https://nuansaislam.com/Pandemi, Nabi Adam AS, dan Pohon Khuldi

TANWIR.ID

Pandemi datang dan menyerang salah satu titik terlemah manusia, yaitu ketakutan akan kematian dan kegagalan atas impian keabadian. Antara ketakutan akan kematian dan impian keabadian ada hubungan erat. Tidak ada yang tidak takut mati dan tidak ada yang tidak ingin hidup abadi. Yang tidak takut mati barangkali merasa sudah memiliki persiapan cukup untuk mengalaminya dan yang tidak ingin hidup abadi barangkali sedang mempertimbangkan hidup berbeda karena kecewa dengan kehidupan yang ada.

Nabi Adam dan Kehendak Abadi

Takut mati dan kehendak abadi adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Ketika Iblis menggoda Nabi Adam AS. untuk mengikuti keinginannya, Iblis menyerangnya pada titik ketakutannya yang paling mendasar, yaitu ketidakabadian. Maka Iblis menunjuki Nabi Adam AS. pohon yang dilarang oleh Allah SWT dan menamainya “Pohon Keabadian” (syajarah al-kuld) yang menjanjikan keabadian.

Terlepas dari kenyataan upaya Iblis hanyalah tipuan yang berdampak sebaliknya karena ternyata Nabi Adam AS malah tidak abadi di surga dan turun ke bumi, patut diduga bahwa Nabi Adam AS. mengikuti kehendak Iblis karena adanya iming-iming keabadian tersebut. Karena itu, kehendak abadi adalah bawaan Nabi Adam AS dan juga mungkin karena Allah SWT lah yang meniupkan ruh-Nya kepada Nabi Adam AS. dan Allah SWT abadi.

Memang ada perbedaan antara kehendak abadinya Nabi Adam AS dengan kehendak abadinya keturunannya. Nabi Adam AS hendak abadi di surga dan keturunannya hendak abadi di bumi. Namun bisa dikatakan bahwa kehendak abadi adalah bawaan manusia di mana pun berada, khususnya abadi di dalam kenikmatan. Pada pergesekan hasrat kehendak abadi dengan kenyataan tidak abadi ini lah kehidupan manusia di bumi berlangsung. Pada relasi antara keduanyalah peradaban manusia dibangun.

Sebagai catatan, kehendak abadi memang tidak jarang melenakan, sebagaimana dialami oleh Nabi Adam AS. Tetapi kehendak abadi itulah satu-satunya jalan bagi manusia untuk menuntaskan tugas ke-khalîfah-annya, juga sebagaimana dilakukan oleh Nabi Adam AS.

Tentu saja bukan hal sia-sia Allah SWT menitipkan kehendak abadi pada manusia. Memang pada percobaan awalnya kehendak abadi membuat Nabi Adam AS harus meninggalkan surga. Namun kehendak abadi tersebut justru merupakan modal penting bagi Nabi Adam AS untuk mengarungi kehidupan di bumi. Dengan kata lain, kehendak abadi adalah modal penting bagi Nabi Adam AS dan keturunannya untuk menjadi khalîfah. Tanpa kehendak abadi, tidak akan ada peradaban dan tugas menjadi khalîfah akan gagal total.

Pandemi dan Tantangan Kehendak Abadi

Pandemi hanyalah salah satu tantangan bagi umat manusia dan manusia tidak akan bertahan menghadapinya jika tidak ada kehendak abadi yang ditipkan Allah SWT. Dengan kehendak abadi di bumi, manusia mengerahkan segala daya dan upaya ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya untuk memenangi pertarungan melawan virus. Pandemi kali ini bukan pandemi pertama yang dihadapi umat manusia dan manusia selalu menang sebelumnya.

Sampai kini, manusia belum terbukti abadi meski sampai kini umat manusia masih terus-menerus memperjuangkan keabadiannya. Ilmu pengetahuan dan teknologi memang berhasil memperpanjang asa hidup rata-rata sampai 80 tahun bahkan lebih setelah sebelum abad modern asa hidup jauh di bawah itu. Namun itu bukan tanda keabadian. Itu hanya tanda perjuangan dan tanda bahwa tugas ke-khalîfah-an sedang ditunaikan.

Ilmu pegetahuan dan teknologi adalah buah dari titipan Allah SWT. di benak manusia tentang kehendak abadi dan ketika manusia menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjinakkan virus, maka itu adalah cara untuk mensyukuri titipan itu.

Memperjuangkan Kehendak Abadi

Bersamaan dengan upaya memperjuangkan kehendak abadi, manusia tetaplah tidak abadi, baik sebagai individu maupun sebagai umat manusia. Umat manusia masih bertahan hingga kini, tetapi individu-individu yang pergi mendahului adalah bukti ketidakabadian itu. Kenyataan tidak abadi tidak pernah menggugurkan kehendak abadi yang terlanjur ditanamakan Allah SWT.

Bahkan setiap upaya untuk menggugurkan kehendak abadi adalah perlawanan kepada kehendak Allah SWT. Berarti, melawan ilmu pengetahuan dan teknologi juga adalah sebentuk perlawanan kepada kehendak Allah SWT. Karena itu, tidak mengherankan jika di dalam kuasa ilmu pengetahuan dan tekonologinya, para ilmuwan dan dokter tetap menyelipkan doa di dalam usaha-usaha mereka. Demikian pula para kyai dan pendeta tetap memakai masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan.

Sebagaimana Nabi Adam AS pernah keliru menempatkan kehendak abadi, keturunannya pun tidak jarang melakukannya. Salah satu bentuk kekeliruan itu adalah memperlawankan kehendak abadi dengan kehendak Allah SWT. Manusia perlu menaati protokol kesehatan sebagai buah dari ilmu pengetahuan dan teknologi dan memperlawankannya dengan kehendak Allah SWT untuk tetap beribadah dan berjamaah adalah kekeliruan. Itu adalah bagian dari strategi Iblis yang sering diduga bukti keimanan.

Kehendak abadi akan tetap ada pada manusia di manapun berada. Karena itu sudah tertanam pada dirinya, meski manusia tidak akan pernah abadi di bumi. Namun itu bukan berarti manusia pantas mengabaikan kehidupan di bumi karena ketidakabadiannya. Justru di bumi inilah pembuktian kehendak abadi itu dilaksanakan karena fungsi ke-khalîfah-an hanya bisa dilaksanakan di bumi dengan cara mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akhirat tidak memerlukan kehendak abadi karena akhirat bukan medan perjuangan.[]

Telah dimuat sebelumnya di TANWIR.ID

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut