https://nuansaislam.com/Dzanbun

Kata dzanbun dalam bahasa arab berasal dari kata dzanaba yadznubu dzanban, secara bahasa mengandung makna mengikuti, ketika ditambahkan satu huruf didepannya yaitu huruf hamzah yang tersusun dengan kata adznaba yudznibu idznaban, maka makna secara bahasanya adalah berbuat dosa atau kesalahan,[1]kata dzanbun dalam bahasa arab merupakan bentuk mufrod atau tunggal ketika dijama’kan berubah menjadi kata dzunub dan bisa dijama’kan lagi menjadi kata dzunubat, ketika dikatakan adznaba ar-rajulu, maka artinya adalah seorang laki-laki telah berbuat dosa atau kesalahan.[2]

Secara istilah pengertian dari kata dzanbun bisa diperhatikan dari beberapa pendapat ulama diantaranya:  imam Aj-Jurjani berkata dzanbun adalah apa yang menghalangimu dengan Allah swt,[3] Al-Maraghi berkata dzanbun adalah kelengahan atau kelalaian dalam bermuamalah antara seorang hamba dengan Tuhannya,[4] Asy-Syinqithi berkata dzanbun adalah pelanggaran yang berhak mendapatkan hukuman,[5] dari beberapa pendapat tersebut bisa disimpulkan bahwa dzanbun adalah setiap perbuatan yang dianggap buruk oleh agama dan berhak mendapatkan hukuman dari Allah swt.

Kata dzanbun didalam Al-Qur’an terulang sebanyak 37 kali, terdiri dari 11 kali dalam bentuk kata dzanbun, dan 26 kali dalam bentuk kata dzunub, dari sekian pengulangan tersebut ada yang mengandung makna secara bahasa yaitu dosa, kesalahan dan maksiat, sebagaimana firman Allah swt,

فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ

Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.(QS. Al-Mulk[67]: 11)

Tingkatan dzanbun atau dosan dan kesalahan

Perbuatan manusia yang masuk pada kategori menyalahi syariat agama itu bertingkat-tingkat, ada perbuatan dosa dan kesalahan yang diiringi dengan ancaman dan laknat, perbuatan tersebut masuk pada kategori al-kabair atau perbuatan dosa besar, diantara perbuatan dosa besar adalah menyekutukan Allah swt, sebagaimana firman Allah swt,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.(QS. An-Nisa[4]: 48)

Adapun perbuatan dosa yang tidak diiringi dengan ancaman dan laknat adalah masuk pada kategori ash-shoghoir atau perbuatan dosa kecil, yang didalam Al-Qur’an Allah swt menamainya dengan sayyiat dan al-lamam, sebagaimana firman Allah swt,

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.(QS. Hud[11]: 114)

Dan untuk kata al-lamam terdapat dalam firman Allah swt,

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ ۚ

 (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya..(QS. An-Najm[53]: 32)

Penghapus dosa

Perbuatan dosa manusia bisa diampuni oleh Allah swt, untuk mendapatkan ampunan dari Allah swt, manusia yang berbuat dosa harus melakukan beberapa hal diantaranya:

Pertama, taubat dan istighfar, bertaubat adalah dengan kembali kepada Allah swt, dengan meninggalkan perbuatan dosanya, menyesali atas perbuatan dosanya, dan adanya niat yang kuat untuk tidak mengulangi kembali perbuatan dosanya, adapun istighfar adalah dengan memohon ampunan kepada Allah swt melalui dzikir kalimat istighfar, yaitu minimal dengan ungkapan astaghfirullahal’azhim, atau dengan membaca sayyidul istighfar yaitu

عن شَدَّاد بن أَوْسٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أنه قال: «سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي؛ فَاغْفِرْ لِي؛ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ».(رواه البخاري)

”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada Tuhan selain Engkau yang telah menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu”“Dan Aku berjanji kepada-Mu dengan semampuku,  Aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat”

“Aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang boleh mengampuni segala dosa kecuali Engkau”. (HR. Bukhari).

Kedua, amal kebaikan, perbuatan dosa, terutama dosa kecil akan diampuni oleh Allah swt diantaranya dengan perbuatan kebaikan, karena kebaikan akan menghapus dosa dan kesalahan, sebagaimana firman Allah swt,

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.(QS. Hud[11]: 114)

Ketiga, mushibah, setiap mushibah yang menimpa orang yang beriman, maka mushibah tersebut akan menghapus dosa-dosanya, sebagaimana sabda Rasulullah saw,

وَعنْ أَبي سَعيدٍ وأَبي هُرَيْرة رضيَ اللَّه عَنْهُمَا عن النَّبيِّ ﷺ قَالَمَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَن وَلاَ أَذًى وَلاَ غمٍّ، حتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُها إِلاَّ كفَّر اللَّه بهَا مِنْ خطَايَاه متفقٌ عَلَيهِ.

Tidak ada satu musibah yang menimpa setiap muslim, baik rasa capek, sakit, bingung, sedih, gangguan orang lain, resah yang mendalam, sampai duri yang menancap di badannya, kecuali Allah jadikan hal itu sebagai sebab pengampunan dosa-dosanya.” (H.R. Muttafaq Alaih)

Keempat, berdoa kepada Allah swt, yaitu memohon ampunan kepada Allah swt melalui doa yang dipanjatkan, seperti doa berikut ini:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)".(QS. Ibrahim[14]: 41)

Akibat perbuatan dosa

Perbuatan dosa akan mengakibatkan pelakunya terhalang beberapa hal, diantaranya pemahaman ilmu yang benar, karena ilmu kebenaran yang diberikan oleh Allah swt kepada seseorang itu diibaratkan seperti cahaya, dan cahaya dari Allah swt tidak diberikan kepada pelaku maksiat dan dosa, sebagaimana nasehat yang disampaikan oleh Waki’ guru imam Syafii dengan lafazh,

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

Perbuatan dosa juga akan mengakibtkan pelakunya hilangnya ketenangan hati dan jiwanya, akan ada rasa was-was dalam hatinya, juga akan menjadikan rendah dan hina baik dihadapan manusia apalagi dihadapan Allah swt, dan perbuatan dosa akan mengakibatkan munculnya berbagai kerusakan di muka bumi, sebagaimana firman Allah swt,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(QS. Ar-Rum[30]: 41)

Semoga dengan tulisan singkat ini Allah swt memberikan hidayah dan petunjuk kepada kita semua, dijauhkan dari perbuatan dosa, dimudahkan dalam beramal kebaikan.

Referensi:

  1. Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir,452
  2. Ibnu Faris, mu’jam maqayis al-Lughah,3/361, Ibnu Manzhur, Lisanul Arab,1/389, Az-Zubaidi, Tajul ‘Arusy min Jawahiril Qamus, 2/436
  3. Aj-Jurjani, At-Ta’rifat, 107
  4. Ahmad Musthofa Al-Maroghi, Tafsir Al-Maraghi, 4/161
  5. Muhammad Amin Syinqithi, Al-Adzbun Namir, 5/120

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut