https://nuansaislam.com/Kontekstualisasi Makna Syahid

Syahîd yang sesungguhnya adalah laku, bukan kata. Tapi kini semata-mata adalah kata. Ketika dia berubah menjadi kata, maka maknanya diperebutkan, dipertikaikan, bahkan dipolitisir. Saat dia menjadi laku, maka tidak ada perebutan. Saat dia laku, maka syahîd adalah kesenyapan karena diperhadapkan kepada Yang Maha Tahu terhadap segala kepura-puraan dan segala kata yang menutupi laku.

Tidak perlu ada perebutan makna untuk syahîd karena masing-masing orang memiliki jalan syahîd-nya sendiri yang tidak harus sama dengan orang lain. Memperebutkan makna syahîd adalah perbuatan yang memalukan karena syahîd yang awalnya adalah persaksian perbuatan, perkataan, dan tingkah laku hanya kepada Allah dan Rasul-Nya diturunkan derajatnya menjadi persaksian kepada sesama manusia demi kepentingan duniawi. Itu bukan hanya memalukan tetapi sudah masuk wilayah penistaan ajaran Islam.

Syahid dalam Al-Qur’an

Dari sudut bahasa, syahîd berasal dari kata syahida yang berarti bersaksi. Dalam Islam, bersaksi berhubungan erat dengan syahadat (persaksian) yang berarti bersaksi dan menyatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah. Jadi, dari sudut bahasa, siapapun yang wafat (juga hidup) dalam keadaan memegang teguh persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, maka wafatnya (juga hidupnya) sebagai syahîd, penyaksi.

Dalam QS. an-Nisa/4: 69 disebutkan: Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Orang-orang yang wafat di jalan Allah, seperti dalam peperangan memperjuangkan agama Allah disebut syahîd. Karena wafatnya mereka adalah bukti persaksian ketuhanan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Namun, apakah wafat dalam perang itu satu-satunya bentuk persaksian? Kenyataannya, di dalam Islam, itu bukan satu-satunya bentuk syahîd. Ada yang wafat karena disiksa akibat menolak untuk berpindah agama. Itu juga syahîd. Kata kuncinya selalu pada persaksian pada ketuhanan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Kenyataannya pula, untuk membuktikan ketuhanan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, ada banyak cara selain perang. Ada orang yang karena Islam, mereka menjadi cinta damai dan kecintaan mereka pada kedamaian adalah persaksian mereka. Di sana juga ada pula yang karena Islam, mereka rela mengorbankan harta untuk kesejahteraan sesama manusia. Ada seorang ilmuan yang mewaqafkan hidupnya untuk meneliti demi kemanusiaan. Karena Islam mengajarkaannya demikian. Itupun bukti persaksian mereka.

Karena itu, satu-satunya yang tidak bisa ditawar-tawar untuk syahîd adalah segala yang dilakukan adalah sebagai persaksian ketuhanan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Dan satu lagi, laku tersebut haruslah berupa kebajikan. Sebaik apapun perbuatan itu, tidak akan dihitung syahîd jika dilakukan bukan dalam rangka persaksian. Lalu, apakah syahîd harus perang? Sepertinya itu bukan satu-satunya.

Jalan Allah Ada Banyak

Pengasosiasian perang sebagai satu-satunya jalan syahîd adalah karena bergandengannya dia dengan kata fî sabîlil Lâh yang berarti “di jalan Allah”. Apakah jalan Allah hanya perang? Lagi-lagi sepertinya bukan satu-satunya. Mereka yang mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya juga di jalan Allah. Demikian pula dengan mereka yang menuntut ilmu, berbakti kepada orang tua, memimpin dan mengajak orang-orang dalam kebaikan, menggunakan jabatan untuk kesejahteraan manusia, melatih diri untuk tetap di dalam kebaikan dan menghindari perbuatan buruk, menjaga perdamaian, menahan amarah, dan sebagainya masih banyak yang lain.

Bahkan tersenyum kepada sesama pun adalah jalan Allah. Karena semua itu adalah jalan-jalan kebajikan. Bagaimana dengan semua laku itu? Apakah tidak layak mendapatkan gelar syahid? Bukankah semua laku itu telah memenuhi syarat sebagai perbuatan baik dan juga sebagai bentuk persaksian atas Ketuhanan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, serta syarat bahwa semua itu adalah jalan Allah dan jalan kebajikan?

Al-Qur’an memang banyak mengasosikan perang dengan syahid. Hal itu bisa dimaklumi konteks karena al-Qur’an turun adalah memang dilingkupi perjuangan fisik mempertahankan Islam, bukan konteks pembangunan peradaban. Dalam konteks pembangunan peradaban, maka perjuangan tidak lagi selalu fisik tetapi pendidikan. Al-Qur’an pasti tidak salah. Al-Qur’an tidak turun di ruang hampa.

Di dalam hadis lah banyak disebutkan tentang jalan-jalan kebajikan yang tidak selalu perang hingga kebajikan sederhana seperti memberi minum kepada anjing yang kehausan. Dan itu langsung berdampak pengampunan dan surga bagi pelakunya! Kita pasti tahu hadis tentang orang beriman haruslah memuliakan tetangganya dan juga memuliakan tamunya. Sederhana, kan? Tetapi itu adalah jalan kebajikan dan juga jalan Allah, tentunya.

Persaksian Itu Bukan Kata

Kita jadi teringat kepada salah satu sabda Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa siapapun yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, maka pasti masuk surga. Barangkali ada yang mengatakan begitu mudah masuk surga, cukup dengan bersaksi atas ketuhanan Allah. Saya sepakat bahwa masuk surga memang seharusnya tidak susah karena Allah tidak mungkin menyusahkan hamba-Nya.

Namun tentang hadis ini, yang perlu ditegaskan adalah bahwa persaksian di situ bukan kata, tetapi laku. Ya, Hadis itu adalah pernyataan bahwa persaksian atas Ketuhanan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW merambah siapapun dan dalam laku di jalan kebajikan manapun pasti akan mendapatkan surga karena kunci yang sesungguhnya adalah persaksian itu sendiri, bukan spesifik pada laku tertentu.

Masihkan kita bersikeras untuk mendegradasi makna syahîd hanya dalam level kata untuk kepentingan duniawi walaupun itu atas nama Allah? Sebaiknya tidak!

Tulisan ini pernah terbit di TANWIR.ID

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut