https://nuansaislam.com/Al-Qur'an Bukanlah Wahyu

Barangkali pertanyaan itu terdengar absurd. Namun kita biarkan keabsurdan itu hadir untuk sementara. Kita lanjutkan kepada kemungkinan jawabannya yang barangkali tidak kalah absurdnya. Jawaban yang mungkin muncul bisa dua: pertama, al-Qur’an adalah wahyu dan kedua, al-Qur’an bukan wahyu. Untuk menghakimi mana yang jawaban yang relevan di antara keduanya atau keduan relevan, maka kita akan menelusuri makna wahyu di dalam al-Qur’an.

Makna Wahyu dalam Al-Qur’an

Di dalam al-Qur’an, ada sekitar 41 kali kata wahyu disebutkan dengan berbagai derivasinya. Secara bahasa, wahyu yang berasal dari bahasa Arab yang berarti “insipirasi”. Yang paling sering disebutkan ayat-ayat tentang wahyu di dalam Al-Qur’an menyebutkan bahwa wahyu adalah “insipirasi” dari Allah kepada para nabi. Sepertinya memang itu adalah makna resmi dari wahyu. Selebihnya adalah makna tidak resmi dari wahyu yang terkadang berarti inspirasi atau perkataan seseorang (bukan dari Allah SWT) kepada orang lain semisal perkataan Nabi Zakaria AS kepada kaumnya (QS. Maryam/19: 11). Di tempat lain di dalam al-Quran disebutkan pula bahwa setan pun mewahyukan (menginspirasi) (QS. al-An’am/6: 121 dan 112).

Kadang pula disebutkan wahyu tetap dari Allah SWT tidak kepada orang-orang yang biasanya disebut nabi. Wahyu dalam bentuk ini pernah disebutkan untuk ibunya Nabi Musa AS (QS. al-Qashash/28: 7) dan pernah pula untuk pengikut setia Nabi Isa AS (QS. al-Ma’idah/5: 11). Pernah pula inspirasi dari Allah SWT ditujukan kepada malaikat (QS. Al-Anfal/7: 12). Namun sepertinya jika selain kepada nabi, maka wahyu (inspirasi) tidak lebih dari pemakaian bahasa, sedangkan pemakaian istilahnya yang resmi tetap wahyu adalah dari Allah SWT untuk nabi. Di dalam al-Qur’an, yang paling banyak disebutkan adalah wahyu untuk Nabi Muhammad SAW. Kepada nabi lain juga banyak tetapi tidak sebanyak kepada Nabi Muhammad SAW.

Wahyu Hanya Diturunkan Pada Nabi

Mari kita fokuskan pada wahyu untuk Nabi Muhammad SAW. Di dalam QS. al-Kahf/18: 110 disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menegaskan dirinya adalah manusia biasa yang mendapatkan wahyu yang berisikan ajaran bahwa Tuhan manusia adalah Tuhan Yang Esa. Penegasan sebagai manusia biasa adalah isyarat bahwa Nabi Muhammad SAW tidak berbeda dengan manusia lainnya, namun dengan penegasan bahwa beliau mendapatkan wahyu, maka itu adalah sekaligus penegasan bahwa beliau bukan manusia biasa (karena mendapatkan wahyu). Memang ayat ini tidak menyebutkan bahwa manusia lain tidak mendapatkan wahyu, tetapi jika manusia lain juga mendapatkan wahyu, maka tentu tidak perlu Nabi Muhammad SAW menyebutkan dirinya sebagai manusia biasa yang menerima wahyu.

Lalu bagaimana wahyu itu datang kepada Nabi Muhammad SAW? QS. asy-Syura/42: 51 menyebutkan bahwa Allah SWT tidak mungkin berbicara kepada manusia secara langsung, tetapi pasti lewat wahyu (inspirasi) atau lewat perantara, misalnya perantara malaikat. M. Quraish Shihab menafsirkan “tidak langsung” dengan tidak bertemunya secara langsung antara pendengar (manusia) dengan pembicara (Allah SWT). Ringkasnya, pendengar hanya berjumpa semacam “inspirasi” tanpa berjumpa sang “pengispirasi”. “Inspirasi” tersebut disebut wahyu ketika sampai kepada Nabi Muhammad SAW dan disebut al-Qur’an ketika sampai kepada umat Islam.

Ada catatan penting yang timbul dari paparan singkat di atas, yaitu yang mendapatkan wahyu adalah Nabi Muhammad SAW dan bukan umatnya. Jika, umatnya juga mendapatkan wahyu, maka umatnya tidak beda dengan nabi. Lalu apa yang didapatkan dan kini dibaca oleh umat Islam? Umat Islam mendapatkan al-Qur’an, bukan wahyu. Apakah Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu sekaligus al-Qur’an? Dan apakah al-Qur’an yang didapatkan oleh umat Islam berbeda dengan wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW? Kedua pertanyaan tersebut adalah persoalan berbeda. Yang sementara kita bisa pahami adalah bahwa umat Islam hanya mendapatkan Al-Qur’an dan tidak mendapatkan wahyu.

Perbedaan Al-Quran dan Wahyu

Di sebagian besar ayat tentang wahyu di dalam al-Quran, tidak ada penyebutan secara eksplisit bahwa al-Qur’an dan wahyu itu berbeda. Karena itu, kesan bahwa Al-Qur’an dan wahyu itu sama lebih kuat. Kesan tersebut terbawa pula ke dalam terjemahan bahasa Indonesia dari al-Qur’an. Barangkali itu terjadi karena ayat-ayat tentang wahyu tidak menyebutkan kata “al-Qur’an” sekaligus dalam satu ayat. Makanya, kita perlu melihat satu ayat yang menyebutkan kata “wahyu” dan kata “al-Qur’an” secara bersamaan, yaitu QS. Taha/20: 114: Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Janganlah engkau (Nabi Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”

Ayat di atas mengisyaratkan perbedaan antara al-Quran dengan wahyu. Larangan bagi Nabi Muhammad SAW untuk tergesa-gesa membaca al-Quran itu merujuk kepada al-Qur’an, bukan kepada wahyu. Maksudnya, al-Qur’an yang dimaksud di dalam ayat itu adalah wahyu yang telah selesai disampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan wahyu yang masih sedang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW masih disebut wahyu, bukan al-Qur’an.

Kembali kepada pertanyaan awal: Apakah al-Qur’an adalah wahyu? Jika umat Islam mengaku mendapatkan wahyu, maka itu adalah problem. Problem dalam arti, itu mungkin saja benar tetapi itu berarti mereka bukan lagi umat, tetapi telah menjadi nabi. Jika umat Islam mengaku mendapatkan al-Qur’an, maka itu bukan problem. Bukan problem dalam arti, mereka adalah umat dan bukan nabi.

Al-Qur’an adalah wahyu ketika al-Qur’an sedang berada dalam bentuk inspirasi dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Mari kita lihat kembali al-Qur’an yang kita baca. Apakah itu masih dalam bentuk inspirasi untuk Nabi Muhammad SAW atau sudah menjadi teks yang terbaca, tercetak, tertafsir, terdebatkan penafsirannya, dan terterjemah?[]

(Artikel ini pernah dimuat di TANWIR.ID pada 27 Oktober 2020)

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut