https://nuansaislam.com/Tiga Karakter Orang Kafir

.

TIGA KARAKTER ORANG KAFIR

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

Ketua LPPD Khairu Ummah, Ketua Departemen Dakwah PP DMI, Komisi Dakwah MUI Pusat. Penulis 54 Buku. WA 0812-9021-953

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

Sidang Jumat Yang Berbahagia.

Sebagai mukmin, setiap kita harus memahami apa dan bagaimana orang kafir. Mengetahui ini bukan untuk memvonis orang lain sebagai kafir, kecuali bila mereka memang kafir, tapi untuk mencegah jangan sampai karakter orang kafir ada pada diri kita dan masyarakat yang mengaku muslim.

Untuk itu, pada kesempatan khutbah yang singkat ini, menjadi penting bagi kita untuk mengkaji firman Allah swt:

اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ.  الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ بَعِيدٍ

Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.(QS Ibrahim [14]:2-3).

Dari ayat di atas, dapat kita ambil pelajaran bahwa setidaknya ada tiga karakter orang kafir yang harus kita waspadai agar jangan sampai ada pada diri kita. Pertama, Lebih Memiliki Dunia Ketimbang Akhirat. Dunia memang penuh kenikmatan, kenikmatannya bisa dirasakan sekarang. Tapi, kenikmatan dunia sangat kecil dan sedikit dibanding kenikmatan akhirat yang jauh lebih besar. Orang yang lebih mengutamakan dunia ketimbang akhirat, lebih menyukainya ketimbang akhirat, orientasinya hanya dunia semata, lupa akhirat dan tidak peduli dengannya.

Pada dasarnya, dunia dan akhirat bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan. Dunia adalah ladang amal untuk meraih kehidupan dunia dan akhirat yang baik. Namun dalam konteks kenikmatan, maka kenikmatan yang kita peroleh di dunia hanya sebagian kecil dari kenikmatan di akhirat, karena itu jangan sampai manusia terpedaya oleh kenikmatan di dunia ini hingga berprinsip yang penting enak lalu mengabaikan ketentuan Allah swt dan Rasul-Nya. Hal ini ditegaskan oleh Allah swt:

فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal. (Qs As Syura [42]:36).

Sidang Jumat Rahimakumullah.

Kedua yang merupakan karakter orang kafir adalah Mencegah Orang Dari Jalan Yang Benar. Mencegah orang mengikuti jalan Rasul, menghalangi dari keimanan dan memalingkan orang yang ingin masuk Islam dan sudah masuk Islam merupakan upaya amat buruk yang dilakukan oleh orang kafir, karenanya jangan sampai karakter seperti ini ada pada diri kita.

Mau berada pada jalan yang benar atau jalan yang salah merupakan pilihan masing-masing orang. Namun orang yang telah menempuh jalan yang salah ternyata tidak mau sendirian, dia berusaha mengajak orang menempuh jalan yang salah itu dengan mempengaruhi, menggoda dan mengajaknya, bahkan berusaha pula menghalanginya dengan berbagai cara, termasuk dengan kekerasan.Lebih berbahaya bila orang punya kekuasaan tapi digunakan pengaruhnya itu untuk mencegah orang dari jalan yang benar.  

Abu Lahab adalah salah satu contoh manusia yang amat buruk, dengan tangannya ia berusaha menghalau penduduk Makkah agar tidak mendatangi tempat dimana Nabi Muhammad saw hendak berdakwah secara terbuka dan iapun mengecam keras beliau dan tidak ragu mengorbankan hartanya untuk itu, bahkan isterinyapun bekerjasama dengannya dalam rangka ini. Karenanya Abu Lahab mengalami kecaman dari Allah swt sebagaimana firman-Nya:

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ.مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ.سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ.وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ. فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut (QS Al Lahab [111]:1-5)

Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah swt.

Karakter ketiga dari orang kafir adalah Menginginkan Jalan Allah itu Salah. Jalan Allah swt adalah jalan yang benar dan lurus, karenanya setiap muslim menginginkan berada pada jalan itu. Tapi, orang-orang kafir tidak menyukainya, mereka ingin agar jalan Allah menjadi bengkok. Mereka berusaha membentuk opini bahwa jalan Islam itu jalan yang bengkok dan salah. Mereka berusaha agar manusia mengikuti hawa nafsu dan berbagai kepentingan yang mereka inginkan.

Diantara yang harus kita waspadai adalah banyak manusia yang lebih mementingkan apa yang mereka dapati dari orang-orang terdahulu, padahal mereka berada pada jalan yang salah. Orang-orang yang lebih cenderung kepada kesesatan, tidak mau mendengar dan menerima ayat Allah. Ibarat makanan yang lezat, meskipun sebenarnya mereka dalam keadaan lapar ternyata mereka tidak berselera untuk mengambil apalagi menyantapnya, bahkan mereka sampai berpaling, seperti menghadapi makanan yang menjijikkan. Yang lebih memprihatinkan lagi, diantara mereka ada yang tetap bersikukuh dengan petunjuk dari nenek moyang mereka, meskipun nenek moyang mereka sebenarnya tidak tahu apa-apa, Allah swt menginformasikan kepada kita dalam firman-Nya:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS Al Baqarah [2]:170).

Orang-orang yang telah berada pada jalan yang bengkok ternyata tidak mau sendirian, merekapun berusaha mengajak orang lain untuk menempuhnya juga, bukan hanya mempengaruhi dengan pembentukan opini, tapi hingga memaksakan kehendak, apalagi jika mereka memiliki kekuasaan dari sisi ekonomi, persenjataan hingga kekuasaan politik.

Bagi kita, tidak ada pilihan lain kecuali harus berpegang teguh pada prinsip Islam dan menjalani hidup sesuai dengan ajaran Islam, apapun situasi dan kondisinya, meskipun ada resiko yang menghadang, inilah namanya istiqamah di jalan Allah swt.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut