https://nuansaislam.com/Tiga Bentuk Kezaliman

TIGA BENTUK KEZALIMAN

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani Ketua LPPD Khairu Ummah, Ketua Departemen Dakwah PP DMI, Anggota Komisi Dakwah MUI Pusat, Penulis 55 Buku, Trainer Dai dan Manajemen Masjid. WA 0812-9021-953 & 0812-9930-6180

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Seorang mukmin seharusnya memiliki kepribadian yang mulia, baik terhadap dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Karena itu, Allah swt melarang orang yang beriman dengan seruan yang harus mendapat perhatian serius, maksudnya agar kehidupan pribadi dan kemasyarakatan dapat berlangsung dengan baik. Bila larangan ini tetap dilakukan, maka hal ini merupakan suatu kezaliman, Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS Al Hujurat [49]:11)

Dari ayat di atas, ada tiga larangan Allah swt kepada kita orang yang beriman, menjadi penting untuk kita kaji pada kesempatan yang singkat ini. Pertama, mengolok-olok atau meremehkan orang lain. Memperolok-olokan, baik antar individu maupun antar kelompok, baik dengan kata-kata maupun dengan bahasa isyarat, karena hal ini dapat menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan dan permusuhan. Manakala kita tidak suka diolok-olok, maka janganlah kita memperolok-olok, apalagi belum tentu orang yang kita olok-olok itu lebih buruk dari diri kita. Buya Hamka dalam tafsir Al Azhar mengomentari ayat ini dengan menyatakan: “Inilah peringatan yang halus dan tepat sekali dari Allah. Mengolok-olok, mengejek dan menghina tidaklah layak dilakukan kalau orang merasa dirinya orang yang beriman. Sebab orang yang beriman akan selalu menilik kekurangan yang ada pada dirinya. Maka, dia akan tahu kekurangan yang ada pada dirinya itu. Hanya orang yang tidak beriman jualah yang lebih banyak melihat kekurangan orang lain dan tidak ingat akan kekurangan yang ada pada dirinya sendiri.” (Jilid 8, hal 425). Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fi Dzilalil Quran menyatakan: “Masyarakat unggul yang hendak ditegakkan Islam dengan petunjuk Al Quran ialah masyarakat yang memiliki etika yang luhur. Pada masyarakat itu, setiap individu memiliki kehormatan yang tidak boleh disentuh. Ia merupakan kehormatan kolektif. Mengolok-olok individu manapun berarti mengolok-olok pribadi umat. Sebab seluruh jamaah itu satu dan kehormatannya pun satu.” Perbuatan ini merupakan salah satu bentuk kesombongan yang sangat dibenci oleh Allah swt, dalam satu hadits, Rasulullah saw mendefinisikan atau menjelaskan tentang apa itu sombong, beliau bersabda:

اَلْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Takabbur itu adalah menolak kebenaran dan dan menghina orang lain (HR. Muslim).

Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Kedua, yang dilarang oleh Allah swt adalah mencela diri sendiri, hal ini karena setiap orang harus menjaga harkat dan martabat dirinya, jangan ia jatuhkan dirinya dengan mencela atau menghina diri sendiri. Bagaimana mungkin ia akan menghormati orang lain bila dirinya sendiri saja ia hinakan atau ia cela. Larangan mencela diri sendiri sebenarnya kelanjutan dari larangan mencela dan menghina orang lain, karena melakukan penghinaan kepada orang lain berdampak buruk kepada diri sendiri, ini berarti menghina orang lain sama saja dengan menghina diri sendiri, merendahkan orang lain sama saja dengan merendahkan diri sendiri. Karena itu, kita dapati berapa banyak orang yang berbicara dalam rangka mencela orang lain, tapi celaan itu justeru berbalik kepada dirinya meskipun kadang tidak ia sadari. Padahal sudah menjadi rahasia umum bila banyak orang tidak suka kepadanya. Karena itu, manusia yang suka menghina berarti merendahkan orang lain, dan iapun akan jatuh martabatnya.

Ketiga, yang dilarang oleh Allah swt adalah memberi gelar yang buruk kepada orang lain. Memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai. Kekurangan secara fisik bukanlah menjadi alasan bagi kita untuk memanggil orang lain dengan keadaan fisiknya itu. Orang yang pendek tidak mesti kita panggil si pendek, orang yang badannya gemuk tidak harus kita panggil dengan si gembrot, begitulah seterusnya karena panggilan-panggilan seperti itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Memanggil orang dengan gelar sifat yang buruk juga tidak dibolehkan meskipun sifat itu memang dimilikinya, misalnya karena si A sering berbohong, maka dipanggillah ia dengan si pembohong, padahal sekarang sifatnya justeru sudah jujur tapi gelar si pembohong tetap melekat pada dirinya. Karenanya jangan dipanggil seseorang dengan gelar-gelar yang buruk. Pada ayat di atas disebutkan bahwa seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, ini berarti ketika seseorang sudah beriman mestinya tidak memanggil atau tidak dipanggil dengan panggilan yang bertentangan dengan nilai-nilai keimanan, bila masih saja demikian, maka itu merupakan suatu kezaliman yang seharusnya ditinggalkan dengan cara bertaubat dan memperbaikinya. Karena itu, Rasulullah saw mencontohkan dengan mengganti nama atau panggilan orang yang namanya bermakna buruk menjadi yang bermakna baik. Misalnya ada yang namanya Qalil (sedikit) lalu diganti dengan Katsir (Banyak), nama Aswad (hitam) diganti dengan Abyad (putih), nama Aashiyah (Pendurhaka) menjadi Jamilah (Indah), nama Hubab (Salah satu nama syaitan) diganti menjadi Abdullah (Hamba Allah) dan sebagainya. Satu hal yang harus kita sadari bahwa ayat ini ditutup dengan kalimat barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Padahal zalim itu identik dengan syirik atau kemusyrikan. Itu artinya, sangat tidak pantas bila orang sudah menyatakan dirinya beriman, tapi masih saja tidak menunjukkan akhlak yang mulia dalam bergaul dan bermasyarakat, karena masih mencela dan merendahkan serta memanggil orang lain dengan panggilan yang buruk.

Demikian khutbah kita yang singkat hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amin.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut