Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak".. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar,. hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh,(QS. Maryam[19]: 88-90)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ ۗ وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.(QS. Al-Hajj[22]: 18)

إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ

Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi,(QS. Shad[38]: 18)

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا


Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,(QS. Al-Ahzab[33]: 72)

Dan diantara keimanan adalah kita mengimani akan datangnya hari akhir atau kiyamat, maka gunung juga Allah swt jadikan sebagai tanda akan datangnya kiyamat, hal demikian tercermin dari firman Allah swt,

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ(13) وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً(14) فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ(15)

Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup. dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat,(QS. Al-Haqqah[69]: 13-15)

يَوْمَ تَرْجُفُ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيبًا مَهِيلًا

Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang berterbangan.(QS. Al-Muzzammil[73]: 14)

Allah swt menggambarkan datangnya kiyamat diantaranya dengan gunung-gunung yang bergoncang kemudian hancur lebur menjadi debu dan tumpukan pasir, dikenal juga dengan istilah erupsi, tak terbayangkan bagaimana dahsyatnya saatnya tiba kiyamat, dengan semua gunung-gunung di bumi digoncangkan, bebera hari yang lalu dengan erupsinya satu gunung semeru saja kita yang jauh bisa ikut merasakan bagaimana dahsyatnya, hal itu terlihat dari kerusakan yang begitu parah yang diakibatkan dari erupsi gunung semeru di kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur, semoga Allah swt memberikan kesabaran kepada saudara-saudara kita yang terdampak erupsinya gunung semeru, dan Allah swt ganti dengan yang lebih baik, dan kita yang tidak terdampak semoga mendapat pelajaran dan semakin mengokohkan keimanan kita kepada Allah swt khususnya iman kepada hari kiyamat.MS

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir,165

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut