https://nuansaislam.com/Tahnik

Tahnik dalam bahasa arab berasal dari suku kata hanaka-yahnuku-hankan, mengandung arti dasar mengerti, memahami, mengokohkan dan mengerjakan dengan sempurna, tahnik merupakan mashdar dari kata hanaka ketika huruf nunnya ditasydidkan yaitu hannaka-yuhanniku maka baru ketemu mashdarnya tahnik, hannaka mengandung arti dasar yaitu menggosok langit-langit mulut.[1]

Tahnik menjadi suatu istilah dalam bahasa arab, secara bahasa artinya melembutkan kurma dan sejenisnya dan memijat langit-langit mulut dengan kurma tersebut.[2] sedangkan secara istilah dijelaskan Ibnu Hajar bahwa tahnik ialah mengunyah sesuatu kemudian meletakkan atau memasukkannya ke mulut bayi lalu mengosok-gosokkan ke langit-langit mulut. Ini dilakukan dengan tujuan agar bayi terlatih dengan makanan, juga menguatkannya.[3]

Secara hukum, tahnik bayi merupakan sunnah, hal tersebut disepakati oleh para ulama fikih, berdasar beberapa hadis, diantaranya hadis Abu Burdah dari Abu Musa berkata:

وُلِدَ لِى غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِالبَرَكَة، وَدَفَعَهُ إليّ (رواه البخاري و مسلم)

 Aku pernah dikaruniai anak laki-laki, lalu aku membawanya ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya nama Ibrâhîm dan mentahnîknya dengan sebiji kurma (tamr) dan  mendoakan keberkahan kemudian menyerahkannya kepadaku .(HR. Bukhari dan Muslim)

Adpun cara mentahnik bayi adalah dengan melembutkan satu biji kurma atau lebih atau yang manis-manis lainnya dengan mulut pentahnik, kemudian letakkan ke langit-langit mulut bayi, dengan melalui cara jari pentahnik yang sudah dilumuri kurma atau yang manis-manis masuk ke mulut bayi, kemudian gerak-gerakan jari pentahnik di mulut bayi sampai mulut bayi penuh dengan kurma yang telah dilembutkan atau yang manis-manis seperti madu.[4] lebih bagus lagi mulut bayi itu dibuka biar kurma yang sudah lembut atau yang manis-manis lainnya seperti madu yang sudah ada di mulut bayi bisa masuk ke lambungnya.[5]

Adapun jenis kurma yang utama digunakan untuk mentahnik bayi adalah kurma kering atau (Tamr) jika tidak ada kurma kering maka dengan kurma basah(ruthab), jika tidak ada juga maka dengan yang manis-manis lainnya yang tidak dibakar seperti anggur kering atau kismis atau juga madu.[6]

Adapun orang yang mentahnik bayi boleh laki-laki atau perempuan, sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayim bahwa imam Ahmad pernah mempunyai anak dan yang mentahniknya adalah perempuan.[7] bisa juga pentahnik adalah orang yang sholih, sehingga bisa dimintakan doa keberkahan dari orang sholih tersbut,  tetapi hal tersebut tidak menjadi syarat.[8] dan waktu yang baik untuk mentahnik bayi adalah ketika bayi baru lahir.

Setelah ditahnik hendaknya pentahnik mendoakan bayi tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dalam hadis Abu Burdah diatas, begitu juga para kerabat ikut mendoakan bayi tersebut, diantara doa untuk bayi adalah:

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوْبِ لَكَ ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ

(Barakallahu laka fil mauhuubi laka wa syakartal waahiba wa balagho asyuddahu waruziqta birrohu)

Artinya: Semoga Allah memberkahimu dalam anak yang diberikan kepadamu. Kamu pun bersyukur kepada Sag Pemberi, dan dia dapat mencapai dewasa serta kamu dikaruniai kebaikannya

جَعَلَهُ اللهُ مُبَارَكًا عَلَيْكَ وَعَلَى أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

Ja’alahullahu mubaarokan ‘alaika wa ‘ala ummati Muhammadin.

Artinya: "Semoga Allah memberinya keberkahan untukmu dan untuk ummat Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam."

اللهم اجْعَلْهُ بَارًّا تَقِيًّا رَشِيْدًا وَأَنْبِتْهُ فِي الْإِسْلَامِ نَبَاتًا حَسَنًا

(Allahummaj'alhu barran taqiyyan rasyîdan wa-anbit-hu fil islami nabatan hasanan)

Artinya: Ya Allah, jadikanlah dia (bayi) orang yang baik, bertakwa, dan cerdas. Tumbuhkan lah dia dalam islam dengan pertumbuhan yang baik

أُعِيذُكَ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

U’iidzuka bikalimaatillaahit-tammati min kulli syaithoonin wa hammatin wa min kulli 'ainil lammah.

Artinya: "Aku memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pAndangan mata buruk."

Demikian artikel sederhana ini semoga bermanfaat untuk kita semua.

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir,304
  2. Ibnu faris, Maqayis Al-Lughah, 2/111
  3. Ibnu Hajar, Fathul Bari, 9/588
  4. Hasyiah I’anatuth Thalibin, 2/334, Ahkam Maulud fi fikhil islam, 109
  5. Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 8/434-435
  6. Al-mawardi, Al-Inshaf,4/104
  7. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Tuhfatul Maudud, 66
  8. Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 14/122-123

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut