https://nuansaislam.com/Cinta Sarah

Akhir-akhir ini berbagai kisah romantika rumah tangga menjadi hangat diperbincangkan. Salah satu penyebab yang diduga sebagai pemicunya adalah ramainya bermunculan istilah pelakor yang berseliweran baik di dunia maya maupun di antara pembicaraan kaum hawa di dunia nyata. Ini bisa dipahami, karena dalam sebuah ikatan cinta antara sepasang suami istri, hal yang sangat ingin dihindari keduanya adalah hadirnya orang ketiga yang dapat mengganggu keharmonisan yang sudah terbina.

Penulis teringat akan kisah seorang wanita bernama Sarah. Dalam kehidupan rumah tangganya hadir orang ketiga di antara ia dan suaminya, yaitu Hajar. Tentu saja Hajar tidak tercatat dalam sejarah sebagai pelakor karena menjadi istri Nabi Ibrahim saat Nabi Ibrahim masih berstatus suami Sarah.

Kehadiran Hajar memang atas sepengetahuan dan seizin Sarah sendiri. Bukan karena Sarah tak cinta lagi dengan Nabi Ibrahim hingga ia mau membagi suami dengan wanita lain. Dalam kisahnya, ada alasan tersendiri yang membuatnya merelakan itu semua terjadi.

Kisah Sarah menjadi salah satu kisah wanita yang diabadikan dalam Al-Qur’an . Sarah adalah istri Nabi Ibrahim, sekaligus wanita pertama yang beriman kepada ajarannya.

Ketika Sarah dan sang suami hijrah ke Mesir, ia mendengar bahwa raja Mesir kala itu- Heksos- adalah pria yang sangat menyukai para wanita. Sarah sendiri merupakan wanita yang memiliki paras yang cantik jelita.

Mengetahui hal ini, Nabi Ibrahim khawatir jika Sarah akan direbut raja dari dirinya. Ia juga khawatir akan dibunuh jika raja tahu kalau dirinya adalah suami Sarah yang akan menjadi penghalang untuk memiliki Sarah. Karenanya, Ibrahim meminta Sarah untuk mengaku sebagai adiknya saja jika ditanya oleh pihak kerajaan.

Benar saja, setelah mereka masuk ke Mesir, para prajurit raja yang melihat kecantikan Sarah langsung melapor ke raja. Raja pun memerintahkan agar Sarah dijemput ke istana.

Sesampainya di istana, raja mendekatinya dan akan mengganggunya. Tiba-tiba tangan raja lumpuh tak dapat bergerak. Raja meminta Sarah untuk berdoa kepada Rabbnya untuk menyembuhkannya seraya berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya. Sarah berdoa kepada Allah dan Allah mengabulkannya. Ini berulang beberapa kali hingga akhirnya raja menyerah dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi selama-lamanya. Akhirnya Sarah pun keluar dari istana dan diberinya seorang pelayan bernama Hajar.

Sarah dan Ibrahim kembali ke Palestina. Tahun-tahun berlalu melewati kehidupan rumah tangga mereka dengan begitu cepat. Tak terasa, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Tentu saja Sarah sangat merindukan hadirnya seorang anak. Namun, apa yang bisa ia lakukan sedang ia menyadari bahwa dirinya sudah berumur lanjut dan diperkirakan sudah tidak bisa memiliki anak. Padahal, ia sangat mencintai suaminya yang ia tahu juga sangat merindukan hadirnya sang buah hati.

Saat Hajar datang melayani mereka dengan membawakan minuman, wanita itu dipandanginya. Dalam hati Sarah berkata: “Hajar pantas menjadi istri Ibrahim untuk memberinya anak. Tetapi hatinya pun bergolak dan sempat terpikirkan olehnya bahwa nanti dia dapat merebut cinta Ibrahim karena memperoleh anak.

Namun ia menyadari bahwa Ibrahim merupakan suami yang sangat baik. “Tidak mungkin ia akan meninggalkan aku begitu saja,” pikirnya. Cintanya kepada Ibrahim membuatnya percaya bahwa Ibrahim tidak akan mengabaikannya.

Akhirnya Hajar pun menikah dengan Ibrahim atas saran Sarah. Tak lama kemudian Hajar hamil dan melahirkan putra yang diberi nama Ismail.

Melihat itu, kecemburuan pun tak terelakkan dari hati Sarah. Hari-hari berlalu dan kecemburuan Sarah terhadap Hajar semakin kuat. Akhirnya ia pun meminta kepada Ibrahim agar menjauhkan Hajar dan putranya dari dirinya.

Ternyata itu pula kehendak Allah. Allah memerintahkan kepada Ibrahim untuk membawa Hajar dan putranya ke suatu lembah di dekat Baitullah.

Di sisi lain, Allah juga berkehendak membuktikan kekuasaaan dan keagungan-Nya pada diri Sarah. Allah mengutus malaikat untuk menyampaikan kabar gembira bahwa Sarah akan hamil dan melahirkan putra. Jelas saja Sarah terkejut. Bagaimana mungkin seorang wanita berusia hampir sembilan puluh tahun akan melahirkan anak?

“Sangat mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan suamiku pun dalam keadaan tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh “(QS. Hud, 72)

Lalu dijelaskanlah kepadanya :

“Apakah kamu merasa heran tentang  ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya dicurahkan atas kamu wahai ahlul bait, karena sesungguhnya Allah maha Terpuji lagi maha Pemurah” (QS.Hud, 73)

Allah menepati apa yang telah dijanjikan-Nya.

Cinta Sarah pun kini semakin lengkap dengan  hadirnya buah hati, Ishak.

“Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak dan setelah Ishak (akan lahir) Yakub” (QS. Hud, 71)

Sumber : Al-Qur’an Bercerita Soal Wanita, Jabir Asysyaal, Jakarta: Gema Insani

                                                                                                                                                                                                

 

 

 

 

 

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut