https://nuansaislam.com/Quranic Pluralism

Istilah pluralisme dalam filsafat berawal dari perdebatan awal dan sangat klasik dalam filsafat yang memperdebatkan jawaban pertanyaan: Berapa dasar dari alam semesta yang tampak banyak dan beragam ini? Jawaban yang muncul ada tiga. Pertama, dasarnya hanya satu dan disebut monisme. Maksudnya, dari satu menjadi dua dan menjadi banyak dan beragam.

Kedua, dasarnya ada dua karena satu tidak mungkin menghasilkan apa-apa. Harus ada gesekan antara dua dasar dan ini disebut dualisme. Terakhir, ketiga, dasarnya lebih dari dua hingga tidak terbatas. Yang ketiga ini disebut pluralisme. Ada pula yang mengatakan bahwa paham yang mengatakan dasar segala sesuatu lebih dari satu, termasuk dualisme, juga termasuk pluralisme.

Dengan demikian, jika pluralisme mengatakan bahwa dasar dari segala sesuatu yang banyak ini adalah juga banyak, maka jangan-jangan tiap segala sesuatu yang banyak ini memiliki dasarnya masing-masing yang independen dan terlepas dari yang lain. Dari sini tampak inti perbedaan antara pluralisme dengan monisme.

Perbedaan Monisme dan Pluralisme

Monisme menganggap dasar dari segala sesuatu hanya satu, maka yang satu itu adalah asal dan yang lain dan adalah turunan atau subordinat dari yang satu itu. Sedangkan pluralisme tidak mengandaikan adanya satu yang menjadi dasar atau asal bagi yang lain. Tetapi lebih memahami bahwa masing-masing yang ada memilki dasarnya sendiri-sendiri.

Gambaran di atas sekaligus menjelaskan peta perdebatan penerimaan terhadap konsep pluralisme dan penolakan terhadapnya. Yang menolak pluralisme tentu mendasarkan diri pada pemahaman bahwa dasar hanya satu dan yang lain hanyalah turunan dan subordinat dari yang satu itu.

Jika diterapkan dalam agama, maka yang benar hanya satu dan yang selainnya hanyalah tiruan keliru dari yang satu itu. Konsekuensinya, jika para tiruan itu hendak mencapai kebenaran, maka satu-satunya cara adalah mereka harus kembali atau menuju kepada yang satu. Karena yang satu itu me-nasakh yang lain. Tentu pemahaman yang terakhir ini tidak asing di dalam teologi masing-masing agama, terutama agama Islam.

Para penganjur pluralisme harus berhadapan dengan kenyataan seperti di atas dan lewat pemahaman harfiah, sangat mudah menemukan ayat-ayat al-Qur’an yang mendukung pemahaman di atas itu. Biasanya, penganjur pluralisme melakukan upaya penafsiran ulang terhadap ayat-ayat tersebut dan itu adalah upaya yang cukup melelahkan dan kalaupun berhasil, belum tentu khalayak awam akan membacanya dan memahaminya. Karena memahaminya pun adalah hal yang tidak kalah melelahkannya. Tulisan ini termasuk upaya yang hendak berlelah-lelah tersebut dan sekaligus menyadari bahwa tidak banyak yang membacanya.

Pluralisme dan Klaim Kebenaran

Tulisan ini tidak akan mengganggu klaim kebenaran Islam. Karena sesungguhnya itu wajar di dalam setiap keyakinan dan ideologi untuk mengklaim satu-satunya kebenaran adalah dirinya. Bahkan klaim kebenaran masing-masing agama dan ideologi adalah penopang penting bagi pluralisme itu sendiri. Karena pluralisme memang mengandaikan bahwa kebenaran itu beragam dan kebenaran tidak akan beragam jika masing-masing kebenaran tidak mengklaim dirinya benar.

Memang, jika hendak mengikuti logika pluralisme, maka kebenaran Islam adalah kebenaran yang berdiri sendiri dan punya akarnya sendiri secara merdeka dari kebenaran agama dan ideologi lain. Konsekuensinya, agama dan ideologi lain pun memilik akarnya sendiri pula yang merdeka dari Islam.

Konsekuensi lebih jauhnya adalah masing-masing kebenaran agama dan ideologi tidak bisa dibandingkan apalagi diadu mana yang lebih benar dari yang lainnya. Bukankah tidak mungkin membandingkan hal yang dari akarnya saja sudah berbeda?

Perlukah Mengadu Kebenaran?

Pertanyaannya, apakah al-Qur’an memberikan peluang bagi kebenaran Islam yang berdiri sendiri tanpa perlu diadu dengan agama dan ideologi lain? Ayat yang layak diajukan untuk hal ini adalah QS. al-Kafirun/109: 6: Untukmu agamamu dan untukku agamaku. Sepanjang surah al-Kafirun tidak ditemukan upaya perbandingan satu agama dengan agama lain. Yang ada adalah penekanan bahwa Nabi Muhammad SAW dan agama orang kafir berbeda.

M.Quraish Shihab—dalam Tafsir Al-Mishbah, jilid 15—menekankan kata qul di awal surah menyatakan bahwa yang penting dikumandangkan kepada khalayak adalah perbedaan antara Islam dengan agama lain, bukan perbandingannya. Makanya, kata M. Quraish Shihab, di dalam QS. Ali Imran/3: 19 yang berarti: Hanya agama Islam yang diterima Allah, tidak ada kata qul. Karena itu adalah pernyataan ke dalam jiwa seorang muslim sendiri dan di dalam logika pluralisme, itu adalah klaim kebenaran yang memiliki akarnya sendiri. Tanpa perlu dibandingkan dengan klaim kebenaran lain.

Selanjutnya, ketika pluralisme dikaitkan dengan agama atau ideologi atau keyakinan, maka secara inheren di sana ada kebebasan. Terutama karena wilayah agama, ideologi, dan keyakinan tidak berada di wilayah fisik, tetapi di wilayah dalam jiwa manusia. Seorang manusia bisa dipenjara, tapi itu berarti memenjara fisiknya. Sedangkan jiwanya bisa terbang ke mana dia suka. Dan itulah mengapa manusia menjadi manusia, yaitu karena kebebasannya.

QS. Al-Kafirun/109: 6 yang menyatakan “untukmu agamamu dan untukku agamaku” adalah tanda kebebasan itu. QS. Al-Baqarah/2: 256 juga menekankan kebebasan tersebut dengan pernyataan: Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Justru hanya dengan kebebasan, agama, ideolgi, dan keyakinan itu akan bermakna.

Menjaga kebebasan beragama adalah salah satu cara untuk menjaga kehormatan Islam dan menjaga kehormatan manusia. Islam tentu bukan agama yang rendah diri sehingga harus ada paksaan agar manusia bersedia menerima kebenarannya. Islam juga bukan agama yang merendahkan manusia karena mengekang kebebasannya, karena itu berarti Islam tidak memanusiakan manusia. Padahal Allah SWT pun memanusiakan manusia dan Allah lah yang menganugerahkan kebebasan kepada manusia.[]

(Artikel ini pernah dimuat di TANWIR.ID pada 2 Oktober 2020)

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut