https://nuansaislam.com/Wudhu dan Keshalihan Pribadi

Wudhu adalah amalan yang tidak asing dalam kehidupan kita. Sebagai muslim tentu kita biasa melakukannya sebelum melaksanakan shalat. Rasulullah Saw menegaskan, tidak sah shalat seseorang hingga dia berwudhu terlebih dahulu (HR Bukahri Muslim).

Oleh karenanya, wudhu merupakan salah satu rangkaian dari kesempurnaan dan diterimanya shalat seorang muslim. Bila wudhunya tidak sah, maka semua ibadahnya pun akan sia-sia. Dalam Al-Qur’an kewajiban berwudhu tertuang dalam surah Al-Maidah ayat 6.

Wudhu merupakan ibadah yang sangat ringan dan mudah melakukannya bahkan oleh anak usia TK sekalipun. Kendati begitu, ibadah wudhu ternyata memiliki manfaat dan keutamaan yang sangat besar bagi pelakunya, baik terhadap fisik, psikis bahkan sikap mental keseharian jika dilakukan secara benar dan sempurna. Begitu banyak hadis yang menjelaskan keutamaan dan manfaat wudhu bagi diri, jiwa dan kehidupan.

Pertanyaanya adalah sudahkah kita merasakan manfaat wudhu dalam keseharian kita? Sudah sesuaikah dengan tujuan wudhu yang menjadi harapan kita dalam doa sesudah wudhu? Yakni menjadikan kita masuk dalam golongan pribadi yang thawwabiin (bertaubat), mutathahiriin (bersih suci lahir batin) dan shalihiin (akhlak dan perilakunya baik sesuai ajaran Al-Qur’an)

Jika belum, mari kita introspeksi boleh jadi itu disebabkan oleh amalan wudhu kita yang belum sempurna dan tidak disertai penghayatan dalam setiap rukunnya.

Pada kenyataanya, masih sedikit orang yang bisa mencapai penghayatan seperti itu. Wudhu hanya sebatas formaitas dan aktifitas lahir yang tidak menyertakan amal batin, sehingga amal yang sejatinya besar ini tidak banyak memberikan pengaruh yang signifikan ke dalam hati dan perbuatannya.

Secara fisik, orang yang senantiasa berwudhu dengan baik, benar dan sempurna maka ia akan selalu sehat sebab bila dalam sehari semalam minimal ia melakukan lima kali pembersihan diri dengan air wudhu maka akan terlepaslah berbagai kotoran dan debu yang menempel di badannya terutama pada anggota wudhunya. Memelihara kulit dan menjauhkannya dari berbagai bakteri dan virus yang bisa mengganggu kesehatan. Kulit menjadi bersih, sehat dan memancarkan aura kebaikan.

Secara psikis/rohani orang yang selalu berwudhu akan mendapatkan berbagai manfaat dan pahala di sisi Allah. Salah satu emosi yang membuat psikis kita terganggu dan tidak stabil adalah amarah. Gejolak amarah yang tidak bisa dikendalikan bisa menghancurkan kehidupan pribadi, keluarga dan masyaratkat.

Amarah adalah fitrah untuk mempertahankan hidup, tidak untuk dihilangkan tapi dikendalikan dan diarahkan. Salah satu cara untuk meredam amarah adalah dengan berwudhu. Wudhu mampu menetralisir amarah yang bergejolak dan tidak stabil sehingga kta bisa berpikir tenang dan jernih kembali.

Wudhu dan Kesucian Hati

Sejatinya wudhu memiliki dua dimensi kesucian yang menjadi tujuan; suci lahir dan suci batin. Sisi lahir adalah sucinya anggota badan, dan sisi batinnya adalah penyucian hati dari noda dosa dan maksiat denga bertaubat. Oleh karena itu Allah menyandingkan antara taubat dan thaharah (bersuci) dalam surah Al-Baqarah: 222.

Ibnu Qayyim menjelaskna ayat ini “Bersuci yang dimaksud dalam ayat tersebut mencakup dua hal. Pertama, bersuci dari hadas dan najis dengan air. Kedua, bersuci dari kesyirikan dan kemaksiatan dengan taubat.” Dan poin kedua inilah yang menjadi inti. Karena bersuci dengan air tidaklah berguna tanpa bersuci dari syirik dan kemaksiatan.

Maka mmepersiapkan dan mencurahkan kesungguhanu untuk mendapatklan kesucian hati lebih diprioritaskan. Tatkala seseorang telah memiliki dua macam kebersihan maka ia layak untuk berjumpa dengan Allah Swt.

Wudhu dan Keshalihan Pribadi

Secara bahasa wudhu berasal dari kata dhau’un seakar denga kata dhiyaa-un yang artinya cahaya yang terang; aura kebaikan yang tampak. Ketika ditambahkan huruf ‘waw’ didepannya dari dhau’un menajadi wudhuu’un maka artinya menjadi lebih dalam, yakni cahaya yang sangat terang; aura kebaikan yang semakin tampak terlihat  

Rasulullah pernah mengatakan orang yang senantiasa menjaga wudhunya maka ia akan tampak bercahaya di hari kiamat. Bahkan Rasulullah akan mengenali umatnya kelak di hari kiamat dari bekas wudhunya, min atsaril wudhu.

Maka sejatinya, orang yang selalu menjaga kesempurnaan wudhunya akan memancarkan cahaya dan aura kebaikan dari dalam dirinya. Mukanya bersinar memberikan keteduhan, ketenangan, menyenangkan dan menenangkan. Menyiratkan aura kecantikan pribadi dari dalam dirinya (inner beauty) yang tercermin dalam sifat dan perilakunya yang mempesona (keshalihan).

Jejak, bekas, pengaruh wudhun akan terlihat dalam keindahan sifat, sikap, dan perilaku keseharian. Mengapa demikian? Karena syaithan tidak bisa mengganggu orang yang selalu menjaga kebersihan diri dan hatinya. Hatinya dipenuhi dengan keimanan yang kuat terhadap Allah tanpa ada sedikitpun rasa was-was. Ia selalu terhubung dan merasa diawasi oleh Allah kapan pun, di mana pun dan dalam kondisi apa pun.

Semoga kita bisa melaksanakan amalan wudhu dengan penuh penghayatan sehingga kesempurnaan nilai yang terkandung di dalamnya tetap terjaga dan terpancar dalam setiap gerak gerik kehidupan kita sehari-hari. Aamiin. Wallaahu A’lam

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut