https://nuansaislam.com/Khitan

Khitan dalam bahasa arab berasal dari kata khatana-yakhtunu-khatnan wa khutunan, mengandung arti memotong, mengkhitani, menyunati, menipu dan menjalin persaudaraan dengan penikahan.[1] khitan juga bermakna tempat yang dikhitan baik untuk laki-laki begitupula perempuan, hal tersebut sebagaimana sabda rasulullah saw,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ إِذَا جَاوَزَ الْخِتَانُ الْخِتَانَ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ فَعَلْتُهُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاغْتَسَلْنَا(رواه الترمذي)

Dari 'Aisyah ia berkata; "Jika khitan bertemu khitan maka telah wajib mandi. Aku pernah melakukan dengan Rasulullah saw, lalu kami mandi junub." (HR. Tirmidzi)

Secara istilah khitan bermakna memotong kulit yang menutup hasyafah untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan memotong ujung klitoris pada vagina.[2]

Khitan disyariatkan dalam agama Islam, ia merupakan satu dari lima hal yang fithrah, sebagaimana firman Allah swt,

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya.(QS. Al-Baqarah[2]: 124)

Ibnu Abbas menafsirkan ayat diatas dengan berkata: nabi Ibrahim as diuji dengan Thaharah, lima hal di kepala dan lima hal di badan, lima perkara di kepala adalah:  memotong kumis, berkumur-kumur, istinsyaq yaitu memasukan air ke hidung ketika berwudhu, bersiwak dan menyisir rambut, adapun lima hal di badan adalah  memotong kuku, mencukur rambut kemaluan, khitan, mencabut bulu ketiak dan membersihkan kemaluan setelah buang air kecil dan besar.[3]

sabda Rasulullah saw,

عن أبي هُرَيرةَ رَضِيَ اللهُ عنه عن النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أنَّه قال((الفِطرةُ خَمسٌ: الخِتانُ، والاستحدادُ، وقصُّ الشَّارِبِ، وتقليمُ الأظفارِ، ونتْفُ الآباط(رواه البخاري و مسلم)

“Fitrah itu ada lima : berkhitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak(HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun hukum khitan adalah wajib untuk kaum laki-laki menurut pendapat imam Syafii,[4] Imam Ahmad,[5] Ibnu Taimiyah[6] dan sebagian besar ahli ilmu[7], mereka berdalil dengan firman Allah swt,

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ )النحل: 123).

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.(QS. An-Nahl:123)

Diantara syariat nabi Ibrahim as yang diperintahkan untuk diikuti adalah khitan. Nabi Ibrahim sendiri melaksanakan khitan pada usia 80 tahun, sebagaimana sabda Rasulullah saw,

عن أبي هُرَيرةَ رَضِيَ اللهُ عنه قال: قال رسولُ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم((اختَتَن إبراهيمُ النبيُّ عليه السَّلام وهو ابن ثمانين سَنَةً بالقَدُّومِ(رواه البخاري و مسلم)

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: Nabi Ibrahim dikhitan di kota Qaddum diSyam, sedangkan beliau usianya 80 tahun(HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan hukum khitan untuk wanita adalah sunnah menurut pendapat imam Abu hanifah[8], Imam Malik[9], sebagian Madzhab Syafii[10], dan madzhab Imam Ahmad[11], dan sebagian besar ahli ilmu[12]. Mereka berdalil dengan hadis,

عن عائشةَ رَضِيَ اللهُ عنها قالت: قال رسولُ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم((إذا جَلَس بين شُعَبِها الأَربعِ، ومسَّ الخِتانُ الختانَ، فقد وَجَب الغُسلُ

Jika seseorang duduk di antara empat anggota badan istrinya (maksudnya: menyetubuhi istrinya , pen), lalu bersungguh-sungguh kepadanya, maka wajib baginya mandi.” (HR. Bukhari no. 291 dan Muslim no. 348)

Hadis diatas menunjukkan kalau wanita pada jaman terdahulu melakukan khitan.

Demikian tulisan singkat ini, semoga bermanfaat.

Oleh: Mulyana Sudarma, Lc

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, 323
  2. Imam Nawawi, Al-Majmu’, 1/302
  3. Imam Ath-Thabari, Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an, 1910
  4. Syarbini, Mughnil Muhtaj, 4/202
  5. Al-Buhuti, Kasyaaful Qina’1/80
  6. Ibnu Taimiyyah, Al- Fatawa Al-Kubra, 5/302
  7. Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 1/64
  8. Ibnu Abidin, Hasyiah Ibnu Abidin, 8/371
  9. Ad-Dasuqi, Hasyiah Ad-Dasuqi, 2/126
  10. Imam Nawawi, Al-Majmu’, 1/300
  11. Al-Mardawi, Al-Inshaf, 1/97
  12. Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 1/64

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut