https://nuansaislam.com/Sang Dunia Fisik

Di pertemuan sebelumnya kita sudah membahas tentang apa itu kenyataan dan kita sampai pada kesimpulan: a) kenyataan itu adalah segala yang bisa dijangkau oleh rasio, pengalaman, rasa, intuisi, imajinasi, emosi, dan sebagainya; b) kenyataan bisa berbentuk pengetahuan, perasaan, dan keyakinan; c) kenyataan bisa memiliki properti bendawi dan bisa pula tidak; d) ada yang mengatakan bahwa yang paling fundamental dari kenyataan hanya satu, ada yang mengatakan dua, dan ada yang mengatakan lebih dari dua; e)  ada yang mengatakan bahwa yang paling fundamental dari kenyataan bersifat material dan ada pula yang mengatakan besifat mental. Bahasan tentang ini bisa dibaca di https://lamuide.wordpress.com/2020/07/21/172/. Sekarang akan dibahas tentang dunia fisik.

Kita semua adalah makhluk fisik dan menempati dunia fisik. Bukankah demikian? Namun apa sesungguhnya dunia fisik itu? Terdiri dari apa dunia fisik itu? Apakah dunia fisik semata-mata terbuat dari hal-hal yang dapat kita lihat dan sentuh? Atau apakah juga termasuk hal-hal yang tidak dapat kita lihat dan sentuh? Atau apakah dunia fisik hanya yang bisa dijelaskan oleh sains? Atau apakah dunia fisik juga memasukkan hal-hal yang berada di luar nalar sains?

Pertanyaan-pertanyaan tentang dunia fisik ini adalah pertanyaan mendasar di dalam kehidupan karena kita mengalami dunia fisik ini di sepanjang hidup kita tanpa pernah terlepas sedetikpun darinya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kita bersentuhan dengan dunia fisik karena “terpaksa” dan “tak terelakkan” karena memang kita tidak memiliki pilihan untuk tidak bersentuhan dengannya. Pernahkan kita mencoba untuk melepaskan diri dari dunia fisik meski sesaat? Tidak perlu mencoba karena tidak mungkin itu terjadi.

Sebagai pijakan awal dalam memahami dunia fisik, kita bisa mengatakan bahwa dunia fisik adalah keseharian yang terdiri dari obyek-obyek fisik di sekitar kita. Atau dalam ukuran lebih ketat, menurut sains, dunia fisik adalah dunia sebagaimana dipahami oleh ilmu pengetahuan fisika. Menurut pemahaman kita sehari-hari, obyek-obyek fisik atau hal-hal fisik adalah obyek-obyek material, yaitu terbuat dari materi. Namun menurut ukuran sains yang lebih ketat, obyek-obyek fisik tidak mesti terbuat dari materi dalam bentuknya yang biasa. Medan listrik tidak terbuat dari materi, tidak juga terbuat dari gaya seperti gravitasi, namun semuanya adalah obyek-obyek fisik. Kedua pemahaman tentang tentang dunia fisik tadi berhubungan dengan dua doktrin filsafat berbeda, yaitu materialisme dan fisikisme.

Materialisme

Materialisme adalah doktrin bahwa segala sesuatu adalah material. Pandangan ini telah hadir sejak Yunani kuno dan memuncak pada abad ke-17. Pada waktu itu, para filosof materialis mendefinisikan materi sebagai: a) tidak terbagi; b) tidak tembus; c) tidak berubah kecuali karena berinteraksi; d) berinteraksi hanya dalam bentuk kontak dan secara deterministik. Namun secara bertahap fisika mulai menggerogoti konsepsi filosofis tentang materi. Ide Newton tentang gravitasi menghancurkan seluruh ide bahwa materi harus berada dalam kontak utuk berinteraksi, karena gravitasi bekerja antara dua materi yang terpisah jauh, misalnya antara bumi dan matahari.

Pada abad ke-20, fisika membangun teori tentang materi bahwa meteri tidak solid atau tidak tak terbagi (terdiri dari atom yang merupakan partikel terpisah yang bergetar di ruang hampa), tidak tak tembus (materi bisa ditembus oleh radiasi), tidak tak berubah (berubah menjadi energi), serta interaksinya tidak deterministik tetapi probabilistik. Penelitian terakhir bahkan menemukan bahwa entitas fundamental sebuah materi bisa bersifat ambigu. Misalnya, foton, konstituen cahaya, bisa dianggap partikel dan bisa pula dianggap gelombang.

Fisikisme

Dengan hadirnya berbagai penemuan terakhir tentang materi dan dengan runtuhnya pandangan lama para filosof materialisme oleh para fisikawan, maka seharusnya yang kini berdiri kokoh adalah fisikisme, yiatu sebuah pandangan bahwa segala yang ada pastilah bersifat fisik dalam ukuran sains yang ketat. Makanya, gaya dan medan dianggap sama dengan materi itu sendiri.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah semua dunia ini bersifat fisik? Beberapa pandangan mengatakan bahwa ada fenomena yang hadir di luar dunia natural: hantu, malaikat, roh, dan sebagainya. Tentu saja pandangan seperti ini lemah dalam hal pembuktian empiris. Ada pula pandangan yang mengatakan bahwa fenomena mental (pemikiran, perasaan, dan sebagainya) tidak bersifat fisik. 
Jika kita mengikuti penjelasan tentang hal-hal fisik di atas, maka sepertinya tidak mungkin fenomena mental itu bersifat fisik karena mereka tidak termasuk di dalam kategori fisika mapan saat ini. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa sesungguhnya keadaan pikiran dan keadaan mental bisa dibahasakan dengan bahasa fisik. Maksudnya, meskipun pikiran dan perasaan tidak bersifat fisik tetapi bisa dibahasakan secara fisik. Atau dengan kata lain, fenomena perasaan dan pikiran bisa dipahami lewat aktivitas fisik.
Jika ini benar, maka jangan-jangan semua yang ada ini adalah semata-mata fisik dan semua yang fisik itulah yang benar-benar ada? Kita akan terus mencari.[]

(Artikel ini pernah dimuat di lamuide.wordpress.com)

Comments

Leave A Comment

Harap Login Terlebih Dahulu Sebelum Comment

SigIn/SigOut