https://nuansaislam.com/Tarhib

Berasal dari huruf ra,ha dan ba(رحب), yang disusun dengan harakat rahiba yarhabu (رَحِـبَ- يَـرْحَـبُ)atau rahuba yarhubu(رَحُـبَ- يَـرْحُـبُ), dari kedua susunan wazan fi’ilnya, secara makna mengandung arti luas, lapang dan lebar. Salah satu bentuk masdarnya adalah rahbun(رَحْبٌ), mengandung arti yang pemurah dan dermawan, bila diungkapkan”rahbushadri”( رَحْبُ الصَّـدْرِ) maka artinya yang lapang dada, bila diungkapkan dengan”rahbah”( رَحْـبَـة ) maka artinya tanah lapang, dan bila diungkapkan “arrahiib”( الرَّحِـيْـب) maka artinya yang suka makan atau banyak makan. Adapun kata tarhiib (تَـرْحِـْيـب)akan didapatkan ketika wazan fi’ilnya dimudha’afkan yaitu dengan menambahkan tasydid(ّ) pada huruf ha, menjadi kata rahhaba yurahhibu tarhiiban(رَحَّـبَ- يُـرَحِّـبُ- تَـرْحِـيْبا) maka artinya meluaskan dan menyambut.[1][2][3]

Bila kita menelusuri ayat Al-Qur’an, kita akan dapati untuk kata rahuba (رَحُـبَ)yang mengandung arti luas, dalam dua ayat Al-Qur’an, dan yang unik kedua ayat tersebut diungkapkan dengan kalimat yang sama yaitu rahubat(رَحُـبَـتْ), berada dalam surat yang sama yaitu surat At-Taubah dan keduanya berbicara tentang peperangan, walaupun dua peperangan itu berbeda, dimana pada ayat 25 dari surat At-Taubah, berbicara tentang perang Hunain, sebagaimana firman Allah swt,

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.(QS. At-Taubah[9]:25)

Satu lagi pada ayat 118 surat At-Taubah berbicara tentang perang Tabuk, yaitu firman Allah swt,

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(QS. At-Taubah[9]: 118)

Dari dua ayat diatas ada kesamaan lain selain peperangan yaitu tentang kesalahan pada pasukan peperangan, walaupun pada perang Hunain kesalahan pasukannya secara global, adapun pada perang Tabuk kesalahannya bersifat personal karena hanya tiga orang yang tidak ikut perang Tabuk tanpa uzdur, maka dari kedua kesalahan dalam dua peperangan tersebut bumi yang luas menjadi sempit bagi keduanya, baik pasukan pada perang Hunain begitu pula tiga orang yang tidak ikut perang Tabuk.

Adapun yang mewakili dari kata rahiba (رَحِبَ)atau rahuba (رَحُبَ)dalam Al-Qur’an yang mengandung arti menyambut atau sambutan, diungkapkan dalam dua ayat pada surat yang sama dan ungkapan kata yang sama yaitu laa marhaban(لَا مَرْحَبًا), yaitu firman Allah dalam surat Shad ayat 59 dan 60,

هَٰذَا فَوْجٌ مُقْتَحِمٌ مَعَكُمْ ۖ لَا مَرْحَبًا بِهِمْ ۚ إِنَّهُمْ صَالُو النَّارِ

 (Dikatakan kepada mereka): "Ini adalah suatu rombongan (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)". (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka): "Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka".(QS. Shad[38]:59)

 قَالُوا بَلْ أَنْتُمْ لَا مَرْحَبًا بِكُمْ ۖ أَنْتُمْ قَدَّمْتُمُوهُ لَنَا ۖ فَبِئْسَ الْقَرَارُ

Pengikut-pengikut mereka menjawab: "Sebenarnya kamulah. Tiada ucapan selamat datang bagimu, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat menetap".(QS. Shad[38]:60)

Kedua ayat tersebut berbicara tentang kaum yang mendustakan Allah swt, dimana mereka akan masuk neraka, maka untuk masuk neraka tidak ada kata penyambutan sama sekali.

Tetapi untuk sesuatu yang baik dan diharapkan kedatangannya, maka biasanya kata-kata penyambutan itu ada dan bahkan dibuat-buat oleh orang yang akan menyambutnya, hal tersebut bisa kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari kita, seperti dalam acara kedatangan tamu penting, pernikahan dan hal-hal baik lainnnya, termasuk sebentar lagi akan datangnya bulan ramadhan, maka orang-orang beriman sangat bersuka cita menyambut kedatangan bulan suci ramadhan.

Semoga Allah swt menyampaikan kita pada bulan ramadhan, bisa melaksanakan ibadah puasa dengan sempurna, mengisi bulan ramadhan dengan berbagai amalan, dan semoga ibadah kita diterima oleh Allah swt.

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, 481
  2. Al-Mu’jam Al-Wasith
  3. Ibnu Manzhur, Lisanul’Arab

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut