https://nuansaislam.com/Aib

Aib dalam bahasa arab berasal dari kata aaba-yaiibu-aiban, yang mengandung arti kekurangan, cacat, mencela, mencemooh, [1], secara istilah aib mengandung arti kekurangan, cacat atau prilaku manusia yang menyimpang dalam sebuah tatanan tertentu. dalam arti tatanan tersebut bisa sosial kemasyarkatan dan juga bisa ajaran agama. Dalam agama islam aib adalah sesuatu yang diharamkan oleh ajaran islam baik karena bersifat kurang, cacat dan menyimpang. Oleh karenanya aib dalam pandangan suatu masyarakat belum tentu aib dalam pandangan islam, karena setiap masyarakat mempunyai cara pandang sendiri dan kesepakatan sendiri dalam menjadikan sesuatu itu aib, tetapi aib dalam pandangan islam sudah barang tentu akan menjadi aib dalam semua sosial kemasyarakatan.

Kenapa aib dalam pandangan suatu masyarakat belum tentu aib dalam islam? Karena aib dalam pandangan masyarakat adalah hukumnya berdasar kesepakatan masyarakat yang berbeda-beda, terikat dengan keberadaan suatu tempat, lebih kepada yang bersifat perbuatan, sedangkan dalam islam hukumnya berdasarkan syariat islam, dan hukum tersebut bersifat tetap tidak berubah-rubah. Tidak terikat dengan suatu tempat tetapi lebih kepada perbuatan, dan mencakup seluruh perbuatan juga keyakinan.   

Aib dalam artian sebagai suatu kekurangan dan kelemahan, maka pada dasarnya setiap manusia memiliki aibnya tersendiri, oleh karenanya tidak pantas untuk mencela kekurangan orang lain, tetapi setiap diri hendaknya menutupi kekurangannya, dengan senantiasa meningkatkan kualitas diri dengan berbagai hal kebaikan.

Hasan bashri berkata: wahai anak Adam sesungguhnya kalian tidak akan mendapatkan hakikat iman sampai kalian yang mempunyai kekurangan tidak mencela aib orang lain, akan tetapi mulailah dengan memperbaiki kekurangan diri kalian, karena itulah hamba yang Allah swt cintai.[2]

Abu Hatim Ibnu Hibban berkata: kewajiban seorang yang berakal adalah meninggalkan dirinya dari mencari-cari aib orang lain, dengan sibuk memperbaiki kekurangan dirinya. Karena yang demikian akan menjadikannya nyaman badannya dan tidak lelah hatinya.[3]  

Imam Asy Syafii berkata dalam sebuah syairnya:

وَعَينُ الرِضا عَن كُلِّ عَيبٍ كَليلَةٌ   وَلَكِنَّ عَينَ السُخطِ تُبدي المَساوِيا

“Mata simpatik tak akan memandang aib    Sedangkan mata kebencian membuka keburukan[4]

Umar bin Khottob berkata: sesungguhnya manusia yang paling aku cintai adalah yang menghadiahkan aib diriku.[5]

Rasulullah saw bersabda,

يُبْصِرُ أَحَدُكُمُ القَذَاةَ فِي عَيْنِ أَخيه , ويَنْسَى الجِذْعَ فِي عَينه

“Seorang di antara kalian bisa (dengan jelas) melihat kotoran mata saudaranya, namun ia lupa pohon besar yang ada di matanya sendiri!” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 592, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 5761, dishahihkan oleh al-Albani)

Demikian artikel singkat ini semoga bermanfaat.

Referensi

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, 989
  2. Imam Al-Ghazali, Ihyaulumuddin, 3/152
  3. Ibnu Hibban, Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala, 125
  4. Diwan Imam Syafi’i
  5. Ibnul Jauzi, Manaqib, 152

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut