https://nuansaislam.com/Buthulah

Berasal dari kata bathala yabthulu buthulan wa buthlanan, secara bahasa mengandung arti batal, sia-sia, kata bathala ketika digabungkan dengan kalimat minal amal menjadi bathala minal ‘amal maka artinya menganggur, ketika diungkapkan dengan “abthala fi kalamihi” maka artinya bersendagurau atau berkelakar, ketika huruf tha nya diharokati dhommah menjadi kata bathula maka artinya adalah menjadi pahlawan atau juara, ketika menjadi isim atau kata benda seperti kalimat al-bathalu maka artinya pahlawan, dan kata buthulah diartikan dengan kepahlawanan.[1]

Dalam pandangan islam kepahlawanan tidak bersifat individualistis, tidak dilihat dari kemampuan dan kelebihan pada personal dari asal usulnya, melainkan sejauhmana hasil kolektifitas yang dibangun dari personalnya. Adapun yang membedakan setiap individunya adalah ketaqwaan yang tercermin dalam jiwanya, sebagaimana firman Allah swt:” sesungguhnya yang paling mulai diantara kalian adalah yang paling bertaqwa diantara kalian” (QS. Al-Hujurat;[49]: 13).

Dalam sejarah islam, kepahlawanan tercermin pada generasi yang mendampingi Rasulullah saw, mereka itu para sahabat yang mulia, setiap mereka memiliki kepahlawanan yang berbeda-beda, tetapi kolektifitas mereka lebih mencerminkan kepahlawanannya, sebagaimana dalam sebuah riwayat disebutkan, setelah terjadi fathu Makkah, datanglah rombongan dari bani Tamim kepada Rasulullah saw, mereka berkata: wahai Muhammad kami datang kepadamu untuk saling berbangga denganmu, maka ijinkanlah para penyair kami, para khotib kami untuk berbicara, maka Rasulullah saw mengijinkan mereka, maka berdirilah seorang penyair dari bani Tamim yang bernama Zubarqan bin Badr dan berkata: “kami kaum yang mulia, tidak ada seorangpun yang menyamainya, dari kami para raja, dan pada kami pembagian kekayaan, kami memberi makan ketika terjadi kelaparan”  kemudian Rasulullah saw meminta Hasan bin Tsabit untuk membalas syair mereka, Hasan berkata: “ sesungguhnya serigala dari Fihir dan saudara-saudaranya, sudah jelas sunnah untuk diikuti, menerima setiap yang memiliki kebaikan, bertaqwa kepada ilahi sesuai perintah yang disyariatkan, kaum apabila berperang musuhnya menjadi lemah, atau menjadikan bermanfaat maka mereka merasakan manfaatnya”.

Dari dua syair terlihat perbedaan, bani Tamim lebih menonjolkan kesukuannya, sementara sahabat Rasulullah saw lebih mengkolektifitaskan kelebihan pada semuanya tidak pada individu tertentu, maka seorang dari bani Tamim yang bernama Aqra’ bin Habis berkomentar setelah mendengar syair hasan bin Tsabit:” demi Allah sesungguhnya Muhammad seorang yang telah diberi sesuatu, khotibnya lebih baik dari khotib kami, penyairnya lebih baik dari penyair kami”. Kemudian romobongan bani Tamim semuanya masuk islam.[2]

Pahlawan selalu merendah, walaupun mempunyai kelebihan dan kemuliayaan, Rasulullah saw merupakan pribadi yang penuh dengan kepahlawanan, pribadi yang paling bertaqwa, mulia, memiliki kedudukan, tetapi beliau selalu mempunyai sifat waro’, sebagaimana Allah firmankan dalam Al-Qur’an,

Aku bukanlah rasul yang pertama diantara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak pula terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.(QS. Al-Ahqaf[46]: 9)

Pemahaman merupakan dasar akan munculnya kepahlawanan, karena pahlawan bukan sekedar gelar yang disematkan, juga merupakan sesuatu yang belum sempurna, karena jaman terus mencari para pahlawan dengan kepahlawanan yang akan menghiasinya, jaman masih menunggu para pahlawan, sebagaimana kepahlawanan telah menghiasi pada masanya, dan setiap masa ada pahlawannya yang akan mengukir sejarah.

Bagi seorang muslim dalam memandang kepahlawanan, tidak ada dalam benak pikirannya kecuali berkhidmat kepada agama dan mencari ridho Allah swt, bukan dunia tujuannya atau jabatan untuk didudukinya, Khalid bin Walid merupakan pribadi yang penuh kepahlawanan, kehidupan siang malamnya diisi dengan perjuangan, sampai beliau pernah berkata:” tidak ada satu malam diberikan kepadaku pengantin, atau kabar gembira dengan akan lahirnya seorang putra, lebih aku cintai dari malam yang sangat dingin bersama kaum muslimin dalam suatu peperangan” beliau lebih cinta berjihad dan sudah banyak peperangan yang diikuti dan pimpinnya, tetapi pada ahirnya wafat diatas tempat tidurnya.[3]

Pada akhirnya setiap kita akan mengukir sejarahnya, pemahaman dan aktualisasinya dalam kehidupan, akan menghiasi jaman dan menjadi tutur kata bagi para penerus kehidupan, sampai kehidupan ini benar-benar berakhir.

Referensi

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir,92
  2. Husain Al-Haj Hasan, Adabul ‘Arab fi Shadril Islam, 79
  3. Khalid Muhammad Khalid, Rijal Haular Rasul, 305

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut