https://nuansaislam.com/TIGA CARA MENGGEMBIRAKAN  AHLI KUBUR

.....

TIGA CARA MENGGEMBIRAKAN

AHLI KUBUR

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

Ketua Departemen Dakwah PP DMI, Ketua LPPD Khairu Ummah, Penulis 51 Judul Buku, Trainer Dai dan Manajemen Masjid. Komunikasi 0812-9021-953

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Dapat dipastikan bahwa setiap kita sudah ditinggal mati oleh anggota keluarga. Mungkin kakek-nenek, orang tua, anak atau cucu dan saudara atau kerabat lainnya. Meskipun sudah berbeda alamnya, kita yang masih hidup bisa saja membahagiakan dan menggembirakan mereka, bukan malah membuat mereka sedih. Kalau begitu, apa saja yang masih bisa kita lakukan untuk keluarga atau kerabat yang sudah berada di alam kubur.

Pada kesempatan yang singkat ini, kita bahas tiga cara menggembirakan ahli kubur atau mereka yang sidah wafat. Pertama, ziarah kubur, ini merupakan sesuatu yang dianjurkan kepada kita, kepentingan utamanya untuk kita juga, yakni agar kita ingat kepada mati yang pasti bakal terjadi. Ingat mati membuat kita mengefektifkan waktu untuk beramal shaleh dan mencapai prestasi yang diridhai Allah swt sehingga kehidupan kita meninggalkan kenangan yang baik bagi generasi berikutnya. Dalam hadits disebutkan:

فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkan engkau akan kematian” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)

Orang yang sudah mati merasakan kegembiraan karena ia didoakan, bahkan ketika masuk ke area pemakaman, kitapun sudah mendoakannya dengan mengucapkan salam, doa tersebut disebutkan dalam hadits Rasulullah saw:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

Semoga kesejahteraan bagi kalian wahai para penghuni kubur dari kalangan mukminin dan muslimin. Dan sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul. Aku meminta kepada Allah keselamatan buat kami dan kalian. (HR. Muslim)

مَا مِنْ رَجُلٍ يَزُوْرُ قَبْرِ أَخِيْهِ وَيَجْلِسُ عَلَيْهِ إِلَّا اسْتَأْنَسَ وَرَدَ عَلَيْهِ حَتَّي يَقُوْمَ

Tidak seorangpun yang mengunjungi kuburan saudaranya dan duduk kepadanya (untuk mendoakannya) kecuali dia merasa bahagia dan menemaninya hingga dia berdiri meninggalkan kuburan itu.” (HR. Ibnu Abu Dunya dari Aisyah dalam kitab Al-Qubûr).

Kedua cara yang dapat kita lakukan untuk menggembirakan orang yang sudah meninggal adalah beramal shaleh. Keluarga kita yang sudah wafat bisa kita bahagiakan dengan melakukan berbagai kebaikan dalam kehidupan kita. Hal ini karena apapun yang kita lakukan dalam kehidupan ini akan diperlihatkan kepada keluarga kita yang sudah wafat, bila kebaikan atau amal shaleh yang kita lakukan, maka mereka berbahagia di alam kuburnya, tapi bila keburukan yang kita lakukan, maka hal itu membuat mereka bersedih dan merekapun berdoa agar yang melakukan keburukan itu memperoleh petunjuk. Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Munir ketika mengomentari surat At Taubah: 103-105 mengutip hadits berikut:

إِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى أَقَرِبَائِكُمْ وَعَشَائِرِكُمْ فِي قُبُوْرِهِمْ. فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اِسْتَبْشَرُوا، وَإِنْ كَانَ غَيْرُ ذَلِكَ قَالُوا: اللَّهُمَّ أَلْهِمْهُمْ أَنْ يَعْمَلُوْا بِطَاعَتِكَ

Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga dekat kalian di kubur mereka. Jika itu adalah perbuatan baik, maka mereka akan bergembira dengannya, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah, ilhami mereka untuk berbuat ketaatan kepada-Mu.” (HR. Abu Daud).

            Beramal shaleh atau berbuat baik merupakan keharusan bagi setiap mukmin, namun selain kemaslahatannya untuk yang beramal shaleh, keluarganya yang sudah wafat juga merasa bergembira atas kebaikan itu, kitapun yang masih hidup merasa bergembira ketika ada orang yang melakukan kebaikan, meskipun kita tidak ada hubungan langsung kepadanya.

Sidang Jumat Yang Dirahmati Allah.

Ketiga yang merupakan cara untuk menggembirakan orang yang sudah wafat adalah ilmu yang bermanfaat. Orang yang sudah mati tentu akan bergembira di alam kuburnya bila masih bisa memperoleh pahala. Kita yang hidup bisa mengalirkan pahala untuknya dengan cara mengamalkan kebaikan dari ilmu yang diajarkannya. Ibnu Majah meriwayatkan dari Muadz bin Anas dari ayahnya, bahwa Nabi saw bersabda:

مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا فَلَهُ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الْعَامِلِ

Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya, tidak mengurangi dari pahala orang yang mengamalkannya sedikitpun (HR. Ibnu Majah).

Dalam hadits lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk (kebajikan), maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun (HR. Muslim)

            Selain itu, ketika seseorang mempelopori kebaikan, maka itu namanya melakukan sunnah (Jalan/Cara/Metode/Kebiasaan) yang baik, kita ikut melakukannya, maka saat ia sudah meninggal dunia, iapun akan mendapatkan pahala dari apa yang kita lakukan dan ini tentu menggembirakannya di alam kubur. Agar kita bisa mendapatkan hal itu, kitapun harus menjadi pelopor kebaikan yang diikuti oleh generasi kemudian. Dalam hadits, diriwayatkan dari Abu Juhaifah ra bahwa Nabi saw bersabda:

مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ وَمِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهُ وَمِثْلُ أَوْزَارِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa yang melakukan sunnah (jalan/cara/metode/kebiasaan) yang baik, kemudian diamalkan (oleh orang-orang lain) setelahnya, maka dia mendapatkan pahala hal tersebut dan seperti pahala mereka (orang-orang yang mengikuti), dengan tidak mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa melakukan sunnah (jalan/cara/metode/kebiasaan) yang jelek, kemudian diamalkan (oleh orang-orang lain) setelahnya, maka dia mendapatkan dosa hal tersebut dan seperti dosa mereka (orang-orang yang mengikuti), dengan tidak mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka”. (HR. Ibnu Majah).

            Dengan demikian, kita yang hidup masih bisa membahagiakan orang yang sudah mati.

            Demikian khutbah kita yang singkat hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amin.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut