https://nuansaislam.com/Sang Supernatural

Pada tulisan (pertemuan) sebelumnya, kita membahas tentang dunia fisik dan kita sampai kepada kesimpulan bahwa yang kita namai dunia fisik ternyata tidak semata-mata bersifat material dalam arti sehari-hari sebagai sesuatu yang bisa diraba dan atau disentuh. Di antara yang tidak bersifat material itu adalah medan listrik dan gaya gravitasi. Meski demikian, hal-hal tersebut tetap dianggap sebagai sesuatu yang bersifat fisik menurut Fisika. Bahkan hal-hal yang tidak bersifat fisik seperti pemikiran dan perasaan pun sesungguhnya bisa diungkapkan dalam bentuk fisik, bahkan hanya dengan cara mengungkapnya lewat fisik, pemikiran dan perasaan tersebut bisa diketahui oleh orang lain. Materi ini bisa dilihat kembali di https://lamuide.wordpress.com/2020/08/04/dunia-fisik1/.

Sekarang kita membahas tentang Sang Supernatural. Adakah sesuatu yang berada di luar dunia natural? Apakah hantu, roh, dan fenomena “supernatural” yang lain itu benar-benar ada? Untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, sepertinya mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah langkah pertama yang mesti dilakukan.[1]

Sang Supernatural—secara bahasa—adalah apapun yang di atas, melampaui, atau di luar yang natural. Sepintas pemahaman tersebut terang benderang, sama terang benderangnya dengan pemahaman tentang yang natural itu sendiri. Padahal pemahaman tersebut sesungguhnya menyimpan problem mendasar. Kita akan lihat di mana problemnya.

Sang Natural dideskripsikan sebagai: keseluruhan kenyataan. Namun deskripsi ini tidak pas untuk konteks di sini, terutama oleh yang menyakini Sang Supernatural. Semua yang meyakini Sang Supernatural percaya bahwa kenyataan terdiri dari yang natural dan yang supernatural. Dalam pandangan ini, “natural” bukanlah keseluruhan kenyataan, tetapi lebih tepat disebut sebagian dari keseluruhan kenyataan. Sebagian yang lain adalah yang supernatural.

Mereka yang memercayai Sang Supernatural sering berkata bahwa kenyataan itu lebih besar daripada apa yang bisa ditangkap oleh sains. Jika demikian, maka apakah itu berarti Sang Supernatural adalah aspek dari kenyataan yang terletak di luar jangkauan sains? Namun itu melahirkan pertanyaan yang lain: Apa itu sains, dan disiplin keilmuan apa yang dicakupnya? Pada pembela disiplin keilmuan parapsikologi bersikeras menekankan betapa saintifik posisi parapsikologi itu, hingga mereka memakai metode-metode santifik seperti eksperimen, statistik, hingga teori. Problemnya adalah jika memang hal-hal seperti anggapan parapsikologi itu ada (misalnya hantu dan roh) dan benar-benar bisa dikaji secara saintifik, maka sesungguhnya objek kajian parapsikologi itu bukan supernatural, tetapi natural semata. Bukankah kata kuncinya adalah bisa dikaji secara saintifik? Namun jika objek kajian parapsikologi tersebut tidak ada secara saintifik, maka disiplin keilmuan tersebut ternyata tidak mengkaji apa-apa.

Gambaran di atas adalah gambaran tentang problem dalam upaya memasukkan hal-hal supernatural sebagai bagian dari sains dan karena itu, bisa dikaji secara saintifik. Namun para pembela parapsikologi sering berkata bahwa mereka menginvestigasi fenomena yang tidak mampu diakses oleh sains ortodoks. Jika itu alasannya, maka sesungguhnya tidak ada status spesial pada fenomena supernatural itu. Parapsikologi dengan dengan objek supernaturalnya lebih merupakan kritik terhadap beberapa hipotesis sains ortodoks dan merupakan proposal untuk menggantikan beberapa hipotesis tersebut. Dengan kata lain, parapsikologi memandang bahwa sains yang ada telah mengabaikan beberapa hal natural padahal sesungguhnya ada. Konsekuensinya, sesungguhnya tidak perlu ada ide-ide tentang hal-hal yang supernatural itu karena objek-objek itu sesungguhnya natural, hanya saja, sains ortodoks mengabaikannya.

Dengan pemaparan di atas, tampak bahwa ide tentang Sang Supernatural adalah sesuatu yang tidak terang benderang. Barangkali lebih baik pertanyaan tentang definisi “supernatural” disimpan dulu, dan mulai mempertimbangkan beberapa contoh sesuatu yang dianggap nyata oleh umumnya yang meyakini supernatural, seperti hantu dan roh, dan sebagainya.

Mereka yang meragukan hal-hal supernatural kadangkala berkata bahwa fenomena seperti itu adalah mustahil. Di sini kita harus membedakan antara eksistensi sesuatu yang mustahil secara logis (misalnya sebuah benda yang berbentuk bujur sangkar sekaligus tidak berbentuk bujur sangkar), dengan eksistensi sesuatu tidak konsisten dengan apa yang selama ini kita ketahui. Tidak mustahil secara logis, misalnya, bahwa jika Anda melompat keluar jendela Anda akan melayang ke awan (tidak jatuh) tanpa dengan batuan alat, namun itu tidak konsisten dengan apa yang kita ketahui selama ini tentang gaya gravitasi. Demikian pula, ketika ide tentang (katakanlah) roh mungkin saja tidak bertentangan secara logis, hanya saja karakteristik yang seharusnya ada pada makhluk tersebut tidak konsisten dengan apa yang kita ketahui dari sains. Jika ada yang tidak mempercayai hal-hal seperti itu, bukan berarti mereka menganggapnya tidak logis, namun bisa saja mereka menganggapnya tidak konsisten dengan pengetahuan mereka sebelumnya, meski hal itu mungkin secara logis.

Tentu saja, mereka yang percaya kepada hal-hal supernatural mungkin akan berkata di situlah poin utamanya: fenomena supernatural menunjukkan bahwa asumsi-asumsi sains selama ini keliru (karena sain ortodoks menutup diri dari hal-hal yang sesungguhnya logis meskipun belum terbukti secara pengalaman sains itu sendiri). Meskipun (katakanlah) pernyataan para pembela parapsikologi benar, tetap saja mereka memerlukan bukti-bukti untuk menguatkan keyakinan mereka tentang Sang Supernatural. Namun apapun bukti yang ada untuk memperkuat fenomena supernatural, tetap saja bukti-buki tersebut mereka harapkan sesuai dengan aturan sains ortodoks.

Jika kita melihat peradaban saat ini yang berisikan teknologi modern dan teknologi informasi, maka jelas semuanya dibangun di atas teori-teori sains yang disebut “ortodoks” itu. Sebaliknya, tidak ada konsekuensi teknologis dari fenomena supernatural yang pernah tampak hingga saat ini walaupun keyakinan seperti itu telah ada sangat lama.

Meski banyak klaim atas kepercayaan terhadap hantu maupun roh yang dianggap juga saintifik dengan berbagai eksperimen, statistik, hingga teori, namun berapa banyak dari mereka yang percaya itu telah menginvestasikan dana mereka di dalam sebuah perusahaan yang mengeksploitasi kemampuan-kemampuan supernatural untuk hal-hal yang bersifat teknologis? Bukankah sesuatu yang manarik jika ada perusahaan telekomunikasi “berbasis-malaikat”? Jika memang tidak banyak yang berani menginvestasikan dananya untuk hal-hal yang supernatural, maka jangan-jangan Sang Supernatural itu sesungguhnya tidak ada? Itu hanya pertanyaan.

Barangakali pelajaran penting yang bisa diambil dari pertemuan kali ini adalah bahwa tulisan ini tidak hendak menyatakan bahwa Sang Supernatural itu tidak ada karena mungkin saja ada. Demikian pula kepercayaan kepada Sang Supernatural juga bukan berarti tidak benar karena adalah hak bagi siapapun untuk memercayai apapun yang dipercayainya. Dan terakhir, sains bukanlah segalanya sehingga sesuatu yant tidak saintifik pun perlu mendapatkan pengabsahan dari sains. Sesuatu yang tidak saintifik biarlah tidak saintifik tanpa harus menjadi saintifik hanya untuk mengatakannya benar.[]

(Artikel ini pernah dimuat di lamuide.wordpress.com)

[1] Dirangkai dari beberapa sumber sebagai bahan diskusi pada Kajian Islam Kaffah “Filsafat Hidup” yang diadakan oleh Nasaruddin Umar Office (NUO) pada Selasa, 18 Agustus 2020, jam 16.00-18.00 lewat aplikasi Zoom dan YouTube.

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut