https://nuansaislam.com/Hijab Tanpa Agama

Salah satu pintu masuk memahami al-Qur’an yang menarik bagi banyak pemerhati al-Qur’an adalah konsep asbâb al-nuzûl yang memberi satu kalimat kunci bahwa pada setiap teks ada konteks di baliknya yang bisa memperkaya makna teks itu sendiri. Bahkan dalam bentuk ekstrimnya, ada pendapat yang mengatakan bahwa tanpa konteks, sebuah teks tidak akan pernah bisa dipahami karena sebuah teks tidak hadir dalam ruang hampa.

Secara tradisional dipahami bahwa asbâb al-nuzûl ada pada ayat-ayat tertentu tetapi juga tidak ada pada ayat-ayat tertentu pula. Namun pada pemahaman yang mengatakan tidak ada teks yang tidak ada konteksnya, maka al-Qur’an secara keseluruhan pasti dilatarbelakangi turunnya oleh sebuah konteks dan itulah asbâb al-nuzûl-nya. Tentu saja itu adalah perdebatan yang panjang dan tidak akan dibahas di tulisan ini.

Tetapi sesungguhnya cukup mudah untuk memahami bahwa al-Qur’an memiliki konteks. Relasi antara teks Al-Qur’an dengan konteksnya itulah yang melahirkan makna kerena konteks adalah kenyataan yang direspon oleh Al-Qur’an sambil memberikan pesan-pesannya. Tulisan ini menganut pemahaman bahwa setiap teks pastilah ada konteksnya.

Selanjutnya, karena sebuah teks adalah respon terhadap konteksnya, maka teks yang hadir adalah teks yang spesifik karena konteks yang direpon pun adalah konteks yang spesifik. Namun tidak mesti serta merta pesan yang hendak disampaikan oleh sebuah teks juga adalah spesifik. Pesan yang dimaksud bisa saja cenderung bersifat universal dan berlaku sepanjang zaman dan di segala tempat.

Jilbab atau Hijab

Ada banyak istilah untuk jilbab, seperti hijab, burqa, cadar, kerudung, mukena, mantel, dan sebagainya. Namun di antara semua istilah itu, hanya hijab yang bermakna ganda karena bisa berarti pakaian dan bisa pula selain pakaian; sedangkan istilah-istilah lain selalu berarti pakaian. Hijab bisa pula mencakup makna semua istilah-istilah lain di atas namun istilah-istilah lain tidak bisa saling mewakili. Kita bisa menyebut orang berhijab dengan maksud berjilbab, bercadar, berkerudung, dan seterusnya karena hijab berarti penghalang. Namun bercadar tidak bisa dimaksudkan berkerudung, berjilibab, dan seterusnya walaupun bisa disebut berhijab.

Kerena hal-hal di atas itulah, maka tulisan singkat ini berfokus kepada pembahasan tentang hijab yang di dalam bahasa Arab ditulis hijâb. Di dalam al-Qur’an, kata ini berakar kata pada huruf-huruf hâ’jîm-bâ’ disebutkan di dalam 8 (delapan) ayat.[1] Di kesemua ayat itu, arti hijab adalah penghalang atau pemisah. Ada panghalang yang konkret, namun lebih banyak yang berarti penghalang yang abstrak.

Namun baik konkret maupun abstrak, tidak satupun yang harus berarti pakaian. Karena itu, bisa diduga bahwa hijab yang berarti pakaian hadir karena kata hijab dihubungkan dengan istilah-istilah lain atau ayat hijab dihubungkan dengan ayat-ayat lain, terutama ayat jilbab QS. Al-Ahzab/33: 59. Karena pada surah Al-Ahzab ini ada disebutkan tentang jilbab dan hijab, maka tulisan ini akan memfokuskan diri pada beberapa bagian dari Surah Al-Ahzab.

Al-Ahzab, Jilbab, dan Hijab

Bagian dari Surah Al-Ahzab yang berbicara tentang jilbab dan hijab sesungguhnya adalah bagian dari rentetan ayat yang berbicara tentang Nabi Muhammad SAW dan istri-istinya yang dimulai dari QS. Al-Ahzab/33: 50 (perempuan yang halal dinikahi oleh Nabi), Al-Ahzab/33: 51 (hak Nabi untuk mempertahankan atau melepaskan istrinya), Al-Ahzab/33: 52 (larangan untuk Nabi menikah lagi).

Pada QS. Al-Ahzab/33: 53-55 lah pembicaraan tentang hijab sangat intensif, lalu dijeda pada QS. Al-Ahzab/33: 56-58. Karena ayat-ayat ini berbicara tentang perintah bershalawat dan ancaman terhadap yang menyakiti Allah, Nabi, dan orang-orang beriman. Ayat-ayat tersebut memang tidak berbicara tentang hijab tetapi bisa membantu untuk memahami ayat-ayat hijab.

Pada QS. Al-Ahzab/33: 59-62, pembicaraan tentang hijab kembali intensif. Itulah alasan mengapa ayat-ayat di atas yang tidak berbicara langsung tentang hijab dianggap bisa membantu dalam upaya memahami hijab itu sendiri. Pada QS. Al-Ahzab/33: 59-62 dibicarakan tentang keharusan perempuan memakai jilbab dan ancaman terhadap orang munafik.

Konteks dan Teks Ayat Hijab

Misi kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah kesetaraan, pembebasan, dan pembelaan pihak yang lemah. Atau yang dalam ungkapan Kontowijoyo pada buku Islam Sebagai Ilmu disebut humanisasi, liberasi, dan transendensi (Jakarta: Mizan, 20014). Meski tidak persis dengan Kontowijoyo, misi kerasulan Nabi Muhammad SAW yang dimaksud tulisan ini boleh dikata memiliki spirit yang sama.  Misi kerasulan itulah yang menjadi konteks bagi ajaran Islam, pesan Al-Qur’an, dan khususnya syariat hijab dan jilbab.

Pada QS. Al-Ahzab/33: 53-54 dibicarakan tentang hijab yang sesungguhnya adalah berisi aturan relasi antara tiga pihak, yaitu Nabi, istri-istri Nabi, dan sahabat Nabi. Keakraban Nabi dengan para sahabatnya hampir-hampir melintasi batas ruang-ruang privasi Nabi seperti perasaan Nabi dan hubungan antara Nabi dengan istri-istrinya. Ayat-ayat ini lalu turun untuk mengatur itu dengan membatasi dan memberi batas relasi tersebut, baik dari segi waktu maupun dari segi cara.

QS. Al-Ahzab/33: 53-54 ingin menyapaikan pesan bahwa di dalam setiap relasi, ada perasaan yang harus dijaga agar tidak tersinggung atau terluka. Khusunya antara laki-laki dan perempuan dan khususnya pula relasi antara seseorang dengan keluarga orang lain. Pesan tersebut tampak pada QS. Al-Ahzab/33: 54 yang menyatakan bahwa apapun yang disembunyikan (niat untuk merusak relasi atau pun niat untuk menjaga relasi) pastilah diketahui oleh Allah SWT. QS. Al-Ahzab/33: 55 juga memperkuat pesan tersebut karena di sana ada aturan longgarnya aturan relasi antara istri-istri Nabi dengan keluarga dekatnya sendiri seperti bapak, anak, saudara, dan seterusnya. intinya, bukan orang lain.

Melompat ke QS. Al-Ahzab/33: 57, ada ancaman bagi mereka yang menyakiti Allah, Nabi, dan orang-orang beriman. Menyakiti Allah tentu saja dimaksudkan melanggar perintah-Nya. Adapun menyakiti Nabi, jika dikaitkan dengan ayat sebelum dan sesudahnya, maka itu berarti membuat perasaan Nabi tersinggung atau terluka akibat relasi yang tidak pantas dengan istri-istri beliau atau keluarga besar beliau.

Anjuran untuk Istri-Istri Nabi

Hal serupa berlaku bagi para sahabat Nabi baik agar mereka tidak melakukan perbuatan tercela maupun agar mereka tidak menjadi sasaran perbuatan tercela. Di antara ayat-ayat di atas ada terselip ayat perintah bershalawat yaitu pada QS. Al-Ahzab/33: 56. Perintah tersebut dipahami sebagai jangankan menyakiti perasaan Nabi, malah diperintahkan untuk mendoakan salam dan penghormatan kepada Nabi.

Setelah itu, barulah sampai kepada anjuran untuk memakai jilbab pada QS. Al-Ahzab/33: 59. Konteks ayat ini adalah setelah ada perintah untuk para sahabat menjaga relasi dengan Nabi dan istri-istrinya, maka itu tidak cukup. Yang juga harus dilakukan adalah para istri Nabi menempatkan diri sebagai perempuan-perempuan terhormat agar dihormati.  Jadi, ada perintah untuk menghormati Nabi dan istri-istrinya dan ada perintah kepada istri-istri Nabi agar mereka berpakaian selayaknya orang-orang terhormat. Sebuah tindakan dua arah.

Misi Kesetaraan

Kembali kepada misi kerasulan yaitu kesetaraan, pembebasan, dan pembelaan pihak yang lemah. Kesetaraan sudah mulai tampak walau masih dini pada ayat-ayat tersebut. Karena adanya aturan dua arah, baik kepada perempuan maupun kepada laki-laki. Misi pembebasan pun sudah mulai tampak meski masih dini. Karena posisi lemah perempuan diperkuat dengan adanya aturan untuk laki-laki untuk tidak mengganggu perempuan manapun.

Namun posisi perempuan yang masih lemah pada zaman itu membuat anjuran berljibab adalah sebagai tanda bahwa perempuan yang memakainya tidak boleh diganggu. Lalu bagaimana dengan yang tidak memakai jilbab? Bolehkah diganggu? Tentu tetap saja tidak boleh. Namun di zaman itu, ada aturan untuk tidak mengganggu saja sudah merupakan tindakan revolusioner. Dari kenyataan aturan-aturan tadi itulah terbaca bagaimana pesan-pesan al-Qur’an memang untuk membela pihak yang lemah.

Sebagai simpulan, anjuran untuk berjilbab sebagai hijab adalah salah satu bentuk upaya al-Qur’an untuk mewujudkan misi kesetaraan, pembebasan, dan pembelaan pihak yang lemah. Jika anjuran berjilbab malah mengingkari misi kesetaraan, pembebasan, dan pembelaan pihak yang lemah, atau semakin membuat relasi perempuan-laki-laki semakin tidak setara, semakin mengekang perempuan, atau bahkan semakin memperlemah posisi perempuan, maka itulah hijab tanpa agama.[]

(Tulisan ini pernah terbit di TANWIR.ID)

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut