https://nuansaislam.com/Jalan Bahagia (I)

Kebahagiaan merupakan topik yang sangat menarik dan tidak akan pernah habis untuk diperbincangkan. Sementara kebahagiaan yang didambakan oleh manusia masih berada pada titik yang masih labil. Artinya dinamika kebahagiaan hidup manusia begitu bervariasi, beraneka ragam dan berbeda antara satu kebahagaiaan dengan kebahagiaan yang lainnya. Belum lagi perubahan keinginan dan tujuan hidup dalam satu individu yang seringkali membuat manusia terjebak dalam kerakusan duniawi untuk memuaskan hasrat nafsunya yang tak berujung.

Ada begitu banyak pandangan dan pendapat mengenai hakikat dan jalan yang harus ditempuh manusia untuk meraih kebahagiaan. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa kebahagiaan bisa diukur dari seberapa banyak harta yang dimilikinya. Sebagian lain ada yang beranggapan bahwa unsur bahagia ditemukan dalam kesehatan jasmani. Sebagian pula meyakini bahwa kebahagiaan terletak pada pangkat, kedudukan, ketenaran. Di sisi lain, golongan mistisisme juga memiliki keyakinan tersendiri dalam mengartikan kebahagiaan, yaitu kebahagiaan hanya bisa didapat pada kegiatan puncak mistiknya.

Di samping itu semua, ada juga yang mengaitkan kebahagian dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan. Sebut saja misalnya: rekreasi, berkebun, memasak, menjahit, melukis, dan lain sebaginya. Ada juga yang sebaliknya bahagia bisa diraih dengan tanpa melakukan apa pun. Hal ini dijelaskan dalam buku yang berjudul NIKSEN karya Olga Mecking yang isinya menjelaskan “Rahasia Hidup Bahagia Tanpa Melakukan Apa-Apa.” Buku berbahasa Belanda ini menjelaskan cara bahagia ala masyarakat tradisional Belanda dengan kegiatan yang tidak melibatkan pikiran untuk fokus pada satu kegiatan tertentu. Niksen hadir untuk menyeimbangkan ketenangan di tengah kesibukan masyarakat yang kian tinggi.

Meskipun model Niksen belum tentu cocok diterapkan oleh masyarakat kita yang tingkat “rebahan” nya lebih tinggi. Akan tetapi paling tidak niksen mengajarkan kita akan pentingnya relaksasi yang sangat dibutuhkan oleh siapa pun dengan porsi yang tepat pastinya.

Berangkat dari uraian di atas, muncul pertanyaan kebahagiaan yang mana yang benar-benar membuat manusia merasa bahagia? Apakah dengan kepemilikan, pencapaian, atau melakukan kegitan kesukaan tertentu atau justru dengan bersantai ria memanjakan diri menikmati hari? Sebagai muslim tentu kita mendambakan kebahagiaan dunia dan akhirat. Bagaimana cara agar bahagia selalu menemani dalam setiap gerak kehidupan kita dalam kondisi apa pun dan dimana pun?  

Bahagia dalam Al-Qur’an

Untuk mengungkapkan bahagia ada beberapa istilah yang sering dipakai. Kadang kita menyebutnya dengan kata “senang” (joy, farh), lain waktu kita sering pula menggunakan istilah “bahagia” (happy, sa’d). Bedanya kalau senang adalah salah satu jenis emosi positif yang lebih bersifat temporer. Bisa cepat berganti dengan jenis emosi yang lain dan berdimensi horisontal. Sedangkan bahagia keadaan yang lebih stabil, tidak sementara, berdimensi horisontal dan vertikal.

Dalam Al-Quran, ada beberapa istilah yang biasa diapakai untuk menggambarkan atau berhubungan dengan kebahagiaan, yaitu sa’adah (bahagia), falah (beruntung) naja (selamat), dan sakinah (ketenangan/ketentraman).

Kata Sa’d disebutkan dalam surah Hud ayat 105: “Ketika hari itu datang, tidak seorang pun yang berbicara, kecuali dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka/sengsara dan ada yang berbahagia. Kata sa’iid (antonim dari syaqiyy) di akhir ayat ini mengandung nuansa anugrah Allah Swt setelah terlebih dahulu mengarungi kesulitan/kesusahan/perjuangan. Kata sa’iid dalam ayat ini menurut Quraish Shihab maksudnya adalah kelompok orang yang berbahagia, di akhirat nanti yaitu mereka yang beriman dan memperoleh kenikmatan akhirat.

Falaah mengandung arti menemukan apa yang dicari, sukses, beruntung. Falaah ada dua macam, duniawi dan ukhrawi. Falaah dalam tafsir Al-Azhar berarti Bahagia. Kata falaah diantaranya disebut dalam surah al-Mukminu ayat 1, qad aflahal mu’minuun (sungguh telah beruntung orang-orang yang beriman). Lebih rinci tentang kunci/jalan menuju bahagia (falaah) dijelaskan dalam surah al-Mukminun ayat 2-11.

  1. Orang-orang yang khusyu dalam shalatnya.
  2. Orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.
  3. Orang-orang yang menunaikan zakat.
  4. Orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki.
  5. Orang-orang yang memelihara amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
  6. Orang-orang yang memelihara shalatnya.

Najaa merupakan kebahagiaan yang dirasakan karena merasa terbebas dari ancaman yang menakutkan seperti yang sering kita sebut dalam doa wannajaata minannaar (dan permohonan keselamatan dari siksa api neraka).

Dalam Islam, seseorang diminta mengejar kebahagiaan tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat, namun diingatkan agar jangan melupakan nasibnya dalam hidup di dunia ini. (Baca: Surah al-Qashash: 77).Ada orang bahagia hanya di dunia, ada yang hanya di akhirat. Tapi ada yang Allah janjikan kehidupan bahagia sekaligus di dunia dan di akhirat yakni yang beriman dan berbuat baik (An-Nahl: 97) Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Imam Al-Ghazali dalam bukunya “Kimiya Sa’adah”,  mewujudkan konsep kebahagiaan dengan cara menekankan pentingnya arti mengenal Allah. Dengan mendekatkan diri kepada Allah manusia akan mendapatkan ketentraman atau kebahagiaan. Seperti dalam hadits nabi juga disebutkan “man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu”, barang siapa yang mengenal dirinya maka akan mengenal tuhanya. Dan satu-satunya jalan mengenal Tuhan adalah dengan ibadah.

Kebahagiaan yang kita rasakan tergantung pada sejauhmana pemahaman dan pengamalan tentang hakikat diri dan kehidupan serta seberapa besar tingkat kedekatan kita dengan Tuhan.Semua itu akan tercermin dalam bentuk ibadah baik itu ibadah vertkal maupun ibadah horizontal. Semoga kita termasuk orang yang beruntung bisa meraih bahagia dunia akhirat. Wallahu A’lam.                 

 

 

.....

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut