https://nuansaislam.com/Dua Dorongan Mukmin

DUA DORONGAN MUKMIN

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

KetuaDepartemen Dakwah PP DMI, Ketua LPPD Khairu Ummah, Anggota Komisi Dakwah MUI Pusat, Penulis 55 Buku, Trainer Dai dan Manajemen Masjid

 اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

Sidang Jumat Rahimakumullah

Di dalam Al Quran, Allah swt menyampaikan perintah kepada kita orang-orang yang beriman. Sebagai mukmin, kita seharusnya merasa terdorong untuk melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (QS Al Ahzab [33]:70)

            Dari ayat di atas, ada dua dorongan dari Allah swt kepada kita yang harus kita laksanakan, apalagi keuntungannya buat kita juga, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat nanti. Pertama, bertaqwa kepada Allah swt. Ini merupakan seruan dan dorongan yang sering kita dengar, bahkan dalam khutbah ini menjadi rukun yang tidak boleh dilupakan oleh para khatib. Keharusan bertaqwa bukan hanya untuk kita yang beriman, bahkan setiap manusia seharusnya bertaqwa kepada Allah swt.

Taqwa adalah memelihara diri dari siksa Allah dengan mengikuti segala perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga, bahkan dimanapun kita berada, Rasulullah saw bersabda:

إِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَاكُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَاوَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertaqwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, maka ia dapat menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik (HR. Thabrani)

            Dengan ketaqwaan, kita akan menjalani hidup dengan penuh kehati-hatian, karena kita menyadari bahwa segala sesuatu ada pertanggungjawabannya, sedangkan citra diri sebagai pribadi yang bertaqwa harus selalu dipertahankan. Dengan demikian, orang yang bertaqwa selalu menyesuaikan diri dalam bersikap, berucap dan bertindak dengan ketentuan-ketentuan Allah swt dan Rasul-Nya dalam berbagai aspek kehidupan. Manakala kita sudah bertaqwa dengan sebenar-benarnya, maka posisi manusia yang paling mulia dapat kita capai, hal ini terdapat dalam firman Allah swt:

يَآاَيُّهَا النَّاسُ إِنَّاخَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu terdiri dari seorang lelaki dan perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah diantara kamu adalah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Al Hujurat [49]:13).

Sidang Jumat Yang Berbahagia.

            Dorongan yang Kedua adalah berbicara dengan perkataan yang benar.  Syaikh M. Abdul Athi Buhairi dalam bukunya Nida Ar Rahman Liahlil Iman atau Tafsir Ayat-Ayat Yaa Ayyuhal Lazina Amanu menyatakan: “Sebagian ulama ada yang berpendapat, bahwa maksud perkataan yang benar adalah perkataan yang bermanfaat, mengenai sasaran, tidak membahayakan, mempunyai pengaruh yang positif dan relevan antara zahir dan batinnya.”

Pakar Bahasa Ibnu Faris seperti yang dikutip oleh M. Quraish Shihab dalam tafsirnya sadidan menunjuk kepada makna meruntuhkan sesuatu kemudian memperbaikinya. Kata ini juga digunakan untuk menunjuk kepada sasaran. Seseorang yang menyampaikan sesuatu  atau ucapan yang benar dan mengena tepat pada sasarannya dilukiskan dengan kata ini. Dengan demikian, kata sadidan dalam ayat di atas tidak sekadar berarti benar, tetapi ia juga harus berarti tepat sasaran.

Berbicara merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia. Karena itu, dunia ini tidak pernah sepi dari aktivitas berbicara. Adanya aktivitas berbicara membuat suatu kejadian bisa diinformasikan, ilmu pengetahuan bisa diajarkan dan nilai-nilai kebenaran atau kebaikan bisa disebarluaskan. Namun, dengan aktivitas bicara keburukan, kebathilan atau kemunkaran juga bisa diinformasikan, kesombongan bisa ditunjukkan dan permusuhan antar sesama manusia bisa terjadi di seluruh dunia. Istilah sekarang, ada orang berbicara tapi menghasilkan kegaduhan, apalagi di media sosial.

Bagi seorang mukmin yang ingin memiliki akhlak mulia, ia akan selalu berusaha memperhatikan adab berbicara karena berbicara yang baik menjadi ukuran keimanan seseorang. Dalam konteks inilah, maka setiap manusia dihimbau untuk berbicara yang baik dan sebaik mungkin, bicara yang benar dan tepat sehingga tidak menyakiti orang lain, apalagi terhadap orang tua dan tokoh-tokoh yang seharusnya dihormati, Allah swt berfirman:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia (QS Al Isra [17]:53).

Saudaraku Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Manakala seorang mukmin sudah membuktikan taqwa dan berkata yang baik dan benar, maka ada dua keuntungan yang akan diperolehnya, yakni diperbaiki amal-amalnya dan diampuni dosanya. Bicara yang buruk pasti akan berdampak pada keburukan diri, keluarga dan masyarakat, sedangkan bicara yang baik berpengaruh pada kebaikan secara luas, karenanya bicara yang baik membuat seseorang terhindar dari dosa yang membuat amalnya semakin baik, Allah swt berfirman:

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS Al Ahzab [33]:71).

            Dalam konteks inilah, maka setiap kita harus menunjukkan komitmen ketaatan kepada Allah swt, apalagi ketaatan kepada Allah swt dan Rasul-Nya bersifat mutlak, ini membuat kita memperoleh kemenangan dan keberuntungan berupa kehidupan di dunia yang baik dan di akhirat meraih surga.

            Demikian khutbah Jumat kita yang singkat hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amin.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut