https://nuansaislam.com/Maulid

Dalam bahasa arab berasal dari kata walada yalidu yang artinya melahirkan, bisa bermakna mengasuh, ketika kata walada digunakan untuk kata al-ardhu seperti ungkapan waladal ardhu an-Nabata, maka artinya adalah bumi menumbuhkan tanaman, bila ditambahkan huruf ta sebelum huruf wawunya menjadi kata tawalada maka artinya lahir, timbul dan terjadi.

Dari kata walada menelurkan beberapa kata lainnya seperti kata al-walad artinya bayi secara umum baik laki-laki dan perempuan, juga bisa bermakna ash-shobiy yang artinya anak laki-laki, al-walid dengan jama’nya wildanun artinya bayi laki-laki, al-waalid artinya ayah, al-waalidani artinya ayah dan ibu, al-walidatu artinya ibu, al-walud artinya wanita yang subur, al-wiladah artinya kelahiran, al-muwallad artinya orang yang berdarah campuran, al-muwallidah artinya bidan, sedangkan kata al-maulud dalam bentuk mashdar mim dari walada yang artinya kelahiran, al-maulud dalam bentuk isim maful artinya sesuatu yang dilahirkan dan kata milad merupakan bentuk isim mashdar yang artinya waktu kelahiran atau hari lahir.[1]

Maulid dalam sosial kemasyarakatan lebih dikenal dengan peringatan lahirnya nabi Muhammad saw, dimana peringatan maulid ini awal mulanya dipraktekan oleh bani fathimiyah sekitar abad ke 9 hijriyah, dan kebiasan tersebut turun temurun dilaksanakan pada bulan rabiul awwal setiap tahunnya, para ulama berbeda pendapat dalam pelaksanaan perayaan maulid nabi saw ini, sebagian mengatakan bid’ah karena tidak pernah terjadi dimasa hidup Rasulullah saw juga masa para sahabatnya, sebagian ulama yang lainnya ada yang membolehkan, diantara para ulama yang membolehkannya adalah:

Imam As-Suyuthi berkata: menurutku bahwa perayaan Maulid Nabi SAW dengan cara berkumpulnya sekelompok manusia, membaca Alquran, membaca hadits Nabi, kemudian dihidangkan makanan untuk para hadirin maka ini termasuk perbuatan bidah hasanah yang pelakunya mendapatkan pahala. Sebab dalam perayaan tersebut ada unsur mengagungkan Nabi saw, menampakkan kebahagiaan dan senang dengan kelahiran Nabi saw.[2]

Imam Abu Syamah: beliau menilai maulid nabi merupakan bid'ah yang baik karena perayaan ini muncul disebabkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad saw. "Di antara yang termasuk bidah yang baik dizaman sekarang adalah perayaan Maulid Nabi saw. Di dalamnya dilakukan sadaqah, kebahagaiaan dengan kelahiran Nabi saw. Hal ini muncul karena rasa mahabbah atau cinta kepada Nabi saw. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah swt atas karunia diutusnya Nabi saw kepada kita semua."[3]

 Ibnu Abidin berkata : “Termasuk bid’ah terpuji adalah melakukan maulid di bulan Nabi Saw dilahirkan.”[4]

Dari dua pendapat diatas, antara yang membidahkan dan juga membolehkan maulid, maka hemat penulis adalah inti dari maulid, khususnya yang dikenal dengan perayaan maulid nabi saw, adalah bagaimana kita senantiasa ingat akan betapa kelahiran nabi saw merupakan anugerah nikmat yang begitu besar bagi ummat ini, karena beliau pada dirinya terdapat suri tauladan yang sangat baik dan sempurna yang senantiasa harus kita pelajari melalui sirah perjalanan hidup beliau dan kita praktekkan dalam kehidupan kita masing-masing sebagai ummatnya, sebagai bentuk kecintaan kita kepada nabi Muhammad saw.  Demikian artikel singkat ini semoga bermanfaat untuk kita semua.

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir,1580
  2. Jalaluddin As-Suyuthi, Husnul maqshid fi amalilmaulid,4
  3. Abu Syamah, Al-Baits Ala Inkarilbida’ walhawadits, 13
  4. Syarh Ibnu Abidin Ala Mulid

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut