https://nuansaislam.com/'White Lies' pada Anak, Baikkah?

White lies (bohong putih) merupakan sikap yang berlawanan dengan black lies (bohong hitam). Jika white lies dikenal sebagai berbohong yang dilakukan demi kebaikan orang lain, maka black lies adalah kebalikannya. Black lies diucapkan hanya untuk kepentingan diri yang melakukan kebohongan itu sendiri. 

White lies sering dianggap bukanlah sebuah kebohongan biasa dalam artian berdusta. Bahkan tidak sedikit yang menganggapnya bernilai positif. Ini mungkin karena melihat alasan dan efek yang dianggap baik oleh yang melakukannya. Cara berbohong seperti ini sering ditemukan pada pola asuh orang tua terhadap anaknya. 

Acap kali orang tua melakukan kebohongan terhadap anaknya dengan alasan itu adalah white lies, karena mereka sayang, atau sekadar menyenangkan dan menenangkan hati sang anak. Padahal, bisa saja yang dilakukan itu tidak sepenuhnya demi kebaikan si anak. Boleh jadi yang terjadi justru sebaliknya. Kebohongan yang orang tua ucapkan malah  menjadi black lies tanpa ia sadari. 

Sebagai contoh, saat anak merengek minta memainkan gadget atau smartphone ibunya, si ibu dengan cepat menolaknya dengan alasan rusak atau alasan baterai habis, sehingga ia tidak bisa menggunakannya. Padahal, tidak lama setelah itu, anak tersebut melihat ibunya dengan asyik bisa menggunakan gadget yang tadi dikatakan tidak bisa dipakai. 

Pada awalnya mungkin orang tua beralasan bahwa ia ingin membatasi anaknya menggunakan gadget demi kebaikan si anak. Alasan lain pun dilontarkan, seperti gadget tidak baik untuk kesehatan mata anak, takut anaknya kecanduan, dan lain sebagainya.

Mungkin jika dilihat sekilas, alasan ini bisa diterima. Namun, jika permasalahan ini tanpa pertimbangan lagi dan langsung diatasi dengan white lies, bisa jadi efek yang terjadi sama dengan melakukan black lies. Jangan sampai dengan dalih demi kebaikan anak, orang tua berbohong karena ingin segera menyelesaikan rengekan anak tanpa mau merasa capek menjelaskan alasan kenapa si anak  dibatasi menggunakan gadget.

Menyederhanakan penanganan masalah dengan mengambil jalan pintas berbohong, bisa berefek negatif terhadap perkembangan pola pikir dan perilaku anak. 

Hal ini dapat menyebabkan orang tua kehilangan kepercayaan anak terhadap orang tua mereka dengan perkataan dusta yang didengarnya. 
Orang tua yang sering kedapatan berbohong oleh sang anak, sudah tentu akan merasakan sulit mengarahkan perilaku anak. Karena, kebohongan yang ia lakukan telah melemahkan pengaruh nasihatnya.

Anak juga secara tidak langsung diajarkan bagaimana menyelesaikan suatu masalah dengan berbohong. Ia dengan mudah menirunya di kemudian hari. Saat dirinya dalam masalah dengan orang tua maupun orang lain, berbohong akan jadi pilihannya sebagai solusi.

Tetap saja yang terbaik adalah sebisa mungkin orang tua menghindari berbohong. Bukankah lebih baik diberikan alasan yang sebenarnya kepada si anak agar anak mengerti mengapa ia dilarang menggunakan gadget saat itu. Tentu saja ini dilakukan dengan memberikan penjelasan pada anak sesuai kemampuannya memahami informasi dan alasan-alasan yang bisa anak mengerti di usianya yang masih dini.

Memang cara ini tidak mudah. Akan ada perlawanan dari sang anak baik itu dalam bentuk tangisan, protes, teriakan, bahkan tantrum. Namun perlahan anak akan mengerti dan belajar menerima nasihat orang tuanya. Ini lebih baik dibanding anak belajar dan meniru perilaku negatif dari kebohongan-kebohongan yang kerap dicontohkan oleh orang tuanya. 

Rasulullah Saw. sendiri sudah mengingatkan untuk tidak berbohong walaupun terhadap anak-anak:

'Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil, 'Kemarilah, saya akan memberimu sesuatu,' lalu ia tidak memberinya, maka itu adalah sebuah kebohongan.' (H.R. Ahmad)

 

 

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut