https://nuansaislam.com/Al-Qur'an Mempertanyakan Revolusi

Suatu hari, Nabi Muhammad SAW berdakwah di sebuah tempat yang cukup jauh dari Makkah, sekitar hampir 90 kilometer, Taif. Entah apa yang membawa Sang Nabi ke sana. Tetapi yang pasti sambutan yang didapatkan beliau adalah hinaan dan lemparan batu, bahkan oleh anak-anak kecil di sana. Tidak main-main, tubuh Sang Nabi berkelukur sana-sini, tumitnya berdarah. Hingga beliau harus bersembunyi di sebuah kebun anggur dan ditolong oleh seorang Kristiani bernama Addas.

Nabi Muhammad Tidak Menginginkan Revolusi

Kisah belum berakhir. Malaikat yang tidak suka atas perlakuan aniaya terhadap Nabi Muhammad SAW menawarkan diri untuk mencelakakan penduduk Taif, namun beliau menolak. Di dalam salah satu kitab disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW berkata: “Saya masih berharap di antara anak dan keturunan mereka ada yang beriman.” Siapakah “keturunan” yang diharapakan oleh Nabi Muhammad SAW nanti akan beriman itu? Bisa anak, bisa cucu, bisa cicit, dan bahkan bisa jauh di bawahnya. Sebuah kesabaran yang tiada tara. Jika Nabi Muhammad SAW menginginkan revolusi, maka pastilah tawaran Malaikat itu diterimanya. Tapi tidak.

Ketika dakwah di Makkah menemui jalan buntu; ketika kaum kafir Makkah memutuskan untuk tidak hanya menyiksa kaum muslim tapi harus membunuh Nabi Muhammad SAW. Beliau lebih memilih hijrah (bukan kabur) untuk kembali menyusun strategi untuk suatu hari nanti kembali ke Makkah dengan damai tanpa harus ada darah yang mengalir. Itu bukan revolusi.

Kita ingat kisah para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW yang sering digambarkan kegagalan dakwah mereka berujung kepada azab yang menimpa kaum mereka yang menolak sehingga tidak tersisa sedikit pun kecuali yang beriman. Nabi Nuh AS demikian, Nabi Luth AS demikian, Nabi Hud AS demikian, Nabi Salih AS demikian, dan beberapa yang lain. Itulah revolusi. Ya, memang dakwah para nabi terdahulu juga penuh dengan onak dan duri, tetapi seringkali hasilnya adalah saat itu juga, kala nabinya masih hidup. Sedangkan Nabi Muhammad SAW dan al-Qur’an, dakwahnya adalah proyek yang berlangsung selama dunia ini masih ada.

Kita juga ingat al-Qur’an turun berangsur-angsur seperti ada komunikasi intim antara pesan Ilahi yang paripurna dengan kenyataan manusiawi yang penuh cela. Tidak seperti kitab-kitab suci terdahulu yang datang satu paket sekali lalu. Al-Qur’an seperti hendak berkata: Saya akan dengan sabar dan setia menemani manusia dan mengantarkan mereka kepada kehidupan yang lebih baik. Tidak peduli jika itu harus menunggu akhir waktu.

Al-Qur’an Menawarkan Proses

Kita juga ingat betapa Nabi Muhammad SAW memulai dakwah tidak dengan pertunjukan adialami seperti tongkat berubah jadi ular, orang mati hidup kembali, tidak hangus dibakar, berbicara dengan hewan dan jin, dan lain-lain. Nabi Muhammad SAW memulai dakwah dengan menjadi orang yang terpercaya karena tidak pernah berdusta dan karena itu beliau digelar Al-Amîn. Gelar Al-Amîn bukan pertunjukan sekali jadi dan setelah itu mati. Itu adalah gelar yang harus digigit dengan gigi geraham dari lahir hingga ajal menjemput. Karena sekali saja kebohongan terjadi, maka gelar itupun pergi. Karena itu, Al-Amîn bukanlah revolusi.

Al-Qur’an turun dengan kalimat yang melegenda: Bacalah! Ia tidak datang lalu sekonyong-konyong memberikan hasil. Al-Qur’an lebih memilih menawarkan proses. Membaca adalah proses yang tidak pernah berhenti setelah berjumpa hasil. Karena setiap hasil pun akan dibaca lalu diuji kembali apakah sudah benar, masih benar, dan seberapa benar dan begitu seterusnya tanpa henti. Membaca bukanlah revolusi. Al-Qur’an adalah proyek peradaban dan peradaban bukan Candi Prambanan yang bisa dibangun dalam semalam. Bagi yang berharap tetiba hasil, maka Al-Qur’an adalah kitab yang membosankan. Bagi mereka yang hendak melakukan perubahan dengan sekejap, maka Al-Qur’an bukan bacaan bagi mereka.

Kenyataan paling kasat mata adalah Islam di Indonesia. Islam di Indonesia adalah bangunan yang batu batanya disusun sedikit demi sedikit oleh para penyeru Islam masa lalu dengan menyertakan semen budaya, pasir tradisi, dan kapur adat-istiadat. Bahkan hingga kini Islam di Indenesia terus-menerus membentuk dirinya dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan dan tetap menjadi Indonesia.

Barangkali kini ada yang berupaya mengubah Islam di Indonesia dengan cara revolusioner dan itu adalah hak pilihan. Memang sebuah bangunan bisa saja dihancurkan secara revolusioner lalu dibangun kembali sesuai keinginan. Tetapi berapa banyak korban tak berdosa yang harus menjadi tumbal? Apakah perjuangan para penyeru Islam di masa lalu sedemikian tidak berharga hingga harus ada penghancuran?

Manusia Cenderung Pada Kerja Cepat

Namun sekali lagi, revolusi tetap bisa menjadi pilihan karena manusia memang ditakdirkan untuk bebas memilih. Lagi pula, otak lebih suka kepada revolusi, perubahan cepat, dan berita besar seperti sukanya orang kepada film aksi. Otak selalu bosan kepada kerja-kerja peradaban yang sistematis dan berkelanjutan. Karena baginya itu menejemukan.

Terlebih di era disrupsi saat ini yang selalu menghitung kemenangan kompetisi sama dengan keberhasilan menghancurkan dan membangun kembali segala hal dalam waktu yang singkat. Namun karya-karya agung adalah karya yang pernah mendekam lama di benak pencetusnya lalu dierami sedemikian rupa dalam jangka waktu tertentu hingga suatu saat terlahir dan membawa dunia ke arah yang lebih baik.

Memang kerja peradaban begitu membosankan dan begitu melelahkan. Tetapi begitulah cara Nabi Muhammad SAW berdakwah yang seumpama dengan sabar membimbing orang pedalaman yang tega kencing di Masjid Nabawi sementara para sahabat hendak memancung lehernya.

Begitulah cara al-Qur’an menyematkan visi dan misinya secara perlahan masuk ke dalam sanubari setiap kebudayaan tanpa kekerasan dan tanpa revolusi. Tetapi mengolah dan membentuknya. Ingatkah kita pada ayat-ayat tentang keabadian jasad Firaun? Ya, ayat itu bahkan harus menunggu sampai menjelang Abad ke-20 untuk hanya untuk membuktikan kebenarannya.[]

(Artikel ini pernah dimuat di TANWIR.ID pada 20 Oktober 2020)

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut