https://nuansaislam.com/Al-Qur’an sebagai Rujukan Literasi Pendidikan dan Pengetahuan

Jika yang dimaksud Al-Qur’an adalah mushaf, maka agak mudah menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah rujukan literasi karena makna literasi pada awalnya adalah kemampuan membaca dan menulis. Karena itu, dulu ada, gerakan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an yang merupakan upaya peningkatan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an dan itu maksudnya adalah mushaf Al-Qur’an.

Namun makna literasi juga mengalami perkembangan dan sudah meninggalkan makna awalnya. Kini literasi sudah menjangkau makna: kemampuan mengambil kesimpulan dari informasi yang diterima, kemampuan berfikir kritis sebelum bertindak, hingga kemampuan berbudi pekerti yang baik. Apakah Al-Qur’an sebagai rujukan literasi juga bisa bermakna demikian? 

Sekali lagi, pembicaraan ini untuk sementara memaksudkan Al-Qur’an sebagai mushaf. 

Pada dirinya sendiri, Al-Qur’an adalah sebuah kitab yang bisa melatih pembacanya untuk bersikap bijak terhadap limpahan informasi yang datang lalu melakukan seleksi sebelum menyimpulkan. Misalnya, di dalam Al-Qur’an tidak disebutkan dengan jelas siapa “yang gagal” disembelih oleh Nabi Ibrahim as. Apakah Nabi Ismail as atau Nabi Ishak as? Para mufassir pun tidak sepakat pada satu nama walaupun belakangan banyak mufassir yang menyebutkan Nabi Ismail as. 

Pada dasarnya, Al-Qur’an mengajarkan beberapa hal penting dalam hal ini. Di antaranya, untuk merespon problem seperti itu, diperlukan penguasaan sejarah yang baik. Karena itu, sebelum menyimpulkan siapa yang disembelih, maka penguasaan pengetahuan sejarah mutlak dimiliki. Lalu, tidak kalah pentingnya adalah memahami ada apa di balik perebutan nama nabi yang gagal disembelih. Jangan-jangan di baliknya adalah perdebatan teologis yang dalam. Mengapa umat Islam ngotot bahwa yang disembelih adalah Nabi Ismail as dan Yahudi-Nasrani ngotot bahwa Nabi Ishak as lah yang disembelih? Untuk itu, diperlukan penguasaan pengetahuan terhadap politik ilmu pengetahuan.

Yang tidak kalah penting dalam kasus di atas adalah pertanyaan: Mengapa Al-Qur’an sendiri tidak menentukan siapa yang gagal disembelih? Jangan-jangan perdebatan tentang siapa bukanlah hal penting bagi Al-Qur’an tetapi yang penting adalah pesan yang hendak disampaikannya.

Lalu, pada dirinya sendiri, Al-Qur’an adalah sebuah kitab yang melatih pembacanya untuk bersikap kritis sebelum bertindak. Barangkali, Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab yang menantang pembacanya untuk berfikir kritis. Salah satu tantangan yang paling masyhur dari Al-Qur’an adalah penentang Al-Qur’an ditantang untuk membuat kitab yang sama atau mirip dengan Al-Qur’an. 

Menurut saya, sebagaimana tercantum di dalam ayat-ayat tantangan tersebut, tantangan itu berisi dua elemen. Pertama, elemen tantangan untuk membuat sesuatu seperti Al-Qur’an; dan kedua, kepastian ketidakmampuan para penantang untuk memenuhi tantangan tersebut.

Biasanya umat Islam terpaku pada elemen kedua, yaitu ketidakmampuan siapapun untuk memenuhi tantangan. Padahal sesungguhnya elemen pertama lah yang penting. Jika elemen kedua yang dipentingkan, maka umat Islam hanya akan sampai pada tahap awal literasi, yaitu “pemberantasan buta baca-tulis Al-Qur’an” dan puncaknya adalah festival tilawah, tahfizh, dan tafsir Al-Qur’an. Adapun peradaban Islam, tidak akan ada perubahan.

Bagaimana jika elemen pertama yang diutamakan? Peradaban Islam akan maju pesat. Tentu saja ada kekhawatiran tertentu karena konteks ayat adalah penantangan terhadap mereka yang tidak mengakui kebenaran Al-Qur’an. Namun, kritisisme memang berawal dari negasi atau penolakan lalu muncul kebaruan. Tanpa penolakan, maka tidak akan ada kebaruan. Lagi pula, umat Islam sudah terlanjur beriman jadi tidak mungkin perlawanannya dalam kerangka pengingkaran. Perlawanan umat Islam hanya dalam rangka sparring partner. Ibarat menantang M.Quraish Shihab dan hendak menciptakan tafsir yang menandingi Tafsir Al-Mishbah, maka kalaupun kalah, maka paling tidak sebuah tafsir baru telah lahir dan jika bukan nomor satu mengkudeta Tafsir Al-Mishbah, maka menjadi nomor dua setelahnya bukanlah hal yang buruk.

Lalu, yang terakhir dari perkembangan makna literasi adalah kemampuan berbudi pekerti yang baik. Al-Qur’an itu sendiri disebut sebagai akhlaknya Nabi Muhammad Saw. Apakah itu berarti akhlak Nabi merujuk kepada Al-Qur’an? Sepertinya tidak. Tidak seperti umatnya yang secara kasat mata terpisah dari Al-Qur’an sehingga umatnya bisa menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan. Nabi dan Al-Qur’an bukanlah paket terpisah karena Al-Qur’an muncul dari kedalaman sanubari Nabi setelah dianugerahkan oleh Allah SWT. Nabi tumbuh bersama Al-Qur’an hingga boleh dikatakan bahwa Nabi adalah Al-Qur’an itu sendiri dan Al-Qur’an adalah Nabi itu sendiri.

Dengan pemahaman di atas, maka bisa dikatakan bahwa ketika disebutkan mukjizat utama Nabi Muhammad Saw adalah Al-Qur’an, maka bisa pula disebutkan mujizat utama Nabi adalah akhlak mulia. Dengan pemahaman seperti itu, maka Al-Qur’an tentu saja bisa melatih kemapuan berbudi pekerti yang baik. Itu terjadi apabila pemahaman terhadap Al-Qur’an telah melampaui literasi baca-tulis. Jika masih pada tahap baca-tulis, maka itulah yang biasanya terjadi saat orang saling menghardik atas nama Al-Qur’an, bahkan saling membunuh.

Sebelum penutup, saya hendak kembali kepada penekanan di awal tulisan bahwa semua pemaparan di atas adalah dalam kerangka Al-Qur’an sebagai mushaf. Apakah ada Al-Qur’an bukan mushaf? Tentu saja ada. Al-Qur’an dalam bentuk mushaf baru ada pada zaman Khalifah Abu Bakar. Sebelumnya, ada pada pelepah pohon kurma, kulit dan tulang binatang, dan sebagainya. Sebelumnya lagi, ada pada hafalan para sahabat. Sebelumnya lagi, ada di kedalaman sanubari Nabi Muhammad Saw. Sebelumnya lagi dan sebelumnya lagi, dan seterusnya.

Yang hendak saya katakan adalah bahwa literasi Al-Qur’an bukan hanya dalam kerangka penjagaan mushaf karena ada bentuk lain dari Al-Qur’an selain mushaf, bahkan mushaf bukanlah bentuk awal Al-Qur’an. Jika di antara kita ada yang mencapai kemampuan literasi Al-Qur’an sebelum menjadi mushaf hingga sebelum-sebelumnya, maka itu jauh lebih baik.[]

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut