https://nuansaislam.com/Zhulm

Zhulm dalam bahasa arab berasal dari kata zholama yazhlimu zhulman, secara bahasa mengandung makna gelap, menyimpang, sewenang-wenang, kelaliman,[1] juga bermakna menempatkan sesuatu bukan pada tempat semestinya,[2] secara istilah zhulm mengandung makna menempatkan sesuatu bukan pada tempat semestinya baik dengan menguranginya, menambahkannya dari segi jumlah, waktu dan tempatnya, [3] dalam ungkapan lain zhulm juga bisa berarti perbuatan melampaui batas yang keluar dari kebenaran dan masuk kepada kebathilan,[4]dalam kamus besar bahasa Indonesia kata yang serupa dan semakna dan menjadi kata baku yaitu kata zalim yang artinya bengis, sewenang-wenang dan tidak adil.

Kata zhulm dalam Al-Qur’an terulang sebanyak 315 kali,[5] jika dilihat dari segi bentuk pengungkapannya, kata zhulm dalam al-Qur’an muncul dalam berbagai bentuk kata jadian (Isytiqaq), yaitu: Fi’il Madhi’ (kata kerja yang menunjukkan bentuk lampau), Fi’il Mudhari’ (kata kerja yang menunjukkan waktu kini atau akan datang), Isim Mashdar (Infinitif), Isim al-Fa’il (kata kerja benda yang mengandung arti pelaku), dan bentuk al-Mubalagah.

Seseorang melakukan perbuatan yang melampaui batas yang menyebabkan diri dan orang lain terlalimi bisa disebabkan karena pemahaman dan sudut pandang dalam dirinya yang sedikit banyak dipengaruhi oleh lingkungan, baik lingkungan tempat tinggal, lingkungan pertemanan juga lingkungan informasi dan pengetahuan yang membentuk pemahamannya, termasuk keimanan yang lemah dalam dirinya. Iman yang lemah mengikis dan menghilangkan rasa takut kepada Allah swt, sehingga akhirnya berbuat aniaya dan lalim baik kepada dirinya sendiri, keluarga, orang lain juga kepada lingkungannya.[6]

Allah swt yang menciptakan seluruh makhluk, memberi mereka rezeki dan berkuasa penuh terhadap makhlukNya, mengharamkan atas diriNya sifat zhulm, hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadis qudsi,

عن أبي ذر الغفاري رضي الله عنه ، عن النبي صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربِه عز وجل أنه قال : ( يا عبادي إني حرمت الظلم على نفسي ، وجعلته بينكم محرما فلا تظالموا ....(رواه مسلم)

Dari Abu Dzar ra dari Nabi saw, Allah swt berfirman: wahai hamba-hambaKu sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman terhadap diriKu, dan kuharamkan atas kalian, maka janganlah saling berbuat zhalim…(HR. Muslim)

Ditegaskan dalam ayat lain bahwa Allah swt tidak pernah berbuat zalim kepada hambaNya walaupun sebesar biji dzarrah, sebagaimana firmanNya,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.(QS. An-Nisa[4]: 40)

Secara garis besar perbuatan zalim bisa mengarah kepada sang pencipta yaitu Allah swt, yaitu berupa menyekutukan Allah swt padahal Dia yang maha esa, inilah sebesar-besarnya kezaliman, sebagaimana yang diwasiatkan Lukman al-Hakim kepada putranya yang diabadikan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".(QS Lukman[31]: 13)

Perbuatan zalim juga bisa mengarah kepada dirinya sendiri, yaitu dengan melanggar syariat Allah swt dan berbuat maksiat kepada Allah swt, sebagaimana Allah swt berfirman,

وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.(QS. Al-Baqarah[2]: 229)

Dengan bermaksiat dan melanggar aturan Allah swt, maka seseorang akan menzalimi dirinya, karena maksiat menyebabkan Allah swt tidak ridha kepadanya, menjadi rendah disisi Allah swt. Dengan kata lain orang tersebut telah menganiaya dan merugikan dirinya sendiri.

Dan yang terakhir adalah zalim yang mengarah kepada selain dirinya, yaitu kepada sesama manusia, baik seaqidah maupun tidak seaqidah, juga terhadap makhluk Allah swt lainnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw,

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ (رواه البخاري)

Rasulullah saw bersabda: "Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya.(HR. Bukhari)

Ketika kita berbuat zalim kepada Allah swt dengan berbuat musyrik, maka segeralah kita bertaubat kepada Allah swt, karena hanya itu caranya agar dosa kita bisa diampuni, adapun perbuatan zalim kepada diri sendiri, dengan bermaksiat dan melanggar aturan Allah swt, maka perbanyaklah istighfar dan juga bertaubat, supaya Allah swt mengampuni dan membersihkan diri kita dari dosa-dosa yang diibaratkan istighfar itu dengan air jernih, sedangkan dosa ibarat seperti tinta hitam, semakin banya perbuatan maksiat kita semakin banyak pula tetesan tinta hitam dalam hati kita, maka dengan memperbanyak istighfar, seperti gelas yang terisi dengan air berwarna hitam, kemudian dikucurkan kepadanya air jernih maka semakin banyak air jernihnya yang terkucur kedalam gelas tersebut, lama-kelamaan gelas yang semula berisi air berwarna hitam akan berubah jernih.

Dan perbuatan zalim kepada orang lain, ini harus diwasdapai, disamping kita bertaubat dan beristighfar, kita juga harus meminta maaf kepada yang terzalimi, karena yang terzalimi apabila berdoa, maka doanya akan dikabulkan oleh Allah swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw,

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الله حِجَابٌ

”Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah”.(H.R. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah swt memberikan hidayah dan taufiknya kepada kita, dan kita dihindarkan dari perbuatan zalim, baik zalim kepada pencipta kita, zalim kepada diri kita juga zalim kepada sesama dan makhluk Allah lainnya.

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir,452
  2. Ibnu Manzhur, Lisanul’Ara. 12/373
  3. Roghib Asfahani, Mufrodat Alfazh Al-Qur’an
  4. Jurjani, At-Ta’rifat, 186
  5. Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, al-Mu’jam Al-Mufahras li al-Fazh al-Qur’an al-Karim, 551
  6. Muhammad Ibrahim Ahmad Saif, Inkaru zhulm fi dhauilkitab wa sunnah, 16

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut