https://nuansaislam.com/Tidak ada Doa yang Tertolak

Relasi manusia dengan Allah SWT sudah disebutkan di dalam Al-Qur’an, yaitu Allah SWT sebagai al-Khaaliq dan manusia sebagai al-‘aabid. Hal itu disebutkan di dalam QS. adz-Dzariyat/51: 56: Wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa li ya’buduun. Artinya: Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. 

Terjemahan kata li ya’buduun dengan beribadah barangkali bisa diganti dengan arti menjadi hamba. Ada perbedaan antara arti beribadah dengan menjadi hamba. Kata beribadah terlalu kuat konotasinya kepada hanya ibadah mahdhah dan juga membuka kemungkinan bahwa ada manusia yang tidak beribadah atau menolak untuk beribadah. 

Konotasi ibadah mahdhah dan juga terbukanya kemungkinan manusia tidak beribadah di dalam ayat tersebut tidak setara dengan kata-kata awal di dalam ayat itu yang berbunyi: Aku tidak menciptakan jin dan manusia. Kata-kata tersebut berbicara tentang penciptaan atau tentang sesuatu yang eksistensial yang menunjukkan hubungan eksisntensial atau mendasar antara manusia dengan Allah SWT. Adapun ibadah mahdhah bukan tidaklah eksistensial karena masih banyak ibadah lain selain ibadah mahdhah. Terbukanya kemungkinan manusia tidak beribadah juga adalah tidak eksistensial karena adanya kemungkinan penolakan untuk beribadah tersebut.

Adapun jika li ya’buduun diartikan menjadi hamba, maka itulah makna eksistensial yang setara dengan Allah SWT sebagai Pencipta karena tidak ada kemungkinan manusia tidak menjadi hamba dan juga menegaskan bahwa ibadah tidak hanya ibadah mahdhah. Menjadi hamba adalah keseluruhan tubuh, pikiran, dan roh manusia di setiap desah nafas dan pikiran manusia serta kesadarannya. Karena itulah disebutkan bahwa relasi eksistensial antara manusia dengan Allah SWT adalah bahwa Allah SWT sebagai al-Khaaliq dan manusia sebagai al-‘aabid.

Dari penjelasan di atas, muncul pertanyaan: Mengapa di dalam QS. QS. adz-Dzariyat/51: 56, al-Khaaliq tidak dipasangkan dengan al-makhluuq dan al-‘aabid tidak dipasangkan dengan al-Ma’buud. Sekali lagi jawabannya adalah sisi eksistensialnya. Al-Ma’buud adalah bentuk ism maf’uul yang berarti pasif karena karena berarti Yang Disembah. Demikian pula al-makhluuq juga adalah berarti pasif karena berarti yang diciptakan. Relasi eksistensial manusia dengan Allah SWT adalah relasi yang pada dasarnya aktif, bukan pasif. Relasi yang pasif bukanlah relasi eksistensial, bukan berarti salah.

Dari dasar pemikiran di atas itulah dibangun pemahaman tentang doa. Kata kunci relasi al-Khaaliq dengan al-‘aabidadalah ad-du’aa’ atau doa. Karena itulah ada ungkapan yang sangat masyhur ad-Du’aa’u mukhkhul ‘ibaadah yang berarti Doa adalah intinya ibadah. Ibadah bisa mahdhah dan bisa bukan mahdhah, tetapi intinya tetap satu yaitu doa.

Doa tidak hanya kata-kata tetapi juga pikiran dan roh. Diketahui umum bahwa manusia terdiri dari tubuh, pikiran, dan roh. Makanya, doa ada di dalam tubuh, juga ada di dalam pikiran, dan ada di dalam roh. Doa yang terdiri dari kata-kata lewat lisan termasuk dalam doa di dalam tubuh karena lisan adalah anggota tubuh jasmani. Gerakan dan bacaan dalam shalat juga adalah doa di dalam tubuh. Doa dalam tubuh juga adalah seluruh aktivitas sehari-hari seperti bangun tidur, membersihkan tubuh, membersihkan rumah dan halaman, hingga mencari nafkah. Karena semuanya adalah doa, maka semuanya juga adalah ibadah.

Adapun doa dalam pikiran adalah segala gerak pikiran manusia yang digerakkan dengan tujuan untuk memahami alam semesta, termasuk manusia, demi untuk menjaga kehidupan dan memakmurkannya. Hasilnya adalah ilmu pengetahuan, baik yang disebut ilmu agama maupun ilmu non agama, meskipun penamaan tersebut kurang pas.

Adapun doa dalam roh adalah kesadaran diri sebagai hamba atau menjadi hamba dan kesadaran Allah SWT sebagai Tuhan Pencipta. Dengan kata lain, kembali kepada istilah al-Khaaliq dan al-‘aabid. Karena itu, doa dalam roh adalah yang paling eksistensial atau paling mendasar.

Jika hendak dibandingkan, maka doa dalam tubuh lebih mudah daripada doa dalam karena doa dalam tubuh adalah kerja fisik, sedangkan doa dalam pikiran adalah kerja intelektual yang menghasilkan rumusan-rumusan tentang pemahaman terhadap alam semesta. Doa dalam tubuh melaksanakan rumusan-rumusan yang telah ditemukan oleh doa dalam pikiran.

Yang paling sulit adalah doa dalam roh karena melibatkan kesadaran yang hanya fokus kepada menjadi hamba yang senantiasa menjadi hamba di hadapan Allah SWT. Disebut sulit karena tidak jarang terjadi, kedigdayaan tubuh dan kuasa pikiran malah menafikan kesadaran sebagai hamba dan justru mendorong manusia untuk mendaku sebagai Tuhan. Godaan seperti itu sangat berat untuk dihindari.

Dengan penjelasan di atas bisa dipahami bahwa tidak ada doa yang tertolak. Allah SWT Maha Pemberi (al-Wahhaab) jadi tidak mungkin tidak memberi. Tidak ada beda bagi Allah SWT manusia yang diberi dengan barang yang diberikan kepada manusia. Semuanya adalah milik Allah SWT. Allah SWT juga Maha Pengasih. Allah SWT tetap mengasihi manusia yang pada dirinya terjadi ketidakserempakan antara doa dalam tubuh dengan doa dalam pikiran dan dengan doa dalam roh. Tubuhnya berdoa tapi pikirannya tidak atau pikirannya berdoa tetapi rohnya tidak. Demikian seterusnya. Karena itu, Allah SWT tetap menerima doa manusia. Lagipula Allah SWT Maha Kaya. Karena itu, pemberian-Nya tidak mengurangi kekayaan-Nya. 

Dunia inilah yang tidak sanggup menerima semua pemberian dari Allah SWT. Semua manusia pasti berdoa dengan sempurna. Tetapi dunia ini tidak mampu menerima kesempurnaan doa-doa manusia karena dunia adalah tempat yang tidak sempurna. Tubuh manusia (di dunia) juga sangat tidak mampu menerima kesempurnaan doa-doanya sendiri karena tubuh manusia pun tidak sempurna jika dibandingkan dengan doa-doa yang dipanjatkan.

Berbeda dengan di akhirat. Akhirat lebih baik daripada dunia dalam hal kemampuan untuk menerima kesempurnaan doa-doa manusia. Tubuh manusia di akhirat pun bukan tubuh rapuh yang disandang di dunia tetapi sudah dikembangkan sedemikian rupa agar mampu menerima kesempurnaan doa-doa. Di dalam beberapa keterangan disebutkan bahwa tubuh manusia di akhirat lebih muda atau usia pertengahan. Itu adalah simbol bahwa tubuh manusia di akhirat lebih mampu menerima kesempurnaan.

Jadi, relasi manusia dengan Allah SWT adalah relasi al-Khaaliq dengan al-‘aabid yang kata kuncinya adalah doa. Manusia senantiasa menjadi hamba yang membuktikan kehambaannya dengan terus-menerus berdoa dalam tubuh, pikiran, dan rohnya agar senantiasa terhubung dengan Allah SWT.[] 

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut