https://nuansaislam.com/Ketuwin lan Weh Wehan

Hari ini, bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1443 H.  Rasanya pemandangan sosial di kampung Jagalan - Kutoharjo - Kaliwungu, siang sampe sore ini membawa pada kenangan masa kecil.Tradisi Weh Wehan atau sering juga disebut Ketuwin. Ini tradisi khas di kecamatan Kaliwungu.

Kaliwungu sebuah Kota Kecamatan yang wilayahnya terletak di sebelah timur Kabupaten Kendal, berbatasan langsung dengan Kota Semarang. Di kota ini banyak pesantren tradisional dengan para santrinya yang mengenakan sarung dan mengkaji ragam kitab kuning. Kota Santri adalah salah satu judul lagu kenangan dari group Nasyidaria yang mengisahkan situasi kota ini dengan santri-santrinya. Santrinya berasal dari berbagai kota di Indonesia, maka Kaliwungu di sebut juga Kota Santri Kaliwungu.

Tradisi unik ini konon hanya ada di kota Kaliwungu saja. Tradisi itu disebut Weh Wehan, ngewehi -saling memberi- atau Ketuwinan yang diadakan setahun sekali. Entah sejak kapan tradisi ini dimulai, ada yang mengatakan sudah ada sejak zaman para wali.

Salah satu warga di Kampung Jagalan Barat, Bapak Sakdun namanya, beliau seorang pensiunan guru agama yang saat ini genap berusia 81 tahun, berkenan berkisah...

Weh Wehan berasal dari kata weweh yang berarti memberi. Maka Weh Wehan ini bisa diartikan saling memberi dan dilakukan setahun sekali pada tanggal 12 Rabiul Awwal, dikaitkan dengan senang dan bahagia atas kelahiran junjungan kita Nabi Besar Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassalaam.

Weh wehan ini juga disebut Ketuwin yang berasal dari kata Tuwi  dalam bahasa ngoko atau bahasa untuk sesama yang tidak lebih tua, berarti tilek yang maknanya menengok, seperti ungkapan tilek bayi, artinya menengok dan melihat serta berkunjung kepada keluarga yang sedang dikaruniai bayi sambil membawa buah tangan.

Pada Tradisi weh wehan atau ketuwin ini, setiap rumah membuat makanan atau jajanan yang akan saling memberi dan menerima. Waktunya dimulai sejak sore hingga malam hari menjelang Sholat Isya.

Namun ini dulu, saat ini Weh Wehan dimulai lebih awal, dari ba'da Dzuhur, demikian tutur Pak Sakdun.

Di dalam Weh Wehan atau Ketuwinan tersebut, kita saling memberikan atau tukar jajanan dan makanan kepada saudara dan tetangga sekitar, dengan maksud untuk saling menjaga tali silaturahmi antar saudara dan menguatkan hubungan bertetangga. Weh Wehan biasanya di lakukan oleh anak-anak, tapi kadang juga remaja dan orang dewasa. Ada salah satu makanan khas di Weh Wehan, yaitu Sumpil, makanan ini berbentuk segitiga yang di bungkus dengan daun bambu, terbuat dari beras dan dimakan dengan sambel urap kelapa.

Di tahun ini, semakin beragam bawaan yang siap untuk dijadikan tukeran hadiah. Mulai dari nasi kuning, snack, kerupuk mentah atau matang, siomay, mie goreng lengkap dg telur dadarnya, es mambo, kembang goyang, kolak, es buah, telur ayam, kue mata kebo, kue putri mandi, roti bakar, agar-agar, susu, mie ayam siap saji, sate sempol, nasi ayam, bakso, gula pasir bahkan balon dan sejumlah uang yang dibungkus plastik.

Di Kampung Sarimulyo Desa Sari Rejo, malah ada yang menyiapkan ikan cupang dalam kemasan plastik, juga ikan lele hidup. Tampak anak-anak dan remaja yang berkeliling begitu menikmati suasana ini.

Dulu bahkan kata Pak Sakdun, di tengah suasana anak-anak, remaja atau sebagian orang tua saling berkunjung sambil saling memberi hadiah makanan, ada beberapa remaja laki-laki yang juga ikut berkeliling di kampung sambil berseru "Yaa Kariim Yaa Kariim", maka rumah yg dilewati (yang sudah menyiapkan makanan) akan memberi makanan untuk mereka, tanpa ada penukaran makanan. Ini terjadi di sekitar puluhan tahun lalu. Saat ini sudah sangat jarang, walau masih ada juga yang berseru Yaa Karim tanpa membawa makanan tuk saling memberi.

Masih menurut penuturan Pak Sakdun, tradisi ini menanamkan beberapa nilai :

Pertama, menjalin keakraban antar warga, ini akan menguatkan persaudaran dan silaturrahim.

Kedua, meningkatkan persaudaraan dan saling menyanyangi, ini mengingatkan kita akan sabda Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassalaam, "Tahaadu Tahaabbu", Saling memberi hadiahlah, maka kalian akan saling mencintai".

Ketiga, menyadarkan generasi akan pentingnya  mengingat Sirah Nabi dan  mencintai Rasulullah  Shalallaahu Alaihi Wassalaam.

Keempat, menamkan dan mendidik anak-anak agar senang berbagi meneladani Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassalaam.

Kelima, nerimo ing pandum, maksudnya adalah ridho menerima bagian takdir Allah. Karena masing-masing yang sudah menyiapkan bawaannya, akan memberikan ke rumah yang lain dan rumah yg diberi juga akan memberikan apa yang sudah disiapkannya. Masing-masing belajar ikhlas memberi dan menerima.

Keenam, semangat mempertahankan dan mengenalkan makanan dan jajanan khas.

Semoga tradisi Weh Wehan ini tetap ada sampai kapan pun, tidak tergerus zaman dan tetap diteruskan oleh anak cucu penduduk di sini. Semoga  membuat generasi ini bersemangat untuk mengenal Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassalaam,  menumbuhkan cinta kepada beliau, mengekspresikan dalam upaya meningkatkan ibadah dan meningkatkan akhlak mulia.

Jagalan Barat, 12 Rabiul Awal 1443 H.

SM

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut