https://nuansaislam.com/Itsm

Kata itsm dalam bahasa arab berasal dari kata atsima ya’tsamu atsaman,secara bahasa mengandung arti lambat atau terlambat dari kebaikan, dalam ungkapan orang arab”naqah atsimah” artinya unta yang terlambat jalannya, disebut itsm dengan makna telat atau terlambat karena orang yang memiliki itsm adalah orang yang terlambat dari sampainya kebaikan kepadanya.[1] itsm juga bisa bermakna seluruh perbuatan yang memperlambat kebaikan,[2] atau seseorang yang melakukan perbuatan yang tidak dihalalkan untuknya.[3]itsm juga semakna dengan kata dzanbun artinya dosa. Secara istilah makna itsm menurut para ahli fikih adalah segala perbuatan yang berakibat kepada jatuhnya iqab atau hukuman.

Dalam Al-Qur’an kata itsm terulang sebanyak 48 kali, seluruhnya terulang dalam bentuk kata benda, dan tidak ada satupun terulang dalam bentuk kata kerja, para ahli tafsir mengatakan bahwa kata itsm dalam Al-Qur’an mengandung makna berbeda-beda, diantaranya adalah:

Pertama, Itsm bermakna dusta atau kebohongan, diantara ahli tafsir yang menafsirkan demikian adalah Zamakhsyari,[4] keika beliau menafsirkan firman Allah swt,

لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.(QS. Al-Maidah[5]: 63)

Dimaknai itsm dalam ayat diatas sebagai kebohongan karena ayat diatas berbicara tentang kaum Yahudi, mereka sebelumnya menulis kitab dengan tangan mereka, kemudian setelah itu mereka mengatakan kitab itu dari Allah swt dan didalamnya ada hukum Allah swt, mereka melaksanakan hukum yang mereka tulis dalam kitab tulisan tangan mereka mengatas namakan hukum Allah swt, itulah kebohongan mereka.

Kedua, Itsm bermakna maksiat, diantara yang menafsirkan demikian adalah Mujahid dan Suddi[5] dalam firman Allah swt,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui"..(QS. Al-A’raf[7]: 33)

Ketiga, Itsm bermakna yang diharamkan, kata itsm dalam makna tersebut berada dalam firman Allah swt

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.(QS. Al-Baqarah[2]: 188)

Keempat, itsm bermakna ampunan dari dosa, sebagaimana firman Allah swt

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ لِمَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya.(QS. Al-Baqarah[2]: 203)

Penggalan ayat fala itsma ‘alaihi ditafsirkan oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar juga Ibnu Abbas dengan menghilangkan dosa atau tidak berdosa, dalam tafsir Ath-Thabari, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas dan Ibrahim An-Nakhai memaknainya dengan ungkapan”barang siapa yang ingin segera meninggalkan Mina maka tidak berdosa untuknya begitupula barangsiapa yang ingin menundanya juga tidak berdosa untuknya.”[6]

Kelima, itsm bermakna hukuman dan siksaan, dalam firman Allah swt,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),(QS. Al-Furqan[25]: 68)

Kata terakhir dalam ayat diatas yaitu atsaman, para ulama tafsir seperti Imam Al-Qurthubi berkata: Al-Atsam dalam ungkapan orang arab itu artinya hukuman dan siksaan, Abdullah bin Umar, Ikrimah dan Mujahid mereka berkata: bahwa Atsam itu bermakna lembah yang ada di neraka Jahannam, yang dijadikan oleh Allah swt sebagai hukuman dan siksaan untuk orang yang kufur kepada Allah swt.[7]

Demikian makna itsm secara bahasa dan penafsirannya dalam Al-Qur’an menurut para ulama tafsir, semoga menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua, dan semoga Allah swt senantiasa memberikan petunjuk dan hidayahnya kepada kita semua untuk istiqomah dalam kebenaran dan kebaikan, dijauhkan dari segala perbuatan dosa dan maksiat.

Referensi

  1. Ibnu Faris, mu’jam maqayis al-Lughah
  2. Roghib Asfahani, Mufrodat Alfazh Al-Qur’an,10
  3. Ibnu Manzhur, Lisanul’Arab,1/74
  4. Abul Qasim Az-Zamakhsyari, Al-Kasyaf, 1/626
  5. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Karim
  6. Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi
  7. Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut