https://nuansaislam.com/Utang Seribu Dinar

UTANG SERIBU DINAR

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani

Setiap kita sudah tahu bahwa utang harus dibayar, sekecil apapun jumlahnya. Kesungguhan untuk membayar utang membuat kita selalu mendapatkan jalan untuk bisa membayarnya.

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Nasai dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bercerita yang sangat menarik tentang dua orang Bani Israil yang terkait dengan utang. Seorang Bani Israil berutang seribu dinar kepada seorang Bani Israil lainnya. Pemberi pinjaman itu berkata: “Datangkanlah para saksi, aku akan menjadikan mereka sebagai saksi.”

Orang yang mau meminjam berkata: “Cukuplah Allah sebagai saksi.”

Orang itu berkata lagi: “Hadirkanlah kepadaku seorang penjamin.”

Orang yang mau meminjam berkata: “Cukuplah Allah sebagai penjamin.”

Orang itu berkata: “Engkau benar.”

Lalu diserahkanlah uang seribu dinar itu dengan batas waktu yang ditentukan. Si peminjampun pergi dengan menyeberangi lautan menuju suatu daerah untuk suatu keperluan. Setelah selesai keperluannya di daerah itu, ia bermaksud pulang ke kampung halamannya, namun tidak ada kendaraan untuk pulang, sementara utang sudah hampir jatuh tempo sehingga bila ia menunggu sampai dapat kendaraan, iapun melewati waktu yang ditentukan untuk membayar uang.

Dengan penuh keyakinan, si peminjam itu tidak mau mengabaikan janji waktu bayar utang. Iapun mencari kayu, dilubangi kayu itu, lalu dimasukkan uang seribu dengan beserta surat darinya, lubang itupun ditambal atau ditutup rapat agar tidak kena air atau jatuh.

Setelah selesai, iapun siap menghanyutkannya ke laut dan berkata: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku telah meminjam uang sebanyak seribu dinar kepada si fulan. Kala itu ia meminta seorang saksi, maka aku katakan: “cukuplah Allah sebagai saksi,” kemudian ia rela dengan-Mu. Kemudian iapun minta didatangkan seorang penjamin, maka aku katakan kepadanya: ‘cukuplah Allah sebagai penjamin,” kemudian ia rela dengan-Mu. Dan sesungguhnya aku telah berupaya keras menemukan kendaraan untuk mengirimkan piutangnya, namun aku tidak mampu, dan kini aku menitipkannya kepada-Mu.”

Setelah dihanyutkan, iapun melanjutkan usaha mencari kendaraan agar bisa pulang ke kampung halamannya.

Kemudian orang yang memberi pinjaman itu keluar untuk melihat barangkali ada kendaraan (kapal atau perahu) datang membawa uang miliknya. Dan ternyata yang ada hanya sepotong kayu. Iapun membawa pulang kayu itu, setelah membelahnya, ternyata ia mendapati ada seribu dinar dan selembar surat untuknya.”

Orang yang meminjam uang itupun sudah bisa kembali dan tetap membawa seribu dinar saat menemuinya, ia berkata: “Demi Allah, aku sudah berupaya keras  mencari kendaraan agar bisa datang kepadamu dengan membawa uang milikmu, namun aku tidak menemukan satupun kendaraan sebelum ini.”

Orang yang meminjamkan uang justeru bertanya: “Apakah kamu mengirimkan sesuatu kepadaku?.”

Ia berkata: “Aku sampaikan kepadamu bahwa aku tidak menemukan kendaraan sebelum kedatanganku ini.”

Si pemberi pinjaman berkata: “Sesungguhnya Allah telah melunasi utangmu dengan apa yang telah kamu kirimkan di dalam sepotong kayu.”

Karena utangnya telah lunas, maka orang itupun pulang dengan membawa seribu dinar dalam keadaan menyadarinya.

            Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah:

  1. Setiap orang yang berutang harus menunjukkan kesungguhan dalam membayarnya, begitu juga dengan janji yang harus ditepati.
  2. Selalu ada jalan bagi orang yang sungguh-sungguh membayar utang untuk bisa melunasinya, sebanyak apapun jumlah utangnya. 
  3. Kejujuran dalam muamalah membuat segala sesuatu menjadi mudah, bila orang tidak jujur, administrasi juga bisa dimanipulasi.

 

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut